MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MBAK AYU PERGI


__ADS_3

Akhirnya tiga orang dewasa itu pergi meninggalkan meja makan. Mas Ilham duluan, diikuti oleh mbak Ayu dan mbak Sita. Aku tak perduli apakah mereka akan melanjutkan pembicaraannya atau menyudahi sebab respon penolakan mas Ilham. Aku percaya, lelaki yang telah meninahiku itu bisa mengambil keputusan yang tepat.


Mas Ilham sudah menyatakan bahwa menikah lagi bukan perkara mudah. Ada tanggung jawab yang begitu besar. Menghadapi kami berdua saja ia sudah kesusahan, apalagi harus nambah lagi. Hanya akan membuatnya pusing.


Saat ini yang jadi perhatianku adalah kondisi psikologis anak-anak. Tepatnya empat anak mbak Ayu yang ikut mendengarkan pembicaraan orang tuanya. Si bungsu mereka, Ibed, tidak ikut makan bersama sebab sudah istirahat di kamar duluan.


Hana, ia yang terlihat langsung berubah. Gadis kecil itu bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arahku. Tubuhnya bergetar menahan sesak. Tiba-tiba, tanpa persetujuan dariku, ia menghambur dalam pelukanku sembari menangis terisak-isak.


"Hana nggak mau punya ibu lagi," ujarnya di antara sedu sedannya. "Umi Mila ... apakah Tante yang tadi akan jadi umi ketiga kami?" tanyanya, masih terisak-isak. "Enggak kan Umi Mila? Jangan ya. Hana nggak mau, cukup dua Umi saja. Hana nggak mau ditambah lagi."


"Sayang, percayakan semuanya sama Abi, ya." kataku. "Abi pasti membuat keputusan yang tepat untuk kita semua."


Hana menggeleng cepat. "Katakan pada Abi, jangan menikah lagi dengannya. Kami tidak ingin punya ibu baru lagi. Kami nggak mau." ia menggeleng. "Bicaralah pada Abi, Umi Mila. Abi pasti akan mendengarkan Umi. Tolonglah kami. Kami tidak mau jadi bahan olok-olokan teman-teman di sekolah. Hana lelah dibuli hingga dikucilkan begitu!"


"Siapa yang mengolok-olok, Hana?" tanyaku.


"Teman-teman." jawabnya. "Hana malu."


"Kenapa mereka mengolok, Hana?" tanyaku lagi. "Memangnya Hana melakukan kesalahan apa, Nak?"


"Bukan Hana, tapi Umi!"


"Kenapa dengan Umi?"


"Mereka bilang Umi sakit, makanya Abi menikah lagi. Uni seharusnya di rawat di rumah sakit jiwa. Begitu yang mereka tahu dari ibu-ibu mereka. Setiap hari ibu-ibu itu selalu membicarakan masalah itu saat berkumpul mengantar atau menjemput anak mereka hingga anak-anak tahu dan mengejek Hana." Hana menceritakan kembali kelakuan teman-temannya padanya. Ternyata ada salah satu orang tua murid yang mengetahui bahwa mbak Ayu tengah berobat ke psikolog sehingga cerita itu beredar kemana-mana, tentunya dengan bumbu yang ditambah-tambahkan. Apalagi setelah pernikahan kedua mas Ilham denganku yang menambah keyakinan mereka bahwa sebenarnya mbak Ayu tidak sedang baik-baik jiwanya makanya suaminya memilih untuk menikah lagi.


Poligami memang masih asing bagi sebagian besar masyarakat. Pernikahan kedua selalu dianggap negatif. Kalau bukan karena istrinya yang kurang, suaminya lah yang bermasalah.


"Hana, diam kamu!" Tiba-tiba Iqbal menghardik adiknya. "Kamu bicara apa tentang Umi? Tega sekali kamu bicara seperti itu. Kamu tidak bisa menjaga perasaan Umi hingga bisa mengatakan semua itu?"


"Bukan Hana yang mengatakan, tapi ...." lagi-lagi Iqbal menghardik adiknya.


"Siapapun yang mengatakannya padamu, harusnya kamu bantah. Bukannya malah ikut mengatai Umi. Kamu mau jadi anak durhaka? Kalau Umi dengar, bagaimana perasaan Umi?" terang Iqbal yang sudah tidak sabar menghadapi adiknya.

