
"Kenapa Hana menangis dan memeluk kamu?" tiba-tiba mbak Ayu masuk ke kamarku, tanpa mengetuk pintu apalagi permisi. Rupanya ia melihat kami di belakang. "Mila, jawab pertanyaanku!" mbak Ayu mengencangkan suaranya. Ia sepertinya lupa bahwa tengah berpura-pura baik padaku, hingga sikap aslinya keluar.
Caranya bicara denganku selalu saja seperti nyonya besar. Aku hanya bisa tersenyum miris. "Mbak ngomong apa?" tanyaku. "Kenapa bersikap seperti itu lagi? Bukankah kita sudah berdamai?"
"Oh itu," ia berdehem. "Maksudku ... aku benar-benar khawatir. Kenapa Hana menangis? Ada apa dengannya? Aku ini ibunya, tentu saja sangat khawatir padanya. Apakah kalian betengkar? Atau kamu memarahi Hana gara-gara kejadian malam itu? Mila ... Hana itu masih kecil, ia terkadang tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, makanya ia sampai berbohong. Aku pun tak menyangka ia akan seperti itu. Tapi sebenarnya Hana anak yang baik."
Masih saja menjadikan anaknya sendiri tameng. Ia bahkan tega menjelekkan Hana. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. "Saya tahu dan sangat yakin Hana anak baik."
"Lalu kenapa dengannya? Kalian membicarakan apa? Saya benar-benar khawatir. Tolong katakan Mila!"
"Kalau mbak khawatir, harusnya tanya pada Hana. Kenapa malah marah sama saya? Hana hanya bercerita kalau ia rindu ibunya, makanya ia minta dipeluk oleh saya sebab ia merasa kurang perhatian dari mbak. Mungkin Hana butuh sosok ibu ...."
"Mila!" ia kembali berdehem. "Tolong jangan sembarang bicara."
"Hana sudah semakin besar..Biasanya anak perempuan butuh perhatian ibunya lebih."
"Begitukah?"
"Ya mbak. Ini PR untuk mbak, agar tak hanya memikirkan satu hal yang membuat mbak bahagia saja hingga melupakan sumber kebahagiaan yang lain. Jangan sampai setelah mbak kehilangan nanti malah nyesal."
"Kamu bicara apa, sih?"
"Enggak mbak, saya hanya mengingatkan saja." aku langsung keluar kamar. Kembali menghindari mbak Ayu sebab tak ingin terpancing emosi karena ulahnya. Bahkan panggilan mbak Ayu kuabaikan.
Sampai di depan, maksud ingin sendiri malah bertemu dengan mas Ilham yang baru pulang bekerja. Rasanya benar-benar nggak siap untuk kembali berbincang dengannya. Aku masih sangat sensitif. Ingin sendiri dulu untuk menenangkan diri.
"Hari ini apa kabar? Kenapa pesan-pesan saya tak dibalas, panggilan telepon juga tidak dijawab." kata mas Ilham.
__ADS_1
"Mas sendiri sudah ngirim pesan atau nelepon mbak Ayu?" Aku balik bertanya. "Kan sudah saya katakan, mas harus bisa adil dulu, baru saya akan bersikap biasa saja ke mas."
"Kamu kenapa sih, Mil?"
"Mas ... sadar nggak sih, bagaimanapun juga saya ini istri kedua yang baru masuk ke kehidupan mas dan mbak Ayu. Di dalamnya ada anak-anak yang selalu menilai bagaimana orang tuanya. Saya hanya berusaha meminimalisir terjadinya salah sangka. Saya nggak mau dibenci anak-anak mas! Lagipula kita sudah bahas dan mas sudah janji akan bersikap adil. Mana buktinya?"
"Hmmm, siapa Mil? Siapa yang sudah membenci kamu? Katakanlah."
"Biar apa? Biar mas bisa memarahinya terus mereka makin benci sama saya? Sikap ceroboh yang seperti itu justru akan jadi masalah baru untuk saya!"
"Ya ngga begitu, Mil. Saya akan menasihati mereka supaya bersikap baik sama kamu."
"Nggak perlu. Campur tangan mas hanya akan menambah masalah baru."
