MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
KEMBALI KE JAKARTA


__ADS_3

Pekan kedua di kampung halaman. Akhirnya aku dan Yumna dijemput oleh utusan ibu mertuaku. Sebenarnya aku belum akan mengajak Yumna sebab kondisi belum memungkinkan. Maduku dan anak-anak mbak Ayu belum bisa menerima kehadiranku, tapi Yumna memaksakan ingin ikut. Ia tak mau berpisah lagi, saat tahu ibunya akan berangkat ke Jakarta, Yumna langsung minta diajak.


Ayah dan ibu juga tidak lagi menahan Yumna agar tetap berada di kampung. Mereka tak tega kembali memisahkan kami, padahal kali ini aku yang berharap agar Yumna tak ikut dulu. Setidaknya sampai kondisi membaik. Tapi, tak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya terpaksa ku bawa Yumna meski tidak tahu bagaimana akhirnya nanti.


"Hati-hati di sana ya Mil, jangan lupa kabari kalau sudah sampai." pesan ayah dan ibu. Saat kami akan berangkat.


Perjalanan selama dua jam darat dan empat puluh lima menit lewat udara terasa begitu lama. Sepanjang perjalanan, aku sudah mengabari mas Ilham empat kali, tapi tak ada satu pesan pun yang ia balas. Entah bagaimana nantinya saat kami sampai di rumah besar itu sebab kini tak ada lagi yang peduli padaku.


Sampai di bandara, kami dijemput oleh ibu mertua. Harapanku, beliau bisa mengantar sampai ke rumah, lalu mendamaikan aku dan mas Ilham. Tapi sayangnya ibu harus terbang ke luar negeri untuk mengurus usahanya. Ia menyempatkan diri untuk bertemu denganku di bandara sebelum ia berangkat untuk memberikan dukungan.


"Kamu jangan mudah menyerah ya Mil. Ilham memang begitu karakternya. Ia tidak suka dikecewakan. Awal mula Ayu kehilangan perhatian Ilham juga karena Ayu membuatnya kecewa. Ada kata-kata Ilham yang ia bantah, ditambah sikapnya yang lama-kelamaan semakin posesif.


Tapi ibu percaya, kamu bisa meraih kembali hati Ilham. Apalagi sekarang kamu hamil anaknya Ilham. Jadi jangan menyerah ya. Ibu selalu mendukung kamu!" ibu memelukku erat sebelum akhirnya kita berpisah. "Ibu harap, sekembalinya dari perjalanan bisnis ini, mendapatkan kabar bahagia dari kalian. Yaitu kalian kembali rukun!"


Duh, kenapa ibu harus ada agenda perjalanan saat aku membutuhkan. Kalau tahu bakal menghadapi semuanya sendiri, lebih baik aku mengundur kepulangan ku. Sebab sebenarnya aku tak siap menghadapi ini semua sendiri.


Aku belum begitu paham karakter mas Ilham sebab interaksi antara kami masih sangat terbatas. Ditambah banyak masalah yang membuat kami semakin berjarak. Tapi kemarin aku juga tak punya pilihan, selain pulang untuk menemui Yumna.


Itulah salah satu pentingnya mengenal karakter calon pasangan kita. Untuk menghindari hal-hal seperti ini.

__ADS_1


"Mi, sekarang kita bagaimana?" tanya Yumna, yang duduk di kursi tunggu.


"Kita pulang sekarang!" kataku. Lalu mengajak Yumna naik ke mobil yang disediakan ibu untuk mengantarkan kami ke rumah. Sepanjang perjalanan, aku mencoba menguatkan diri sendiri, setidaknya sekarang ada sepasang mata Yumna yang akan melihat semuanya. Ia harus tahu bahwa ibunya kuat dan tangguh meski sebenarnya nyaliku ciut.


***


Sampai di depan rumah besar, rasanya merinding. Bukan karena horor, tapi aku tak tahu bagaimana tanggapan orang-orang di dalam sana nantinya. Kalau mereka menolak atau bahkan mengusir kami, entah harus kemana ku bawa Yumna.


Pintu dibuka oleh mbok Asih. Perempuan itu memelukku, lalu beralih mengambil tas kainku.


"Ayo Bu, masuklah." ajak mbok Asih. Saat melihatku masih berdiri di depan pintu.


