MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MALAM PENGANTIN


__ADS_3

Foto-foto itu, entah siapa yang mengambilnya. Tapi aku tahu setiap momen yang ada di gambar itu. Sebenarnya tak ada yang istimewa. Pertama ia datang menjemput aku, kedua ia meminjami aku buku. Perbincangan kami hanya sebatas itu. Lalu dimana letak salahnya?


"Kamu tahu dia siapa?" Tanya mas Ilham, masih dengan raut wajah marah.


"Supir di rumah, kan?" tanyaku.


"Ya. Dan itu selera kamu?"


"Maksudnya?"


"Kamu punya perasaan padanya? Sering ngobrol dengannya? Berapa kali? Sudah sejauh apa hubungan kalian? Ayo jawab!"


"Perasaan?" aku langsung tergelak. Kenapa lelaki di hadapanku ini bisa membuat kesimpulan secepat itu hanya dari beberapa lembar foto yang sangat umum sekali. Kami hanya berbincang biasa tanpa ada embel-embel lainnya. Lagipula aku tak seliar itu untuk menjalin hubungan dengan orang lain disaat sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Di foto juga terlihat jelas kami berada di tempat umum dengan posisi berjauhan. Lalu apa yang salah?


"Kenapa tertawa? Lucu ya? Oh, kamu tak bisa menyangkal. Ternyata kamu benar-benar di luar prediksi kami. Harusnya aku meminta Ayu lebih selektif lagi ketika memilihkan calon istri kedua. Bukan asal pilih saja hanya karena janda miskin."


"Astagfirullah," aku tak menyangka seorang mas Ilham yang dikenal alim oleh orang-orang dan lingkungan sekitarnya ternyata bisa bicara sesadis itu padaku. "Ya, saya memang janda miskin. Terimakasih sudah menikahi saya dan mengangkat derajat saya. Tapi bukan berarti kalian bisa menghina saya seperti itu. Lagi pula apa salahnya dengan status janda dan miskin. Saya menjadi janda karena suami saya sebelumnya meninggal dunia akibat kecelakaan, semnetara saya miskin bukan keinginan kami. Kami sekeluarga terutama ayah saya sudah berusaha keras untuk memperbaiki perekonomian keluarga, tapi balik lagi, semua adalah keputusan Allah. Saya bisa apa? Mau memaksakan kehendak agar jadi kaya raya? Atau marah-marah sama Allah? Enggak mungkin kan? Itu sama saja menentang kehendak Allah! Saya nggak akan melakukan itu, menjadi manusia yang nggak bersyukur!" kataku dengan suara agak tinggi. Rasanya kesal sekali dengan tuduhan lelaki yang sudah resmi menjadi suamiku itu.


"Ma ... maaf. Bukan begitu maksud saya. Lagian kamu kenapa marah-marah segala? Saya kan suami kamu. Tahu kan adab seorang istri pada suaminya?"


"Ya tahu. Tapi suami yang nggak memberi hak-hak istrinya, apa harus tetap ditaati? Suami yang bahkan sudah sepekan menikahi istrinya, tapi sekedar mengajak bicara pun tidak. Lalu untuk apa dinikahi?"

__ADS_1


Aku menantang balik mas Ilham. Emosi ini benar-benar tersulut. Tak pernah terbayangkan akan saling sahut-sahutan seperti ini. Tapi aku melakukan ini gara-gara dia yang memancing terlebih dahulu!


Tiba-tiba saja mas Ilham menarik lembut kedua tanganku ke hadapannya. Mencium punggung tangan sembari mengucapkan kata maaf.


"Maafkan saya, Mil. Bukannya saya tak tahu bagaimana harus memperlakukan kamu. Tapi ada beberapa hal yang belum bisa saya selesaikan sehingga saya tak bisa memberimu hak sebagai seorang istri." Ia menatapku lekat. "Sekarang, jika kamu mengizinkan, biarkan saya menunaikan semuanya." tanpa menunggu jawaban dariku, ia mengambil kepalaku, membacakan doa yang seharusnya dibaca di malam pertama saat kami bersama. Pelan ia meniup ubun-ubun ku, lalu meraih kening dan menciumnya kembali. "Jamila Asila, izinkan saya sebagai suamimu untuk menunaikan nafkah batin yang seharusnya menjadi hakmu."