"Mil,"
"Beban apa, Mila? Sepertinya suasana hati kamu sedang tidak baik-baik saja. Maafkan saya Mil, belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Saya belum bisa memberikan kenyamanan untuk kamu. Andai kamu mau mengatakan, apa yang harus saya lakukan agar kamu bisa bahagia. Ceria seperti awal kita bertemu."
"Saya ingin ketemu putri saya. Ingin kembali ke kampung halaman saya. Ingin hidup seperti dulu lagi. Meski kekurangan, tapi saya merasa tenang. Apa bisa mas wujudkan semua itu?"
"Mil,"
"Mas nggak bisa, kan? Ya sudah, biarkan saya sendiri kalau begitu."
"Tapi kita kan sudah menikah, Mila."
Aku tahu, ini resiko jadi istri kedua. Akan ada yang tidak menerima keberadaan kita. Bahkan ini sudah diingatkan ibu sebelum kami menikah, tapi aku tetap nekat. Kini aku menyesalinya. Rasanya, jika bisa mengulang kembali waktu, aku ingin menolak lamaran mas Ilham. Aku ingin di kampung saja merawat Yumna..tak mengapa hidup kekurangan asal tak jauh darinya.
__ADS_1
Anak itu, ia sudah berkorban demi ini semua. Tapi janjiku tak kunjung bisa ku tepati. Membawanya ke sini dala. Kondisi seperti ini hanya akan membuatnya tidak nyaman. Aku tak ingin Yumna tahu bagaimana beratnya bebanku sebagai istri kedua.
"Mil," panggil mas Ilham.
"Pergilah. Tolong tinggalkan saya sendiri. Mas nggak tahu bagaimana rasanya jauh dari anak." ujarku.
"Sekarang siap-siap gih, kita berangkat ke kampung kamu. Saya akan pesankan tiket keberangkatan malam ini." kata mas Ilham.
"Apa? Saya nggak salah dengar, kan? Benar mas, saya boleh pulang?" tanyaku. Masih tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan. Kedua mataku sampai berbinar mendengarnya.
"Ya, benar Mil. Tapi saya yang temani, yah."
"Jangan. Mas kan harus bekerja..saya pulang sendiri saja."
"Enggak bisa, kalau kamu mau pulang, harus diantar."
Tak ada pilihan lain yang diberikan mas Ilham. Makanya aku harus menuruti agar bisa pulang dan bertemu dengan Yumna.
Sayangnya, saat mendengar rencana keberangkatan kami, mbak Ayu langsung menyatakan keberatannya dengan alasan ia akan kerepotan ditinggalkan oleh mas Ilham, juga tentang persiapan pemilihan kepala yayasan.
"Ingat mas, ini adalah mimpi besar mas. Bagaimana mas bisa melepaskannya begitu saja? Lagipula ini kan tidak terlalu urgent, masih bisa diundur sampai pemilihan selesai. Kalau mas berangkat sekarang, mas akan kekurangan waktu untuk persiapan pemilihan." kata mbak Ayu. "Mil, kamu tahu kan, aku sering cerita ke kamu bagaimana pentingnya momen ini untuk mas Ilham. Masa kamu nggak mau nahan rindu sebentar saja. Sebulan lagi, usai pemilihan, kamu bisa berangkaysama mas Ilham tanpa harus diburu-buru waktu. Bagaimana?"
"Tapi ...." aku tak bisa lagi menahan rindu ini. Juga tak bisa memaksakan kehendak pada mereka.
"Tidak apa Yu. Saya akan tetap mengantar Mila malam ini. Untuk persiapan pemilihan, InshaAllah bisa diurus tim. Saya akan pantau lewat telepon." kata mas Ilham.
"Mas," mbak Ayu terlihat amat kecewa dengan keputusan mas Ilham. "Aku sudah berjuang keras supaya mas bisa terpilih. Kalau nanti gara-gara ini mqs kalah, aku akan sangat kecewa pada kalian berdua sebab ini nggak hanya perjuangan mas, tapi perjuangan kita semua." ungkap mbwk Ayu. "Tolong Mil, jangan kecewakan kami. Jangan egois." pintanya.
__ADS_1