MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
DESAS-DESUS


__ADS_3

Besok hari pernikahan itu. Rasanya masih bimbang. Berbeda dengan perasaan yang aku rasakan saat akan menikah dengan Bang Hasan.


"Sudah Mil, tidak perlu terlalu banyak mikir. Pernikahan kedua kamu beda dengan pernikahan pertama. Ya pastilah rasanya beda." ungkap Uni Dewi yang datang ke gubuk kami untuk mengantarkan pakaian pengantin yang akan ku gunakan besok.


"Iya ya, Ni. Dulu aku menikah saat masih menyandang status gadis, dengan lelaki lajang. Sekarang menikah dengan status janda dengan suami orang." aku tersenyum ketus.


"Mil," Uni Dewi menggelengkan kepalanya. "Kamu jangan menyesali apa yang sudah kamu pilih. Besok kamu akan melaksanakan akad, antara kamu dan mas Ilham akan diikat oleh ikatan suci pernikahan yang sama seperti pernikahan kamu dan Hasan. Sama-sama halal di hadapan Allah."


"Iya Ni,"


"Sudah, jangan mikir macam-macam. Mending sekarang kamu siap-siap. Sebentar lagi ada pegawai salon datang ke sini."


"Mau ngapain, Ni?"


"Luluran untuk pengantin."


"Hah, untuk apa?"


"Ya buat persiapan besok."


"Tapi Ni,"


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Bayarnya bagaimana?"


"Hahahaha, Mila ... Mila. Kan sudah dikatakan mbak Ayu, semuanya mereka yang tanggung. Termasuk biaya perawatan untuk akad besok. Pokoknya kamu nggak usah khawatir, apapun yang kamu butuhkan, katakan sama Ini saja. Mbak Ayu sudah menyerahkan sejumlah uang pada Uni untuk keperluan acara besok. Dijamin kamu nggak perlu merogoh uang sepeserpun. Tuh, enak kan punya kakak madu seperti mbak Ayu dan juga calon suami yang kaya raya."


"Hem," Uni Siti yang berdiri di depan pintu kamar berdehem. Sehingga membuat pembicaraan ku dan Uni Dewi terhenti. "Ada orang salon, tu." Uni Dewi menunjuk seorang perempuan di belakangnya.


Yang dikatakan Uni Dewi benar. Untuk acara pernikahan besok, semuanya ditanggung oleh mas Ilham. Bahkan, mereka juga akan memberikan mahar yang cukup besar untukku. Seratus juta rupiah. Sejumlah uang yang tak pernah ku lihat banyaknya seperti apa. Bahkan membayangkannya saja tidak berani.


"Mahar itu bisa kamu berikan pada Ayah dan ibumu untuk biaya memperbaiki rumah, membeli hewan ternak dan modal jualan kecil-kecilan. Dengan begitu ayahmu tak perlu lagi jadi buruh kasar, banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keponakan kamu, Mil." ujar Uni Dewi.


***


Pernikahan yang meski serba mendadak, yang rencananya hanya akad saja, namun beritanya sudah terdengar ke seluruh penjuru kampung. Mungkin karena tenda besar berwarna keemasan yang di pasang megah di depan gubuk kami.


Sejujurnya aku agak sungkan dengan pesta yang akan diadakan besok. Rasanya tak perlu terlalu bermewah-mewah, apalagi ini bukan pernikahan pertamaku. Tapi semuanya sudah diatur oleh Uni Dewi. Kata Uni Dewi, mumpung keluarga mas Ilham tidak keberatan dengan permintaan yang ia buat sendiri.


"Supaya kamu juga tidak perlu berkecil hati terus sebab akan jadi istri kedua. Toh, dengan pernikahan super mewah untuk ukuran kampung kita, ini sudah seperti menjadi istri pertama, Mil. Sudah nggak ada bedanya. Kamu dan mbak Ayu berarti sama-sama diistimewakan. Itulah enaknya menikah dengan orang yang tahu agama." ungkap Uni Dewi.


