
Dari dalam kamar mas Ilham terdengar suara percakapan mereka. Aku masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Tak berani masuk, tapi juga belum ada keinginan untuk berlalu hingga sulung mas Ilham keluar. Ia agak kaget saat melihat keberadaan ku. Mungkin ia merasa aku terlalu lancang.
"Aku nggak akan biarkan Umi dan Abi berpisah!" katanya, meski dengan suara setengah berbisik namun terdengar jelas di telingaku. Remaja yang sekarang duduk di bangku akhir SMP itu menatapku tajam. "Kenapa harus mengganggu keluarga kami?" kini suaranya lebih keras dari sebelumnya.
"Kamu nggak ngerti apa-apa, Bal." kataku. Mencoba tenang meski sebenarnya aku sendiri merasa takut menghadapi anak ini. Entah kenapa, ia yang meski hanya menatapku saja bisa langsung membuatku tak nyaman. Ada kebencian yang begitu mendalam terlihat dari sepasang netranya.
"Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu perempuan seperti kamu itu tipe perempuan seperti apa!" ia masih menatapku tajam.
Ya Allah, bagaimana caranya menjelaskan pada anak ini. Aku tak pernah bermaksud jahat pada keluarga ini. Saat ini, untuk mundur juga rasanya tak mungkin sebab ada bayi dalam kandunganku. Anak ini adalah anaknya mas Ilham, ia juga berhak mendapatkan kasih sayang yang sama seperti kakak-kakaknya yang lain.
"Mila ... kamu di sana?" tiba-tiba dari dalam kamar, mas Ilham memanggilku. "Kemarilah!" serunya.
Aku melangkah masuk, mungkin hanya ini pilihan agar terhindar dari tatapan mengintimidasi yang dilakukan oleh Iqbal.
"Yu, katanya mau ngomong. Kenapa?" mas Ilham beralih pada mbak Ayu, saat melihatku sudah masuk ke dalam kamar mereka.
"Ini .... Aku," mbak Ayu tampak ragu-ragu. "Aku dan Mila baru berkelahi." jawabnya.
"Makanya kamu sakit lagi?" tanya mas Ilham. "Anak-anak, boleh kalian keluar dulu? Abi mau bicara sama Umi Ayu dan Umi Mila." Pinta mas Ilham. Ia memberikan waktu beberapa saat hingga anak-anak keluar, termasuk Ibed yang digendong oleh Hana. "Ceritakanlah." pinta mas Ilham, setelah di kamar hanya tinggal kami bertiga.
"Mila ... dia hamil," kata mbak Ayu.
__ADS_1
"Hamil? Benar, Mil?" mas Ilham beralih padaku.
Pernyataan mbak Ayu membuatku agak kaget, tadi ia yang mengatakan agar tak memberitahu mas Ilham, tapi kenapa sekarang ia yang memberitahukan terlebih dahulu?
"Mil, benarkah?" Mas Ilham menatapku dengan tak sabaran.
"Ya mas. Mila hamil anak laki-laki lain!" tegas mas Ilham.
"Astaghfirullah," serentak aku dan mas Ilham mengucap istighfar.
"Yu, kamu bicara apa?" mas Ilham langsung menatap tajam mbak Ayu.
"Aku bicara sesungguhnya mas. Mila hamil anak laki-laki lain. Anaknya Farid." jawabnya.
"Ayu!" mas Ilham membentak mbak Ayu. "Jangan sembarangan nuduh ya. Kamu tahu bagaimana hukumnya menuduh perempuan baik-baik melakukan zina. Lagipula memangnya atas dasar apa kamu menuduh Mila berzina? Kamu tahu kan, saya dan Mila sudah menikah. Kalau Mila hamil, itu pastilah anak saya, bukan anak laki-laki lain."
"Enggak mas. Itu nggak benar. Mila hamil anaknya Farid, aku berani bersumpah bahwa apa yang aku katakan itu benar. Mas harus percaya padaku sebab aku punya bukti yang kuat." kata mas Ilham.
