MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
TERNYATA HANYA SANDIWARA


__ADS_3

"Mila, kamu sedang apa?" tiba-tiba mbak Ayu buru-buru turun dari tangga saat melihatku membawa nampan berisi menu untuk sarapan pagi ini. "Kamu kan sedang hamil, usia kandungannya juga pasti masih baru, sebaiknya jangan mengangkat yang berat-berat. Kamu duduk saja di meja makan, aku akan suruh mbok Asih mengerjakan semuanya." Kata mbak Ayu.


"Jangan mbak, biar saya saja. Kasihan mbok Asih, sejak kemarin tidak enak badan, sekarang mbok Asih lagi istirahat, jadi biar saya yang mengerjakan semuanya." kwtwju.


"Oh, mbok Asih lagi sakit. Kenapa nggak bilang sama aku? Kalau tahu gitu kan aku bisa Carikan pembantu tambahan. Tapi ya sudahlah, kalau begitu biar aku yang melakukan semua ini." kini, nampan berpindah ke tangan mbak Ayu.


"Eh, mbak mau apa? Saya saja mbak


" kataku.


"Enggak Mil, biar aku. Kamu kan lagi hamil. Kita belum tahu bagaimana kondisi kandungan kamu." ujar mbak Ayu. Ia tetap memaksa membawa semuanya.


Setelah semua di letakkan di atas meja besar, ia mendorong pelan punggungku agar tak lagi berdiri mematung di tempat awal. Agar aku segera duduk di meja makan.


Aku memang masih bingung dengan sikap mbak Ayu barusan. Ia tiba-tiba berubah perhatian. Harapanku, semoga ini untuk selamanya. Mungkin ia benar-benar sudah menyesali semua kesalahannya, seperti yang dikatakan mbak Ayu pada mas Ilham semalam.


"Tapi mbak ...." aku masih merasa sungkan, bagaimana mungkin aku bisa duduk-duduk manis sementara yang punya rumah malah sibuk bekerja. "Saya nggak apa-apa kok mbak. Lagipula ini bukan kehamilan pertama, sebelumnya saya juga tetap beraktivitas meski sedang hamil."


"Tapi ini anak pertama mas Ilham dari kamu. Tenang saja, aku akan menyelesaikan semuanya," ia mengacungkan ibu jari. "Memang aku tak pernah mengerjakan semua ini, tapi aku pasti bisa melakukannya. Hitung-hitung belajar. Lagipula ada mbok Asih tempat bertanya. Ia akan mengajarkan aku. Ya kan mbok?" Mbak Ayu beralih pada mbok Asih.

__ADS_1


Apa yang kami berdua perbincangan itu ternyata di saksikan oleh mas Ilham yang memperhatikan dari atas tangga. Ia tersenyum saat kedua netraku beradu pandang dengannya.


"Istirahatlah yang banyak. Sejak kemarin kamu lemas, kan? Nanti sore kita ke dokter untuk memastikan semuanya baik-baik saja." kata mas Ilham.


"O, itu. Bagaimana kalau aku yang menemani Mila ke dokternya, mas? Hari ini kan jadwalnya mas cukup padat. Masih ada banyak persiapan menjelang pemilihan ketua yayasan baru. Ya, kan?" timpal mbak Ayu. "Tapi ... Itupun kalau mas mengizinkan dan Mila bersedia. Kalau nggak juga nggak apa-apa."


"Nggak apa-apa kok mbak. Saya senang sekali kalau mbak mau menemani, dari pada mengganggu jadwal mas Ilham. Saya pergi dengan mbak Ayu saja." Kataku.


"Benar Mil?" tanya mbak Ayu..matanya terlihat berbinar-binar, menandakan ia begitu senang. Apalagi saat aku menganggukkan kepala. "Bagaimana, mas? Boleh tidak aku yang mengantarkan Mila? Ya hitung-hitung kami memperbaiki kembali hubungan kami sebagai istri mas. Barangkali dengan membantu Mila, aku bisa menebus kesalahanku yang sudah terlalu banyak."


