MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
BERTENGKAR


__ADS_3

Rasanya lega saat mendengar pernyataan mas Ilham. Ia mempercayai ku, tanpa aku harus mengatakan apapun padanya. Entah bagaimana jadinya jika ia termakan kata-kata mbak Ayu, ditambah kesaksian palsu Hana. Mungkin, tuduhan itu bisa menghancurkan rumah tangga kami.


"Jadi ... mas benar-benar nggak mau mendengarkan aku? Mas juga nggak percaya dengan kesaksian Hana? Mas, tega menuduh aku dan Hana berbohong hanya karena perempuan ini? Oh tidak. Aku benar-benar tidak menyangka, sehebat apa perempuan ini hingga bisa mempengaruhi mas? Ternyata memang benar, aku sudah salah menilainya. Di balik wajah polosnya, ternyata ia tak ubah perempuan penghancur rumah tangga orang lain!" teriak mbak Ayu.


Lagi-lagi mbak Tau histeris, ia bahkan mulai mengeluarkan makian yang menyakitkan hati hingga sumpah serapah yang ditujukan padaku.


"Sudah. Cukup, Yu! Sudahi segala ucapanmu itu. Sebaiknya kamu banyak-banyak istigfar. Jangan ditambah lagi dosamu. Minta maaflah pada Mila." perintah mas Ilham.


"Minta maaf? Untuk apa, mas? Ia yang salah. Perempuan ini, sudah menghancurkan rumah tangga kita. Dia tega merebut mas dari kamu. Lalu sekarang mas menuntut permohonan maafku padanya? Jangan mimpi!" timpal mbak Ayu.


"Baik kalau kamu tetap tidak mau, maka terpaksa saya bersikap tegas padamu Yu. Saya dan Mila akan meninggalkan rumah ini. Untuk sementara waktu kita berpisah dulu hingga kamu bisa merenungi kesalahan kamu. Saya akan menelepon Tante Sila untuk menemani kami dan anak-anak di sini!" tegas mas Ilham lagi. Ia memberikan isyarat agar aku mengikutinya.


"Mas mau kemana? Mas mau meninggalkan aku dan anak-anak? Ya Tuhan, kenapa mas Setega itu padaku? Mas tak perlu memberitahu Tante Sila, aku nggak mau berurusan dengannya. Biarkan aku di sini. Dan tolong mas jangan pergi. Kalaupun ada yang harus pergi dari rumah ini, itu hanya Mila sendiri!"


"Ayu!"


"Mas, tolong ingat baik-baik, kita punya anak-anak,"

__ADS_1


"Kalau kamu ingat anak-anak harusnya kamu nggak bersikap seperti ini. Harusnya kamu menyudahi semua drama yang kamu buat sendiri.. ingat, sudah berapa kali kita membuat perjanjian dan kamu selalu melanggarnya dengan alasan kesehatan mental kamu padahal kamu yang mencari masalah sendiri."


"Aku ... aku benar-benar sakit," mbak Ayu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia menangis, menggugu, berharap belas kasih dari mas Ilham. Tetapi lelaki itu tidak mau menatapnya sedikitpun sehingga dari kedua mata mbak Ayu tampak kebencian yang makin dalam kepadaku yang dianggapnya sudah merusak rumah tangga mereka.


"Kamu yang meminta ini semua, sekarang kamu yang harus tanggung resikonya, Yu!" tegas mas Ilham. "Sekarang, ayo kita pergi Mil." Ajak mas Ilham.


"Enggak mas, jangan pergi. Aku mohon!" pintanya, sambil meraih kaki mas Ilham, menahannya sebisa mungkin agar lelaki itu tak melangkah pergi.


"Sudahlah, jangan halangi saya lagi karena keputusan saya sudah bulat, Mila harus tinggal di tempat lain!"


Mas Ilham menarik pekan tanganku, mengajak agar aku ikut dengannya. Namun langkahku terhenti karena kini mbak Ayu beralih padaku. Ia meraih kakiku, memohon agar aku menolak ajakan mas Ilham.