Aku memaksakan senyum. Apakah benar nanti mas Ilham akan meletakkan posisiku sama dengan mbak Ayu? Apakah boleh aku berharap seperti itu sementara hingga detik ini saja kami masih seperti orang asing.


Juga tanggapan orang-orang yang dikatakan oleh Uni Dewi hanyan iri padaku. Ya, hampir sebagian besar, terutama kaum hawa, yang semula ikut senang dengan rencana pernikahan ini, tapi tiba-tiba berubah jadi sinis, tak hanya padaku, tapi juga pada seluruh anggota keluargaku lantaran mereka tahu bahwa aku akan menikah dengan suami orang. Akan jadi istri kedua.


Di kampung kami, isu sebagai istri kedua memanglah sangat sensitif. Meski dilaksanakan sesuai syariat orang-orang masih menganggapnya jelek. Padahal Allah membolehkan. Mungkin karena kita yang sudah mulai asing dengan segala aturan Allah. Yang halal bisa jadi dianggap haram lantaran beda pendapat, sementara haram dianggap halal bila sesuai dengan keinginan hatinya.

__ADS_1


Sikap orang-orang yang sinis itulah yang akhirnya membuat mental ku agak down. Aku jadi malas keluar rumah, apalagi saat ibu pulang dari pasar dengan wajah sendu setelah menangis usai dikatai oleh orang-orang.


"Enggak nyangka kalau Mila bakalan mau dijadikan istri kedua. Padahal kelihatannya baik-baik saja. Tapi ternyata sukanya sama suami orang. Pantaslah lamaran bujang dan duda di tolak, sukanya sama yang sudah punya. Hati-hati lho, karma itu berlaku. Mila punya anak perempuan, nanti malah bisa kejadian hal yang sama ke si Yumna. Apa nggak kasihan?"


"Cantik-cantik, maunya sama suami orang.. benar-benar nggak punya hati. Kasihan istri pertamanya. Semoga aja segera dapat karma, biar tau rasa!"


"Ya ampun Mila. Padahal guru ngaji, almarhum suaminya orang salih. Tapi kenapa bisa jadi salah langkah setelah kepergian suaminya? Makanya, jadi janda jangan gatel-gatel!"


"Kalau tahu Mila mau jadi yang kedua, sudah lama saya lamar dia untuk jadi istri kedua saya. Eh tapi, apa dia mau. Mila kan nyarinya suami kaya raya."


"Yang penting kaya raya. Biarin lah mau suami orang atau enggak. Soalnya sudah bosan hidup susah!"


Kata-kata miring itu sebenarnya juga sudah sampai ke telingaku. Uni Dewi sendiri juga sudah menyangkal kalau aku merebut suami orang. Pernikahan yang akan aku jalani ini sudah atas restu istri pertamanya.


"Ya meskipun sudah restu tapi kan tetap saja Wi. Si Mila ngerebut suami orang. Istrinya pasti terluka sekali." kata salah satu ibu salon yang bertugas melakukan perawatan padaku.


"Duh Uni jangan sok tahu. Yang melamarkan Mila untuk suaminya saja istrinya sendiri. Istrinya yang datang ke sini dan meminta Mila untuk jadi istri kedua suaminya." jawab Uni Dewi.


"Halah, palingan istrinya sudah tertekan sama suaminya. Di ancam, kalau nggak ngasih restu bakal dicerai."


"Fitnah itu Uni. Suaminya tak seperti itu. Istrinya juga baik-baik saja. Lihat saja besok pas akad, istrinya pasti datang untuk mendampingi suaminya!"


"Halah, tetap saja aku nggak percaya. Jaman sekarang, Mana ada perempuan yang rela berbagi suami. Apalagi sampai nyariin. Pasti karena ada sesuatu. Iya, kan?"

__ADS_1


Perempuan paruh baya dengan makeup mencolok itu tetap bersikukuh bahwa aku adalah perempuan tidak benar yang menikah dengan cara merebut suami orang. Segala bantahan Uni Dewi tak didengarnya. Bahkan ia semakin menjadi-jadi menghinaku, seolah suaminya lah yang aku rebut. Rasanya dada ini benar-benar sesak di Mali sedemikian rupa.


__ADS_2