"Enggak kok mbak, yang lalu biarlah berlalu.saya sudah melupakannya. Sekarang yang terpenting kita sudah sama-sama baik dan kedepannya semakin baik. Kalau enggak merepotkan mbak Ayu, saya bersedia kok." kataku. "Ya mas, saya sama mbak Ayu saja." kataku.


***


"Kamu dengar kan, Mil. Usia kandunganmu masih sangat muda. Tapi InshaAllah bayinya kuat. Meski begitu kami harus tetap menjaganya dengan baik. Kita nggak boleh mengecewakan mas Ilham, ia pasti senang sekali karena sebentar lagi akan punya anak lagi." mbak Ayu mengelus perutku, kami berjalan beriringan keluar dari ruang dokter menuju parkiran klinik. "Oh ya, kalau kamu ngidam sesuatu, katakan padaku ya." pinta mbak Ayu. "Aku akan berusaha untuk mencarikan, jangan ke mas Ilham. Mas Ilham itu sedang sibuk-sibuknya. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan olehnya agar bisa terpilih nantinya sebab lawannya mas Ilham adalah orang-orang yang punya powes cukup besar."


Aku hanya mengangguk-angguk. Mengiyakan kata-kata mbak Ayu meski sebenarnya aku tak terlalu paham apa yang dijelaskannya tentang yayasan dan pencalonan mas Ilham. Tapi aku sepakat dengan mbak Ayu, sebagai istri akan mendukung apapun yang dilakukan mas Ilham, selagi itu positif.


***

__ADS_1


Sudah sepekan sejak kami bertiga sama-sama berdamai, sikap mbak Ayu tetap baik padaku. Ia benar-benar berubah. Mbak Ayu sering membantuku, ia selalu siaga mengingatkan aku agar makan vitamin untuk menjaga kehamilanku.


Kedekatan antara kami benar-benar membuatku nyaman, meski kami pernah saling berselisih paham. Kini bagiku, mbak Ayu sudah seperti kakak sendiri. Ia benar-benar banyak membantuku ditengah kesibukannya mengurus pekerjaannya.


Sayangnya, perasaan bahagia itu tak bertahan lama ketika tanpa sengaja aku menguping pembicaraan mbak Ayu dengan teman-temannya.


"Aku hanya menginginkan anaknya saja. Setelah bayi itu lahir maka aku akan kembali berusaha mengusir perempuan itu. Bagaimanapun juga, tak boleh ada perempuan lain yang dicintai oleh mas Ilham. Hanya aku seorang!" ungkap mbak Ayu.


"Tapi kenapa harus membiarkan bayi itu lahir, Yu?" tanya temannya.


"Karena mas Ilham sangat menginginkan anak itu. Mas Ilham terlihat bahagia dengan kehadiran bayi itu. Saat ini aku tak bisa lagi memberinya keturunan, karena itu aku akan membiarkan Mila melahirkan anaknya.. setelah itu maka hubungan mereka harus berakhir!" tegas mbak Ayu.


Jadi semuanya hanyalah sandiwara? Badanku langsung lemas mendengarnya. Semua kebaikan mbak Ayu ternyata tak benar-benar dari hatinya. Ia tidak tulus menerimaku. Ia hanya menginginkan bayi yang aku kandung.


Sekarang aku harus bagaimana? Perlahan aku menjauh, berlalu menuju kamar. Rasanya hati ini begitu hancur. Lagi-lagi bayangan bisa segera berkumpul dengan Yumna sirna. Di dekat pintu kamar, Hana menatapku. Kali ini aku mengabaikannya, tak ingin lagi berusaha bersikap manis agar ia bisa menerimaku karena semuanya sudah terasa percuma sebab ibunya ternyata tak benar-benar bisa menerimaku.


"Tante!" Panggil Hana.


"Maaf Hana, Tante sedang tidak ingin berdebat. Tante mau istirahat di kamar dulu." kataku, sembari menutup pintu rapat-rapat.

__ADS_1


Kenapa rasanya begitu berat untuk menjalani ini semua. Aku tak meminta banyak, hanya meminta diterima agar aku bisa kembali berkumpul dengan putriku. Rasanya sudah tak sanggup memendam rindu. Juga takut hati putriku semakin hancur sebab sekarang ia mengira aku tak lagi menyayanginya sebab tak kunjung menjemputnya.


__ADS_2