"Mila, tolong jangan pergi dari sini. Aku tau aku bersalah . Aku sudah menuduh kamu yang bukan-bukan. Maafkan aku Mil. Tolong jangan pergi, tetaplah tinggal di sini!" pinta mbak Ayu. "Mila ... hanya kamu yang bisa menyelamatkan rumah tangga ku dan mas Ilham. Apa kamu nggak kasihan pada anak-anakku. Mereka akan kehilangan sosok ayahnya. Tolong jangan tega terhadap kami."


Sebagai seorang perempuan yang juga memiliki anak, mendengar mbak Ayu memelas seperti itu, apalagi ia sampai memohon padaku, hingga aku benar-benar tidak tega melihatnya.


"Mas, sudahlah." pintaku, pada mas Ilham. "Kita bicarakan semuanya baik-baik. Saya datang ke sini dengan tujuan baik, jangan sampai keberadaan saya justru membuat semuanya jadi berantakan. Demi Allah, saya akan merasa sangat bersalah karenanya."

__ADS_1


"Kamu dengar itu kan, Yu? Orang yang selalu kamu prasangkai buruk, justru adalah orang yang selalu memikirkan kebaikan untuk kamu. Sejak awal, sebenarnya saya sudah mau menyerah..ada ataupun tidaknya Mila dalam rumah tangga kita. Kamu tidak lupa kan, berapa kali saya menyatakannya. Bahwa saya tidak suka dengan sikap kamu yang selalu over pada saya, tapi kamu tetap melakukannya hingga yang paling fatal kamu menuduh seorang perempuan yang baik-baik melakukan zina dan kamu berani melibatkan putri kamu sendiri untuk ikut mendukung kebohongan kamu. Itu sudah sangat fatal, Yu!" tampak betul kekecewaan yang begitu besar di wajah mas Ilham.


"Iya, aku tahu, mas. Aku benar-benar menyesal. Sekarang aku menyadari kesalahanku. Sungguh, mas. Tolong beri kesempatan padaku lagi untuk menebus semua kesalahanku, terutama pada Mila." pinta mbak Ayu.


"Sayangnya sudah tak ada kesempatan lagi, Yu. Kita sudah bicarakan ini dan kamu sudah berjanji tak akan mengulangi lagi." tegas mas Ilham.


"Mas .... tolonglah. Jangan buat aku berada dalam penyesalan. Setidaknya kasihanilah aku." mbak Ayu terus memelas. "Mila, tolonglah. Aku janji akan berusaha berubah, Mil. Aku akan menerima semuanya bahwa kamu adalah adik maduku."


"Mas," aku melirik mas Ilham, memintanya untuk memberi kesempatan pada mbak Ayu.


"Enggak Mil, sudah terlalu sering. Bagaimana kamu bisa percaya pada Ayu lagu setelah semua yang ia lakukan." mas Ilham menggeleng tegas.


"Mas," aku menarik mas Ilham keluar dari kamar, memintanya sedikit waktu untuk berbicara sebelum benar-benar keluar dari rumah ini. "Sebenarnya saya pun ingin keluar dari rumah ibu karena menurut saya memang tidak baik tinggal satu atap dengan madu sendiri sebab rasa cemburu itu pasti ada. Tapi mas, saya juga tidak setuju jika harus keluar dalam keadaan seperti ini. Saya ingin mempunyai hubungan baik dengan mbak Ayu. Saya nggak akan memaksa mas untuk memberi mbak Ayu kesempatan lagi, tapi tengoklah anak-anak, bagaimanapun mereka tetap butuh mas. Mbak Ayu sendiri juga kita tahu bagaimana kondisi kejiwaannya. Ia butuh bimbingan mas. Kalau dilepaskan begitu saja, saya khawatir ia akan nekat atau melakukan hal-hal terlarang yang membahayakan dirinya sendiri atau anak-anak. Apalagi ada Ibed yang masih bergantung pada mbak Ayu. Tolong pikirkan lagi, mas."


"Mil ... saya benar-benar bingung." mas Ilham menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Mas sabar ya, saya janji akan selalu mensupport mas. Lagipula tak baik mengambil keputusan dalam keadaan marah." aku menyemangati mas Ilham agar mau menerima mbak Ayu kembali. Setidaknya demi anak-anak.

__ADS_1


__ADS_2