
Dua hari lagi aku akan menikah. Memang mendadak dan pastinya dengan berbagai persiapan yang serba terbatas. Itu semua permintaan Mbak Ayu dan Mas Ilham. Mereka datang ke sini sudah mantap untuk menikah. Tak banyak waktu yang dimiliki sebab masih banyak urusan yang harus diselesaikan.
Untuk segala keperluan, meskipun hanya akad dan syukuran sederhana, semuanya dibiayai oleh mas Ilham. Ia sudah memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan urusan surat-menyurat hingga dana untuk hidangan acara nantinya.
Kini, aku berada di sini, di depan pusara Bang Hasan, berdua dengan Yumna, putri tunggalku. Kedatangan kami bukan hanya sekedar untuk menziarahi, tapi juga ingin memberitahukan padanya tentang rencana pernikahanku.
"Semua memang serba mendadak, Bang. Maafkan aku. Maaf jika akhirnya aku harus menikah lagi. Tapi ... Abang percayakan, di hatiku, Abang tetap lelaki yang sangat kucintai." ucapku, dengan suara lirih sembari mengusap batu nisannya, seolah tengah membelai lembut kepala bang Hasan. Hal yang biasa aku lakukan saat ia melepas lelah usai pulang bekerja.
Tak terasa, bulir bening itu mengalir di kedua pipiku. Isak tangispun mulai terdengar. Yumna yang baru berusia lima tahun langsung melirik ke arahku. Ia memegang erat tangan kananku.
"Umi kangen Abi, ya?" tanya Yumna.
Aku mengangguk.
"InsyaAllah Abi sudah baik-baik saja di sana. Umi yang sabar ya. Kalau umi kangen kan bisa peluk Yumna. Umi kan selalu bilang kalau Yumna mirip sama Abi." celoteh Yumna.
"Iya. Yumna mirip sekali dengan Abi. Tapi, Yumna juga harus biru sifat Abi ya. Abi itu baik sekali, sayang sama Umi dan selalu baik sama orang lain. Yumna juga harus begitu ya. Jadi anak saliha agar Abi bangga sama Na."
"Ya Mi, Na akan jadi anak baik supaya Abi bangga sama Na!"
Putri tunggalku itu kembali sibuk bermain dengan bebatuan di atas pusara ayahnya setelah ia menghapus bulir bening yang sempat mengalir
__ADS_1
Ya Allah ... tak pernah ku bayangkan akan berakhir seperti ini. Entah ini akhirnya atau baru permulaan. Enam tahun lalu, hidup ini terasa begitu bahagia saat lelaki yang ku cintai dalam diam akhirnya datang ke rumah untuk mempersunting.
Pernikahan kami tergolong dini, sebab saat itu usiaku baru menginjak tujuh belas tahun. Sementara bang Hasan dua puluh tahun. Ia memberanikan diri menghadap pada Ayah sebab tak ingin didahului oleh orang lain. Saat itu posisiku, meski tak lulus sekolah dasar namun banyak yang mendekati. Ibarat bunga, tengah bersemi indah sehingga dikelilingi oleh kumbang. Namun kumbang yang beruntung itu adalah bang Hasan.
Sebenarnya, bagiku, bukan bang Hasan yang beruntung, tapi akulah yang beruntung bisa jadi istrinya. Gadis mana di kampung ini yang tak kenal beliau. Selain tampan dan salih, ia juga terkenal cerdas..sayangnya, kondisi perekonomian keluarga bang Hasan tak jauh beda denganku, ia yang sudah jadi yatim sejak masih balita harus rela hanya bisa menyelesaikan pendidikan sejenjang SMA di pondok pesantren. Itupun dengan biaya gratis sebab ia ngabdi pada pak Kyai.
Namun begitu, bang Hasan sendiri pernah dilamar oleh pak kyai langsung untuk dijadikan mantu, bahkan ia diiming-imingi melanjutkan pendidikan ke Cairo jika sudah menikah dengan putri kyai. Tapi bang Hasan menolak sebab hatinya pun sudah lama terpaut padaku.
Perjalanan rumah tangga kami, meski tak selalu mulus karena masalah ekonomi, tapi tak pernah sekalipun tidak kami syukuri. Hari-hari bersama Bang Hasan adalah hari paling bahagia untukku. Apalagi setelah kehadiran Yumna di tahun pertama pernikahan.
