
"Saya sudah siapkan sarapan kesukaan mas. Lontong sayur dengan kerupuk merah." Kataku, saat mas Ilham menuruni anak tangga terakhir. "Juga ada teh tawar hangat. Kesukaan mas juga " Tambahku, sambil menunjuk menu sarapan yang sudah ku hidangkan di atas meja makan. Semua ini berkat bocoran dari ibu sehingga aku bisa mengejar ketertinggalanku dari mbak Ayu yang lebih dulu menjadi istri mas Ilham, tentunya lebih hafal segala kebiasaan dan kesukaan mas Ilham.
"Eh eh eh, nggak usah. Mas Ilham sarapan nasi goreng saja. Sudah aku pesankan. Semalam mas bilang mau sarapan nasi goreng, kan? Nah, nasinya sudah di jalan, sebentar lagi sampai." tiba-tiba mbak Ayu menghampiri kami berdua.
"Kenapa harus beli, mbak?" tanyaku. "Kan sudah kusiapkan semuanya."
"Karena aku nggak bisa masak." jawab mbak Ayu dengan enteng sembari tersenyum padaku, tentu saja senyum usil. "Mila, kamu nggak perlu repot-repot masakin mas Ilham makanan karena ini Jakarta. Mau makan apa saja ada di sini, tinggal pesan, mau yang enak, enak banget atau super enak. Ada semuanya! Kalaupun kamu mau masak, ya masak untuk diri kamu sendiri saja. Oke!"
"Tapi mbak ... Selama ini kan saya yang ngurus masalah makanan, jadi nggak perlu repot-repot beli di luar. Lagian saya masih sanggup kok." aku protes dengan keputusan mbak Ayu yang tanpa bertanya langsung main pesan saja. "Kan sayang kalau makanan ini nggak ada yang makan."
"Itu kan kemarin-kemarin. Mulai sekarang aturannya sudah beda. Khusus makanan mas Ilham biar aku yang handle! Lagi pula Siapa bilang mubazir? Nanti bisa dimakan sama mbok Asih atau Farid." usul Mbak Ayu.
"Lho ya jangan. Masa masakan Mila dimakan Farid. Saya saja yang makan!" Tegas mas Ilham. Tentu saja membuatku langsung tersenyum lebar karena mas Ilham ternyata memilih makananku.
"Oh jadi mas mau makan masakan Mila? Kan semalam mas yang bilang pengen sarapan Nasi goreng pagi ini, sudah dipesankan nasi goreng istimewa buatan chef terkenal, eh malah nggak dimakan. Mas tahu nggak, meski itu bukan buatanku, tapi untuk mendapatkannya aku berjuang keras lho. Bayangkan, aku sampai memohon-mohin sama temanku yang punya restoran supaya bisa membuatkan nasi goreng itu padahal mereka baru buka siang hari. Untuk mendatangkan chef-nya pun harus bayar mahal!" Tegas mbak Ayu, sehingga membuatku jadi was-was. Apalah arti masaianku dibandingkan buatan chef bertaraf internasional yang bayarannya sangatlah mahal. Bisa dipastikan aku terbanting jauh.
"Bukan begitu Yu, tapi ...." mas iLham malah dibuat bimbang.
__ADS_1
"Nah itu, sepertinya pesanan ku sudah datang. Sebentar ya!" mbak Ayu cepat-cepat keluar, hanya dalam hitungan detik ia sudah kembali ke hadapan kami membawa bungkusan besar yang beraroma lezat sehingga membuatku harus menahan air liur. "Aku hidangkan ya. Mas harus memakannya!" Mbak Ayu menarik lengan mas Ilham menuju meja makan, lalu ia meletakkan makanan yang sudah ditata di depan mas Ilham. "Silakan makan, mas." kata mbak Ayu.
"Terus masakan saya siapa yang makan?" aku berjalan mendekati meja makan, lalu menunjuk masakan buatanku. "Mas harus adil lho," aku merajuk. "Mbak Ayu juga jangan curang. Kan kita sudah sepakat, saya yang mengurus masalah dapur, mbak ngurus pakaiannya mas Ilham. Kenapa sekarang malah merebut tugas saya?"