__ADS_1


"Hana hanya mengatakan apa yang Hana dengar. Lagipula mereka mengolok-olok Hana karena ulah Umi. Mas Iqbal tahu semuany, tapi mas Iqbal enggak mencoba melakukan sesuatu untuk menghalangi semuanya. Kenapa mas nggak ngomong ke orang tua teman-teman Hana. Larang mereka membicarakan Umi atau mas Iqbal cegah Umi untuk membawa calon ibu baru lagi!" Hana tak mau kalah.


"Semua ini salah dia, kenapa kamu malah nyalahin Umi?" Iqbal menunjukku. Itu menandakan ia belum bisa menerimaku.


"Bukan. Jangan membohongi diri sendiri! Umi yang salah, bukan Umi Mila." tegas Hana.


"Umi? Oh, jadi sekarang kamu memanggilnya Umi. Berarti sekarang kamu anaknya, bukan anak Umi lagi?"


"Mas Iqbal jahat. Sengaja memutar balikkan semuanya seperti yang dilakukan Umi. Hana nggak mau ngikutin kemauan Umi lagi kalau Umi nggak berubah seperti dulu!"


"Terserah. Rupanya sekarang kamu sudah termakan omongannya. Jadi kamu lebih membela dia dari pada Umi?" kejar Iqbal. "Tega sekali kamu Hana. Kamu ingat, siapa yang sudah melahirkan kamu. itu Umi. bukan dia..Ngerti kamu!"


"Hana tahu, tapi kalau salah jangan dibela terus."


"Umi nggak salah, dia yang mengambil Abi dari kita. dia juga yang membuat umi sakit karena selain mengambil Abi, dia juga mengambil nenek dari Kuta semua. dia itu jahat Hana!"


Dua saudara itu bertegkar. Hana mencoba mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganjal hatinya sesuai fakta yang ia tahu. Sementara Iqbal masih bertahan dengan pendiriannya meski ia pun tahu bahwa yang dibelanya adalah yang salah.


"Mas Iqbal jahat. Mas Iqbal sama saja seperti Umi, hanya mementingkan diri sendiri!" Hana masih menangis, karena kecewa akhirnya ia berlari ke kamarnya. Sementara Iqbal menatapku tajam, menyalahkan aku atas kesalahan ibunya.


"Bagaimana menurut kamu tentang rencana Ayu?" tanya mas Ilham. Saat kami duduk bersama di taman belakang sembari menikmati secangkir teh.


"Tentang mbak Sita?" aku memastikan arah pembicaraan mas Ilham.


"Ya."


"Saya percaya keputusan yang akan mas ambil adalah yang terbaik. Kalau mas siap ya silakan, tapi kalau tidak ya sebaiknya jangan coba-coba."


"Sebenarnya ilmu saya tentang poligami masih sangat rendah, Mil. Itulah mengapa saya berat untuk menikah lagi." ia menarik nafas pelan. "Tapi ... kamu tidak kaget dengan rencana Ayu?"


"Awalnya kaget,"


"Lalu kamu tidak cemburu?"

__ADS_1


"Kenapa harus cemburu?"


"Pastinya Ayu sudah menceritakan semua tentang masa lalu saya dan Sita, kan?"


"Ya."


"Lalu kamu tidak cemburu?"


"Enggak mas."


"Kenapa begitu?"


"Ya kenapa harus cemburu juga? Saya ngerti kok, mas nggak akan mudah memutuskan menikah lagi sebab masalah dalam rumah tangga kita sudah cukup ruwet. Mas pasti pusing, kan?" aku bermaksud mencandainya, tapi malah membuat mas Ilham marah.


"Saya kira kamu akan marah sebab merasa ..."


"Merasa rendah diri, tersaingi? Karena mbak Sita lebih pintar, kaya, cantik dan berpendidikan tinggi?".


"Bukan begitu, Mil,"


"Mas ... cemburu itu ada, tapi tak perlu dibesar-besarkan karena yang dinikahi kan saya." jawbaku dengan penuh percaya diri.


"Mil, terima kasih ya sudah percaya dan selalu mensupport saya." ketika ia hendak mengecup keningku, tiba-tiba Iqbal dan yang lainnya berlari pada kami.


"Abi ... Abi ... Abi!" panggil Iqbal.


"Kenapa Bal?" tanya mas Ilham.


"Umi ... Umi, Bi." Iqbal menunjuk arah dalam.


"Kenapa Umi?"


"Umi pergi," Iqbal dan mas Ilham berlari ke dalam.

__ADS_1


Sementara aku terhalang oleh Hana yang kembali menghambur dalam pelukanku. Ia menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2