Malam itu, malam yang dimulai dengan perdebatan hingga menimbulkan sedikit luka di hati, diakhiri dengan malam pengantin yang penuh dengan cinta. Ya, entah kenapa, perasaan itu tiba-tiba muncul di hati. Aku merasa yakin bahwa aku telah jatuh cinta pada mas Ilham, lelaki yang telah sah menjadi suamiku. Aku bisa jatuh cinta karena caranya memperlakukan aku malam itu.


***


"Kamu sudah bangun?" mas Ilham mengusap pelan matanya, ia mengerjap-nherjao beberapa kali hingga benar-benar melihat sempurna ke arahku. "Mau salat kenapa tidak membangunkan saya?" Tanyanya lagi.


Ia tersenyum. Lalu bangkit dari tempat tidur. "Mau menemani saya mandi?" ia melirik manja padaku.


"Enggak ahhh, dingin." aku mengelak.


"Dingin? Kan ada air hangat. Ayolah, pahalanya juga besar lho." ia menarik tanganku, membantuku melepaskan mukenah. "Terimakasih sayang, terimakasih sudah bersabar menanti hingga akhirnya kamu bisa menjadi pengantin saya seutuhnya." kembali ia mendaratkan ciuman di kening.


Di balik dinginnya mas Ilham, tidak ku sangka kalau ia punya sikap yang sangat romantis juga. Caranya memperlakukan aku begitu lembut, membuatku benar-benar merasa nyaman.


***

__ADS_1


Belum dua puluh empat jam pergi dari rumah, entah sudah berapa kali Hpnmas Ilham berdering. Tak hanya itu, pesan yang masuk juga bertubi-tubi. Awalnya aku menahan diri dari rasa penasaran, tapi tak sengaja terbaca juga di layar depan. Ternyata yang menghubungi adalah mbak Ayu.


"Kenapa nggak di angkat, mas? Pesannya juga tidak dibaca?" tanyaku, saat kami menikmati sarapan di kamar hotel.


"Nanti saja." jawab mas Ilham, sambil menikmati sandwich di piringnya.


"Barangkali ada hal yang penting."


"Kalau penting, ibu akan ikut menghubungi juga."


"Apa ada sesuatu dengan mbak Ayu? Maksud saya, mungkin mbak Ayu tidak suka dengan kebersamaan kita?" Mas Ilham tidak langsung menjawab, ia kembali sibuk dengan sarapannya. "Maaf kalau saya salah bicara."


"Enggak ada yang salah, Mil. Hanya saja, Ayu butuh waktu atau mungkin ia butuh kelapangan hati. Ahhh, saya tak bisa menjelaskannya sebab semua begitu rumit. Ia yang mencari masalah sendiri." ujar mas Ilham dengan raut wajah kesal.


"Apa mbak Ayu menyesal dengan pernikahan kita?"


"Mil, kita tak usah bahas ini dulu, bagaimana? Bukankah ibu menyuruh kita ke sini untuk bulan madu? Bagaimana kalau kita bicarakan hal-hal tentang kita saja. Maksud saya, bagaimana dengan putri kamu. Putri saya juga. Yumna. Apa selanjutnya ia akan tetap tinggal di kampung atau diajak ke Jakarta?"


Karena mas Ilham menyebut nama Yumna, pikiranku langsung terruju pada putriku. Segera saja ku sampaikan segala harapanku agar bisa kembali bersama dengan gadis kecilku. Apalagi ia pun sudah beberapa kali merengek minta dijemput olehku.


"Baiklah, dalam waktu dekat kita jemput Yumna. Lagipula tak baik jika ia lama-lama berpisah dengan ibunya. Yumna masih terlalu kecil. Saya juga tidak mau pernikahan kita malah jadi penyebab berpisahnya ibu dan anak." ungkap mas Ilham.

__ADS_1


__ADS_2