"Mila ... ini bukan masalah merebut, ya. Tapi masalah persaingan. Kita berdua sama-sama istri mas Ilham. Harus sama-sama bersaing untuk mendapatkan hatinya mas Ilham, salah satunya ya dengan makanan. Kalau aku memberikan kuasa untuk mengurus makanan secara penuh pada kamu, bisa kalah dong aku!" Cibir mbak Ayu.
"Lho, kalau begitu mulai sekarang saya juga mau ikut terlibat mengurus pakaian mas Ilham." aku juga tak mau menyerahkan masalah pengurusan sandang mas Ilham pada mbak Ayu.
"Eh enak saja, pakaian mas Ilham semuanya ada di kamarku. kamar kami berdua dan kamu nggak boleh masuk ke sana." mbak Ayu kembali mencibir.
"Bisa saja terjadi kalau mas nggak adil!" Kata kami berdua secara bersamaan.
"Ya ya ya. Mila, Letakkan saja di sini masakan kamu." Mas Ilham menunjuk sisi kosong di hadapannya. "Nanti saya habiskan semuanya supaya adil!" Mas Ilham benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dua piring makanan yang dihidangkan istri-istrinya langsung ludes di makan tanpa sisa sedikitpun,bahkan kuahnya pun habis dibuatnya. setelah itu mas Ilham mengeluh kekenyangan sehingga membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. "Saya benar-benar seperti ulat Segede bantal. Cukup sekali ini saja kalian menyediakan makanan secara bersamaan.. besok-besok jangan ulangi lagi. Kekenyangan itu rasanya tidak nyaman sekali. Ternyata diperebutkan istri juga tidak enak. Nasib nasib." mas Ilham pamit kerja sambil mengelus perutnya yang membuncit akibat kekenyangan.
***
Hari ini mbak Ayu tidak berangkat kerja. Katanya ia ingin belajar memasak padaku supaya kalau nanti mas Ilham ingin makan sesuatu maka ia bisa memasaknya sendiri.
__ADS_1
"Mbak kan sudah punya banyak kelebihan, urusan masak serahkan sama saya saja. Kalau mbak bisa masak, nanti apa dong kelebihan saya dibandingkan mbak?" kataku, menolak permintaan mbak Ayu dengan halus. "Dalam hal pendidikan sudah menang, kekayaan juga, kecerdasan juga. Jadi sudahlah ya."
"Duh Mila, jangan pelit-pelit dong. Apa salahnya kalau aku bisa masak? Toh biasanya murid juga nggak akan bisa menandingi gurunya."
"Salahnya, saya takut disaingi mbak." kataku sambil terkekeh.
"Kamu kan sudah dekat dengan ibu. Untuk poin itu aku nggak akan bisa mengalahkan kamu. ingat lho, bagi anak laki-laki, ibu adalah segala-galanya."
"Siapa bilang? Kemarin ibu baru saja curhat, katanya sudah merasa nyaman dekat dengan mbak. Malahan ibu pengen ngajakin mbak Ayu jalan ke mall, soalnya kalau ngajakin saya ibu nggak terlalu suka karena saya nggak suka belanja-belanja."
"Oh ya? Kamu beneran kan Mil?"
"Iya dong mbak. Sejak kapan aku pernah membohongi mbak."
"Oh senangnya! Lagi-lagi aku berhutang sama kamu, Mil. Ternyata nggak rugi juga ya punya adik madu seperti kamu." kini giliran mbak Ayu yang terkekeh. "Mil, kalau begitu kamu harus ajarin aku masak, kamu tenang saja, aku nggak akan masak untuk mas Ilham, tapi masak untuk ibu karena aku ingin seperti menantu-menantu yang lain, melayani mertuanya dengan masakan. Kamu mau kan Mil."
Tentu saja permintaan mbak Ayu aku terima. Ia mau berubah saja sudah membuatku senang, apalagi kalau mbak Ayu juga mau berbaikan dengan ibu. Ku harap hubungan mereka semakin membaik dari hari ke hari.
__ADS_1