Kepalaku mendadak pusing mendengar tuduhan itu. Atas dasar apa mbak Ayu menuduhku seperti itu? Apalagi dengan Farid. Sudah jelas-jelas ini adalah anaknya mas Ilham karena ia satu-satunya laki-laki yang menyentuhku.
"Ayu ... saya ingatkan kamu untuk menarik kembali ucapan kamu. Minta maaf pada Mila. Kamu tahu untuk mengatakan orang lain berzina itu juga harus disertai bukti-bukti. Kamu tidak bisa sembarang bicara seperti itu." tegas mas Ilham.
__ADS_1
"Nggak mas, aku yakin bahwa itu adalah anaknya Farid. Aku punya saksi dan bukti." Mbak Ayu masih kekeh dengan pernyataannya. Ia bahkan sampai bersumpah-sumpah dan membawa Hana sebagai saksi dari tuduhannya. "Hana sendiri yang mengatakan bahwa ia melihat Mila masuk ke kamar Farid ketika malam hari. Ia melihatnya beberapa kali saat kita semua susah terlelap." ungkap mbak Ayu.
Ya Allah, kenapa harus membawa-bawa Hana segala. Aku tak tahu lagi bagaimana ujung dari masalah ini karena kini tak hanya antara kami bertiga, tapi ia juga membawa serta anaknya.
Kini, mas Ilham memanggil Hana. Ia meminta kesaksian putrinya dan hal yang aku takutkan pun terjadi. Anak kelas enam SD itu bersaksi dengan lancarnya bahwa ia melihatku mengendap-endap masuk ke kamar Farid. Tak hanya satu kali, tapi beberapa kali. Hana juga menyebutkan hari hingga jam ia melihatku.
Badanku serasa lemas. Aku yang semula berdiri mematung mendengar tuduhan dan kesaksian mereka, kini benar-benar merasa tak berdaya. Tubuhku terasa makin lemah. Tanpa perlu minta izin, aku mendudukkan diri di sofa kamar sebab tak ingin jatuh ambruk ke lantai lagi gara-gara syok dengan kejadian hari ini.
"Kalian berdua ...." mas Ilham tampak menahan amarah, ia menatap tajam istri dan putrinya. "Benar-benar keterlaluan."
"Apa maksudnya mas?" tanya mbak Ayu.
"Tega kamu Yu. Kamu sudah melakukan kesalhana sangat besar dan saya benar-benar kecewa sama kamu. Rasanya sudah tak ada lagi maaf atau kesempatan kedua!" tegas mas Ilham. "Pertama, kamu sudah memfitnah Mila dengan teganya. Sebenarnya, tanpa perlu kesaksian dari siapapun saya yakin itu anak saya tapi kamu malah menuduhnya berzina. Kesalahan kedua kamu, dengan melibatkan Hana dalam maslaha ini. Kamu semakin membuat saya sadar bahwa kamu sudah gagal jadi istri dan ibu. Demi ego kamu, tega menjerumuskan anakmu sendiri. Apa kamu tidak takut bagaimana akibatnya nanti? Kamu sudah mengajari Hana berbohong."
"Nggak Bi, Hana nggak bohong. Hana ....." Hana mencoba membantah.
"Hana diam! Sekarang kamu keluar sebab Abi kecewa sama kamu!" tegas mas Ilham.
"Tapi Bi," Hana mencoba mengiba. Tampak betul ia serba salah.
"Keluar!" mas Ilham mengusir putrinya dari kamar.
__ADS_1
"Mas tega membentak Hana hanya karena perempuan ini?" mbak Ayu mencoba membela putrinya. "Mas, Hana itu putri kita. Putri yang mas harap-harapkan kelahirannya tapi malah mas sakiti hanya karena seorang perempuan seperti dia. Apa mas nggak mikir bagaimana perasaan Hana? Mas sungguh tega!" mbak Ayu meradang.
"Kamu yang bertanggung jawab atas semua ini, Yu. Kamu tega melakukan semua ini. Sungguh memalukan. Saya benar-benar kecewa sama kamu!" mas Ilham masih marah. "Justru saya murka karena saya sangat mencintai putri saya. Saya tidak mau ia terjebak dalam kesalhana yang diajarkan ibunya. Paham kamu!"