
Rasanya sudah cukup lama kami sujud. Perutku sudah kencang, pertanda tidak nyaman dengan posisi ini. Tapi belum juga terdengar suara emak yang bertindak sebagai imam untuk mengakhiri sujud ini. Aku berpikir mungkin emak sedang berdoa. Doa yang teramat panjang dan khusyuk sehingga lama bangkit.
Ku putuskan untuk segera bangkit dari sujud sebelum perut ini kram. Aku tak mau mencari gara-gara, sebab di kampung kami hanya ada satu dokter kandungan. Itupun tidak setiap hari praktek sebab ia juga membuka praktek di salah satu rumah sakit yang ada di kota.
Usai salam, aku melirik emak yang masih sujud. Sementara Yumna ternyata juga mengikuti aku. Ia juga sudah selesai mengerjakan salat Subuh. Tak ingin mengganggu emak, kami berdua lanjut berdoa. Tapi emak belum juga bangkit-bangkit sehingga membuatku khawatir. Apa iya emak ketiduran? Suatu hal yang rasanya mustahil mengingat emak kalau salat memang selalu khusyuk.
"Mak, emak. Emak ketiduran kah? Mak?" tiba-tiba Yumna maju, ia mengguncang pelan tangan emak. Tak lama emak langsung tersungkur ke sajadah.
"Emak!" Kami berteriak secara bersamaan. Aku segera mendekati emak, membalikkan badannya yang sudah ringkih hingga tampaklah kedua mata emak terpejam dengan bibir menyunggingkan senyum.
Apa emak tidur? Aku ikut mengguncang tubuh emak. Awalnya pelan, namun ku keraskan agar emak mendengar. Tapi tak ada jawaban. Pikiranku mulai kalut, dengan tangan gemetaran, aku memeriksa nadi dan nafas emak. Tak ada detak jantung ataupun nafas yang berhembus.
"Astagfirullah ... Astagfirullah ... Astagfirullah." dengan tubuh gemetaran, aku memberikan instruksi pada Yumna untuk memanggil tetangga sebelah yang masih ada hubungan kerabat dengan emak.
"Na, cepat cari bantuan untuk emak. Tolong panggil siapa saja agar membantu Umi memeriksa kondisi emak!" Kataku.
Yumna pun berlari ke luar. Tak butuh waktu lama, Yumna sudah kembali dengan beberapa orang..ada yang langsung memeriksa kembali emak, ada juga yang memanggil tenaga medis untuk memastikan kondisi emak.
"Emak sudah tidak ada." Kata perawat senior yang bekerja di puskesmas.
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Semua yang hadir di rumah emak serentak mengucapkan doa untuk emak. Semua yang hidup akan kembali pada pemiliknya. Aku langsung ambruk. Tak sadarkan diri. Tidak menyangka, inilah akhir perjumpaan ku dengan emak.
***
__ADS_1
Entah sudah jam berapa ini. Yang jelas, dari luar terdengar suara orang cukup ramai, ada yang mengaji, ada juga yang sekedar bercakap-cakap. Sementara aku masih berada di kamar emak, sendirian.
"Mila, kamu sudah bangun?" tiba-tiba uni Siti masuk ke kamar. Rupanya ia pun sudah berada di sini.
"Uni ... emak mana?" tanyaku, sambil berusaha bangkit, namun badan masih terasa lemah setelah tadi pingsan.
"Mila, jangan langsung bangkit. Pelan-pelan. Kamu sedang hamil, kondisinya semakin lemah. Jadi harus banyak istirahat."
"Emak bagaimana, ni?" tanyaku, tak sabaran ingin tahu bagaimana kabar emak. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Emak sudang dimandikan oleh ibu dan ibu-ibu pengajian lainnya. Sementara ayah dan saudara-saudara emak sedang mempersiapkan proses pemakaman yang rencananya akan dilaksanakan nanti ba'da Zuhur." jelas uni Siti.