Kebahagiaan itu semakin bertambah-tambah. Sayangnya, kebahagiaan itu tak kekal, jodoh kami berakhir di usia pernikahan menuju enam tahun. Bang Hasan mengalami kecelakaan. Tabrak lari. Ia meninggal di tempat. Sejak saat itu rasanya duniaku runtuh. Aku kehilangan lelaki yang amat ku cintai. Selama dua bulan pertama, aku tak pernah keluar kamar, selalu mengurung diri dengan rasa putus asa.
"Ahhh, kenapa bisa lupa!" aku mendengus kesal, teringat wajah tua emak yang selama lima tahun lebih bersama bang Hasan ikut menemaniku. Ya, selama menjadi istri Bang Hasan, aku tinggal di gubuk milik mertuaku. Mengabdikan diri sebagai istri dan juga menantu.
Akan melewati momen baru dalam hidup, harusnya aku mengabari emak. Bagaimanapun ia adalah ibuku juga. Meskipun putranya telah tiada, namun hubungan menantu dan mertua tak akan pernah hilang.
"Setelah ini kita mampir ke rumah emak dulu ya, baru pulang." kataku pada Yumna. Ia mengangguk gembira.
"Na juga kangen emak. Sudah lama nggak ke sana." timpal Yumna.
Aku tersenyum kecut. Menyesal sempat Alfa beberapa pekan ke rumah emak, padahal biasanya setiap pekan kami main ke sana. Sekedar melihat kondisi emak atau kadang nginap kalau sedang kangen berat pada bang Hasan.
__ADS_1
Di rumah emak, beliau hanya tinggal sendiri sebab satu-satunya putra emak hanya bang Hasan. Itulah kenapa emak amat sedih saat aku memutuskan kembali tinggal di rumah ayah dan ibu setelah kematian bang Hasan. Tapi aku melakukan itu semua karena belum bisa move on dari Bang Hasan. Berada di tempat yang penuh kenangan tentangnya hanya akan menambah siksaan karena rindu di hatiku.
***
"Mila ... Yumna!" emak tersenyum lebar saat melihat kami berada di depan pintu gubuknya. "Ya Allah, kemana saja kalian berdua? Kenapa sudah dua pekan ini tak pernah datang berkunjung? Emak benar-benar rindu. Kalau saja kakiku tidak sakit karena asam urat, sudah emak datangi rumah kalian untuk berkunjung!" ungkap emak dengan nada merajuk. "Kalian sehat-sehat saja, kan?" Emak menepuk pundak ku pelan, lalu beralih memeluk Yumna, cucu tunggalnya.
"Alhamdulillah sehat, Mak. Maafkan kami baru bisa datang sekarang. Kaki emak sakit lagi?" tanyaku, sambil memapah emak masuk ke dalam gubuknya. "Kok bisa sakit lagi? Emak makan apa? Pasti ada pantangannya yang dimakan ya?" tanyaku.
"Iya, dua hari lalu emak makan jeroan dan gulai kambing cukup banyak di pesta nikahan si Nike, anak pak haji." emak mengaku.
"Astagfirullah, emak ... emak. Kalau bang Hasan masih hidup, bisa marah sama emak." kataku.
"Ya mau bagaimana lagi. Emak pengen. Terus dikasih banyak, sekalian emak makan saja."
"Mak, jangan begitu. Emak tahu kan, kalau emak makan pantangannya, sakit emak bisa kambuh. Emak mau membuat Mila dan Yumna sedih?"
"Mil, kamu itu sudah seperti Hasan saja sekalrang. Apa-apa dilarang. Padahal dulu, saat Hasan masih hidup, kamu yang selalu belain emak kalau Hasan marah sebab emak makan pantangannya yang bisa membuat sakit emak kambuh."
"Mila takut terjadi sesuatu sama emak."
"Takut kenapa? Emak nggak apa-apa. Toh, emak juga sudah berobat ke puskesmas. Kata dokternya, emak nggak apa-apa. Palingan dua hari ini nyerinya bakalan hilang. Lagipula kalau emak kenapa-kenapa kan ada kamu dan Yumna yang bisa emak mintai tolong untuk menjaga dan merawat emak."emak terkekeh, "atau jangan-jangan kamu sudah tidak mau direpotkan lagi untuk menjaga emak?"
__ADS_1