
Ternyata emak sudah menyiapkan cukup banyak hidangan ketika kami datang. Kata emak, ia sudah merasakan bahwa menantu dan cucunya akan berkunjung. Makanya emak memasakkan rendang, gulai ayam dan juga goreng tahu tempe. Semua itu hidangan yang selalu emak sajikan jika kami berkumpul saat lebaran idul Fitri.
"Emak harusnya nggak usah repot-repot seperti itu, kita kan bisa beli makanan jadi supaya emak tidak capek. Atau Mila yang bantu emak memasak." kataku yang tak enak hati dimasakkan segini banyak padahal selera makanku sedang menurun sebab masih ngidam ditambah beban pikiran akibat masalah yang sedang menimpaku. "Lagian ini banyak sekali, Mak. Enggak akan habis sekali makan." aku menunjuk masakan emak yang masih tersisa cukup banyak, padahal kami sudah selesai makan.
"Kalau begitu kalian nginap di sini saja ya. Supaya ada yang memakan masakan emak. Kapan lagi coba kalian emak masakkan. Besok-besok emak tak akan bisa memasak lagi " Kata emak, sembari merapikan piring bekas makan kami.
"Bagaimana Mi? Kita nginap di rumah emak ya?" tanya Yumna. "Kita kan sudah lama tidak menginap di sini. Ba kangen pengen tidur sama emak, pengen dengerin cerita emak tentang tentara Jepang sebelum tidur." pinta Yumna.
"Tapi kan kita nggak bawa baju ganti, Na." kataku. Menyesal juga tadi tak membawa baju ganti.
"Baju lama kalian kan masih ada di lemari. Pakai itu saja untuk ganti." kata emak.
"Baiklah. Malam ini kita nginap di sini ya." Kataku. Disambut dengan tepuk teriakan gembira Yumna.
***
Seperti yang sudah direncanakan oleh Yumna. Malam ini, ba'da Isya, ia sudah naik ke atas tempat tidur, bersebelahan dengan Emak. Tak lama mulai terdengar cerita yang sudah berulang kali diceritakan emak pada Yumna, namun gadis kecilku itu tak pernah bosan meminta neneknya untuk menceritakan kembali cerita tersebut. Aku yang mendengar secara tidak sengaja saja bisa hafal kisah itu karena seringnya diulang-ulang.
Teringat dulu, saat bang Hasan masih hidup, ketika kami berkunjung dan Yumna minta diceritakan. Aku selalu mengatakan pada bang Hasan, apakah ibunya tak punya cerita lain sehingga harus mengulang cerita yang sama secara berkali-kali. Tapi kata Bang Hasan, itu adalah cara emak mengingat kisah hidupnya dimasa lalu. Betapa kejamnya tentara Jepang yang membuatnya jadi yatim piatu di usia yang teramat dini.
"Emak itu ingin kita semua, anak dan cucunya tahu bahwa perjuangan hidupnya amatlah keras. Meski begitu, emak tak pernah punya keinginan untuk menyerah. Emak selalu berusaha bertahan meski berulang kali ia melewati bahaya hingga akhirnya ia bisa melaluinya sebagia pemenang." Begitu kata bang Hasan.
Tak terasa, air mataku berlinang. Teringat bang Hasan bercerita sembari mengusap kepalaku hingga akhirnya aku tertidur pulas di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa jodoh kita begitu pendek, bang. Hanya beberapa tahun pernikahan. Andai Abang tidak pergi secepat itu, mungkin sekarang kita sudah merasakan bahagia karena Yumna sudah besar, ia tak lagi sering sakit seperti dulu. Tak mengapa hidup pas-pasan bahkan sering juga tak berpunya, asal tak ada masalah. Maka rasanya akan tetap nyaman, bang." kataku, sembari berbisik.
"Kamu menangis, Mil?" tiba-tiba emak sudah duduk di hadapanku. Sementara Yumna sudah tertidur pulas usai mendengarkan cerita neneknya.