"Ya Allah ...." aku menghempaskan pelan tubuh ke senderan tempat tidur. Terbayang bagaimana semalam, saat kami datang, emak begitu bahagia. Semua sudah dipersiapkan oleh emak, termasuk memasak makanan yang sering kami makan saat lebaran. Emak juga memaksa kami untuk mau menginap. Emak menyempatkan diri untuk berkisah pada Yumna dan terakhir, emak menasihati aku agar tidak bimbang lagu. Ternyata itu semua adalah sebuah pertanda kalau emak akan pergi untuk selamanya. Setelah ini, kami gak akan bisa lagi memakan masakan emak, Yumna pun gak akan bisa mendengar cerita yang langsung diceritakan neneknya. "Kenapa emak bisa pergi? Maksud ku, apa emak sedang sakit? atau ... Emak kenapa ... tiba-tiba begini?"
"Untunglah kamu nginap di rumah emak semalam ya Mil, kalau enggak, emak pasti akan pergi dala. Kondisi sendirian." kata Uni Siti.
Ya Allah ... Apa yang dikatakan uni Siti benar. Kalau kami tak datang dan menginao, maka emak akan meninggal sendirian, tanpa ada yang tahu kepergiannya. Sama seperti ketika bang Hasan meninggal dunia. Aku langsung menangis, mengingat kenangan bersama mertua pertamaku. Mertua yang begitu baik, sangat sayang padaku seperti ia menyayangi anak kandungnya.
***
Makam emak berada tepat di samping makam bang Hasan. Proses pemakamannya dilaksanakan ba'da Zuhur. Cukup banyak yang datang mengantarkan emak ke tempat peristirahatan terakhir.
"Abang ... kini emak sudah menyusul Abang. Tak akan ada lagi yang bisa mendengar ceritaku dengan sangat sabar. Sekarang emak tak akan kesepian lagi. Maafkan aku ya, bang. Selama ini kurang berbakti pada emak. Aku membiarkan emak sendiri, padahal dulu Abang selalu bilang agar aku menghabiskan waktu lebih banyak bersama emak, terutama Yumna sebab emak tak punya keluarga lain selain Abang. Hanya keluarga jauh yang tak terlalu peduli padanya." aku mengusap pelan nisan bang Hasan dan emak secara bersamaan. Seperti tengah menggenggam tangan mereka berdua.
__ADS_1
Usai pemakaman emak. Kami mengadakan acara pengajian sembari menjamu tamu-tamu yang datang berziarah.
"Mil, setelah ini siapa yang akan menempati rumah emak?" tiba-tiba salah seorang keluarga jauh emak berbisik padaku, setelah aku membaca surat Yasin.
"Hah, maksudnya rumah ini Tek? (panggilan untuk saudara ibu yang lebih muda)" tanyaku.
"Iya, rumah ini. Kan lumayan, baru juga di rehab meski belum selesai secara penuh." katanya.
"Oh, itu ... kalau soal rumah ini saya belum tahu Tek,"
"O, Etek kira akan kamu jual, mengingat sekarang kamu tinggal di Jakarta, kan? Tapi kok bisa Mil, tiba-tiba kamu nginap di rumah emak dan emak meninggal dunia?"
Pertanyaan itu ku anggap pertanyaan biasa tanpa berpikir ada maksud untuk julid sebab sekarang aku sedang berduka.
"Ya Tek, kebetulan kemarin kami berkunjung ke sini, terus emak ngajak nginap. Makanya kami nginap di rumah emak."
"O ... kebetulan sekali ya." perempuan paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pembicaraan kami terhenti ketika tiba-tiba ibu menghampiri sembari memberikan Hp yang dipegangnya. Katanya telepon dari bang Ilham.
Rupanya bang Ilham sudah mendengar berita tentang kepergian emak. Entah siapa yang memberitahukan, aku tak berniat bertanya. Aku hanya menebak kalau Uni Dewi yang memberi informasi, mengintai mas Ilham dan mbak Ayu hanya berkomunikasi dengannya.
[Saya ikut berduka cita Mil, atas kepergian neneknya Yumna. Saya berdoa semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.] Kata mas Ilham.
__ADS_1
[InshaAllah orang baik memang akan mendapatkan tempat terbaik. Beda dengan orang yang banyak dosanya!] kataku, dengan nada ketus sebagai penutup pembicaraan kami.