Aku berjalan pelan memasuki rumah besar itu. Berusaha bersikap sebiasa mungkin. Orang pertama yang aku temui adalah mbak Ayu dan anak-anaknya. Mereka benar-benar tak menghiraukan kedatanganku. Saat disapa pun mereka tak menoleh sedikitpun, seakan aku dan Yumna tak ada di sini.


"Itu keluarga baru, Umi?" tanya Yumna, ceplas-ceplos. Aku mengangguk, sembari tersenyum. Ingin mengenalkan padanya, tapi sepertinya tak akan ada yang menanggapi.


***


Pukul enam pagi. Semua hidangan sarapan sudah tertata di meja makan. Aku hendak menuju kamar, memanggil Yumna agar segera bergabung di meja makan sebelum yang lainnya datang. Tapi, tak jauh dari meja makan, aku berpapasan dengan mas Ilham. Ini pertama kali kami bertemu setelah dua pekan berpisah. Sejak aku datang, ia belum balik, mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum mas." sapaku, sambil mengulurkan tangan. "Mas mau sarapan sekarang?" tanyaku, berbasa-basi saat uluran tanganku di abaikannya. Lelaki itu tak menjawab. Sikapnya sama dinginnya dengan istri dan anak-anaknya. "Mas!" panggilku, dengan suara agak keras. "Saya tahu mas marah, tapi setidaknya bicaralah. Jangan mendiamkan seperti ini, sungguh sangat menyiksa!" aku benar-benar terbawa emosi, hingga hampir menangis. Lelah didiamkan seperti ini.


"Kamu sendiri pergi tanpa izin dari saya. Apa itu baik? Kamu tahu kan bagaimana aturan seorang istri yang hendak bepergian? Kalau terjadi apa-apa dengan kamu bagaimana? Siapa yang tanggung jawab? Saya!" tegas mas Ilham.


"Ya saya tahu saya salah. Tapi apa mas paham isi hati saya? Saya benar-benar rindu dengan putri saya."


"Saya kan sudah bilang, akan mengantarkan kamu. Tapi nunggu sampai Ayu sembuh dulu. Apa susahnya sih nunggu sebentar? Toh sama saja, kan? Nanti juga bakal ketemu juga tanpa harus mencari masalah!"


"Mas enggak ngerasain, makanya gampang ngomongnya!"


"Jadi kamu kira saya tak paham isi hati kamu? Tidak peduli dengan kamu? Kalau nggak peduli, nggak akan saya tawarkan mengantar kamu pulang, Mila. Itu namanya kamu yang nggak bisa memahami suamimu. Atau jangan-jangan saya memang tak berarti untuk kamu? Hanya putri kamu yang kamu pikirkan. Lalu bagaimana dengan bayi saya? Bagaimana Mila? Kamu tahu tidak bahayanya hamil muda bepergian naik pesawat? Enggak tahu, kan?"


Kenapa masalahnya jadi merembet kemana-mana? Lagi-lagi aku diperlihatkan karakter lain dari mas Ilham yang belum aku ketahui sebelumnya. Ternyata benar kata ibunya, mas Ilham tipe laki-laki yang tidak suka dibantah dan dikecewakan. Sekali itu terjadi akan sulit baginya memberi maaf meski sebenarnya sudah berulang kali aku lontarkan permohonan maaf.


"Baiklah. Sepertinya tak ada gunanya menjelaskan semuanya. Sejujurnya saya sudah tidak sanggup didiamkan seperti ini. Sekarang terserah mas, saya sudah ada di sini, kalau mas tidak bisa menerima saya kembali, tak mengapa. Saya akan pulang ke kampung." kataku.


Menurutku, berdebat dengan tipe manusia yang tak mau disengkal hanya akan menghabis energi saja.


"Nanti kita bicarakan, setelah bayi yang kamu kandung lahir!" tegas mas Ilham.

__ADS_1


Innalilahi. Rasanya badanku benar-benar lemas. Aku benar-benar terperangkap di antara dua manusia dengan karakter aneh.


Jadi, mereka akan menahnaku di sini, tapi dengan mengabaikan keberadaan ku. Sama saja mereka akan menyiksaku secara perlahan. Aku hanya bisa tersenyum miris. Ia benar-benar sempurna menghukum sekaligus menyiksa batinku!


__ADS_2