"Mak," aku buru-buru menghapus air mata. Malu ketahuan emak menangis.
"Kenapa? Ada masalah apa? Kalau kamu butuh teman bercerita, ceritakan pada emak, InshaAllah emak siap mendengarkan."
"Mak ... Mila kangen bang Hasan." aku menjawab Jljujur, bagaimana perasaanku saat ini. "kalau bang Hasan masih hidup, kami bertiga pasti hidup bahagia. Mila tak harus menjalani semua skenario yang menurut Mila sangat rumit ini."
"Hasan InshaAllah sudah tenang di sana. Ia lelaki yang baik dan bertanggung jawab, emak percaya hisabnya tak akan sulit. Skenario ini buatan Allah, Mil. Kamu harus menerima qadha dan qadha Allah dengan ikhlas. Semuanya sudah berlaku adil untuk kita semua."
"Ya. Tapi ...."
"Kenapa Mil?"
"Menurut kamu bagaimana, mil? Kamu pernah menjadi istrinya, harusnya kamu hafal sifat Hasan seperti apa."
"Bang Hasan akan memaafkan karena ia orang yang baik, hati bang Hasan sangat lapang, selama menjadi istrinya, belum pernah Mila lihat bang Hasan marah atau membenci orang lain. Ia benar-benar gambaran manusia yang berhati tulus. Setiap ada yang menjahati selalu dibalasnya dengan kebaikan hingga orang segan untuk berbuat jahat padanya."
"Ya, begitulah Mil. Dari dulu Hasan sudah begitu. Hingga akhir hidupnya ia tak berubah sama sekali."
"Kalau emak sendiri? Apakah emak akan memaafkan seseorang yang sudah berbuat jahat pada bang Hasan, perbuatan yang sangat fatal sekali."
__ADS_1
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, Mil. Kalau ia sudah benar-benar bertaubat, kita tidak boleh menghakiminya. Bisa saja Allah sudah mengampuni, tetapi kita masih diselimuti rasa benci. Yang ada kita sendiri yang rugi. Orang yang kita kira jahat sudah kembali suci, tapi kita berlumuran dosa. Rugi, kan?"
"Iya sih, Mak. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Rasanya memaafkan itu sulit, Mak. Kesalahannya besar sekali."
"Mila, memberi maaf seseorang itu memang kadang sulit, tapi semakin sulit maka akan semakin besar pahalanya. Kamu tak tergiur dengan apa yang Allah janjikan? Tak ada gunanya memikul kemarahan pada orang lain, sefatak apapun juga, tugas kita hanya memaafkan. Dengan begitu maka hati kita akan menjadi tenang. Tak akan ada lagi beban yang membuat diri sendiri rugi."
"Mak,"
"Ya."
"Apakah Mila harus menceritakan maslaha yang tengah membuat Mila bimbang?"
"Apakah ini akan jadi beban?"
"Ya Mak,"
"Kalau begitu sampai di kamu saja, Mil. Sudahlah. Kita lupakan. Kita maafkan. Meski berat, tapi percayalah, selalu ada hikmah dari tiap ujian yang Allah berikan pada kita. Kalaupun tidak didapatkan sekarang, nanti di akhirat."
"Mak!" Aku memeluk emak erat-erat. "Terimakasih Mak, sudah mendengarkan Mila. Terima juga sudah membantu Mila menentukan sikap. Mila akan berusaha untuk melepaskan kemarahan Mila."
__ADS_1
"Alhamdulillah. Emak berdoa yang terbaik untuk kamu, Yumna, calon anak kami dan keluarga baru kamu, Mil."
Langit semakin gelap, dari luar rumah emak terdengar suara jangkrik. Aku merebahkan badan di kasur yang dahulu selalu dipakai bersama bang Hasan saat menginap di rumah emak. Tak butuh waktu lama, kini kedua netra ini pun sudah terpejam, hanyut menuju alam mimpi, dimana di sana ku saksikan bang Hasan menunggu emak, ia melambaikan tangannya padaku dan Yumna.