MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
HADIAHA DARI MBAK AYU


__ADS_3

Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, pintu kamar hotel tempat aku menginap di ketuk. Ternyata mbak Ayu. Wajahnya tampak berbeda dari sebelumnya. Seperti sedang ada masalah. Ia membawa sesuatu di tangannya.


"Maafkan aku, Mil," katanya, sembari meletakkan bingkisan itu di hadapanku.


"Maaf untuk apa, mbak?" aku mengerutkan kening, berpikir, rasa-rasanya tak ada kesalahan yang dilakukan mbak Ayu padaku. Sejak awal hingga sekarang ia sudah baik.


"Maaf untuk masalah makanan semalam. Sepertinya memang benar pelayannya salah kirim atau," ia tak melanjutkan.


"Oh, nggak apa-apa mbak. Saya yang minta maaf sudah merepotkan mbak Ayu. Harusnya saya membawa bekal yang diberikan kakak ipar saya. Tapi karena buru-buru jadinya tinggal deh." aku terkekeh, ingat kejadian semalam, tak bisa tidur karena lapar.


"Baiklah, masalahnya selesai ya. Oh ya, kamu sudah selesai siap-siap? Nanti sampai di Jakarta kamu harus tetap nurut sama aku ya."


Aku mengangguk.


"Ini, kamu berikan untuk keluargamu ya. Titipkan ke supir saja, nanti dia yang akan mengantarkan ke keluarga kamu. Satunya lagi untuk kamu. Sebagai hadiah pernikahan dariku." Mbak Ayu menyerahkan bingkisan itu padaku.


Saat aku membukanya, ternyata isinya Hp. "Ini buat saya, mbak?"


"Ya. Untuk kamu dan keluarga kamu supaya kalian tetap bisa berkomunikasi."


Rasanya benar-benar senang mendapatkan bingkisan HP tersebut sebab berarti aku akan bisa kembali berkomunikasi dengan keluarga terutama Yumna. Memang di rumah kami gak ada Hp sama sekali. Satu-satunya cara untuk tetap tahu kabar Yumna yang bisa kulakukan hanya dengan mengiriminya surat. Mang terdengar ketinggalan zaman untuk saat ini, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa memaksakan sebab perekonomian kami yang serba kekurangan.

__ADS_1


Mbak Ayu kembali keluar dari kamarku sebab ia juga harus bersiap-siap sebelum kami berangkat ke bandara.


"Mbak Ayu benar-benar baik," aku membatin sembari menimang-nimang Hp yang diberikannya.


***


Kini; aku, mbak Ayu dan mas Ilham sudah berada di dalam pesawat. Kami duduk berjejer. Aku dan Mbak Ayu berdampingan, sementara mas Ilham duduk sendiri dengan penumpang lainnya.


Hatiku bergemuruh saat pesawat mulai terbang. Perlahan semakin tinggi hingga yang terlihat olehku hanyalah garis-garis panjang. Sungai dan laut seperti rek kereta api. Ternyata begini rasanya naik pesawat. Senyum yang mengambang langsung hilang saat terbayang wajah Yumna.


Yumna ... maafin Umi. Untuk smenetara waktu kita terpaksa berpisah. Tapi Umi janji kita akan segera bertemu dan kembali bahagia. Umi melakukan ini semua juga untuk Yumna, agar kelak kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Maafin Umi, Na ....


Mbak Ayu dan mas Ilham orang yang baik. Aku berkeyakinan besar kalau keluarganya pun juga baik. Mereka pasti bisa menerimaku dan anakku dengan lapang dada meski saat ini yang namanya istri kedua selalu jelek di mata orang-orang, dianggap sebagai perebut suami orang. Meski banyak yang menjalankan poligami sesuai dengan syariat. Ini juga tantangan untukku agar bisa menjadi pelaku poligami yang sesuai syariat, menjadi adik madu yang tidak zolim pada mbak Ayu sebagai kakak maduku.


***


Setelah pesawat sempurna berhenti. Satu-persatu penumpang turun. Akupun ikut turun bersama dengan mas Ilham dan mbak Ayu. Kami bertiga berjalan berurutan. Melewati lorong-lorong yang menurutku cukup panjang hingga akhirnya kami berada di depan tempat pengambilan bagasi. Aku dan Mbak Ayu menepi, yang mengambil barang-barang kami adalah mas Ilham.


Setelah semua barang-barang di dapatkan, kami bertiga keluar. Mas Ilham lalu menyegat taksi berwarna biru, untuk kami tumpangi.


Inikah Jakarta? Mataku berbinar-binar melihat bangunan-bangunan tinggi menjulang hingga ke langit. Entah berapa jumlah lantai bangunan tersebut. Aku tak bisa menghitung sebab taksi yang kami kendarai terus melaju, melewati bangunan-bangunan tinggi yang tak habis-habis.

__ADS_1


Kalau melihat semua ini, Yumna pasti senang. Ia selalu terpesona dengan bangunan tinggi yang megah. Beberapa kali mengajak Yumna ke Padang saja ia sudah begitu bahagia, apalagi kalau benar-benar bisa ke Jakarta.


"Tunggulah sebentar ya Nak," aku berbisik pada diri sendiri. "Umi akan segera menjemput Yumna. InsyaAllah."


Taksi yang kami tumpangi kembali berhenti di depan sebuah hotel yang tak kalah megah di bandingkan hotel yang kami tumpangi saat masih berada di Padang.


"Apakah kami akan kembali menginap di hotel?" aku masih bertanya-tanya sebab dari mbak Ayu ataupun mas Ilham tak ada yang memberikan keterangan.


Mas Ilham hanya berjalan menuju meja resepsionis, lalu ia kembali berjalan masuk ke dalam lift diikuti oleh mbak Ayu. Aku yang tak tahu apa-apa juga hanya bisa membuntuti dari belakang.


"Malam ini kita nginap di sini dulu." ungkap mbak Ayu, sambil berhenti di depan sebuah kamar dengan nomor 504. "Kamu masuklah duluan, nanti sebentar lagi aku ke sini." ia membukakan pintu untukku, menyetel AC, lalu kembali menghilang di balik pintu.


Kenapa harus nginap di hotel lagi? Kita kan sudah sampai di Jakarta, kenapa tidak langsung pulang saja?


Aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati sebab tak berani mempertanyakan semuanya pada mereka.


***


"Mil, sekarang kamu adalah maduku. Kita sama-sama menjadi istri mas Ilham. Tetapi, sebagai istri tua, aku ingin kamu nurut padaku sebab bagaimanapun juga akulah yang lebih dulu menikah dengan mas Ilham. Aku yang lebih tahu banyak tentangnya. Aku yang selalu melayaninya selama ini dan aku juga yang mempertemukan kamu dengan suamiku. Maksudku, suami kita. Mas Ilham!" Mbak Ayu menekankan kalimat terakhirnya. "Mungkin, kehidupan poligami tidaklah akan mudah. Akan selalu ada cobaan yang harus kita jalani. Apalagi, kamu dan aku benar-benar berbeda. Kita sangat jompanh sekali. Jadi tolong, jangan banyak ulah. Kalau ada apa-apa, banyak bertanya padaku dan jangan pernah mendahului aku!"


Jompang? Aku mengerutkan kening. Entah apa maksudnya mbak Ayu. Tak ingin terlalu pusing memikirkan itu semua, aku hanya mengangguk saja. Memang benar yang dikatakan mbak Ayu, bagaimanapun aku adalah adik madunya, ia lebih tahu banyak tentang mas Ilham.

__ADS_1


"Malam ini, kita di sini dulu sebelum besok kita kembali ke rumah untuk bertemu dengan anak-anak kami." ucap mbak Ayu lagi. Ia memberikan isyarat agar aku tidur di ranjang sebelah.


Berbeda dengan di Padang. Malam ini mbak Ayu tidur bersamaku. Meski begitu kami tak banyak bicara. Mbak Ayu terlihat sibuk dengan ponselnya sehingga mengingatkan aku akan Hp pemberian mbak Ayu. Apakah sekarang aku bisa menggunakannya untuk menghubungi Yumna?


__ADS_2