
Menjadi ibu dari enam anak dengan kondisi sekarang menjadi tulang punggung keluarga sebab suami yang sedang tak sadarkan diri membuatku harus bekerja keras agar semua kebutuhan anak-anak tercukupi. Juga perhatian yang tak boleh berkurang sebab tak hanya materi, mereka juga butuh kasih sayang. Beruntung, saat semuanya benar-benar merepotkan, ada Iqbal yang selalu siap siaga membantuku. Ia benar-benar membuktikan kata-katanya. Iqbal selalu ada untukku.
Hari ini, setelah dua pekan absen membesuk mas Ilham, aku berinisiatif mengajak seluruh anak-anak untuk membesuk Abi mereka. Anak-anak memang sudah hampir tiga pekan tak bertemu mas Ilham. Sebab jadwal sekolah mereka yang padat ditambah aku punya pekerjaan yang tak bisa ditinggal.
Anak-anak begitu gembira sebab sebentar lagi akan bertemu dengan Abi mereka..tak lupa mereka membawa oleh-oleh, panganan yang tentunya hasil buatan mereka sendiri.
Baru saja kami hendak keluar dari pintu rumah, tiba-tiba seseorang masuk. Mas Ilham, ia datang bersama ibu dan seorang perawat yang biasanya merawat mas Ilham di rumah sakit.
"Abi!" Teriak anak-qnak yang langsung menyerbu kepulangan ayahnya.
"Mas sudah sehat? Kenapa tidak bilang kalau mas pulang hati ini, setidaknya kami bisa ...." belum selesai aku bicara, mas Ilham sudah memotong.
__ADS_1
"Sekarang aku tahu bagaimana kamu yang sebenarnya, Mil. Kamu sudah sangat lancang dan tidak melaksanakan tugasmu sebagai istri. Kamu menjual rumah kami tanpa seizin ku dan tidak pernah mengunjungi aku saat di rumah sakit!" tegas mas Ilham yang tentunya membuat kami kaget.
Aku menjual rumah itu karena sudah tak punya pilihan lain. Ada hutang dan biaya-biaya yang harus diselesaikan secepatnya.
Sementara itu, absen dua pekan karena tanggung jawab mencari nafkah yang belum bisa ku tinggalkan. Sayangnya mas Ilham tidak mau mengerti itu, ia terus menyudutkan aku.
"Abi jangan begitu, umi sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Kalau Abi merasa umi Mila tidak mengurus Abi, itu karena umi punya tanggung jawab lain yang tak bisa ditinggal. kalau umi tetap merawat Abi, yang ada kami semua tidak bisa makan dan sekolah!" Kata Asad, yang dibenarkan adik-adiknya.
"Iya Bi!" Anak-anak yang lain membenarkan.
"Tidak bisa." Iqbal maju. "Aku nggak setuju kalau Abi menikah lagi, apalagi karena alasan umi tidak menjaga Abi. sebaga anak sulung, akulah yang melihat bagaimana umi berjuang untuk keluarga kita, bahkan umi juga membantu mengambil alih tanggung jawab Abi."
__ADS_1
Mas Ilham dan Iqbal berdebat. aku yang semula ingin mengajukan keberatan kini tak perlu lagi bicara sebab Iqbal dan adik-adiknya sudah pasrah badan untukku. Kalaupun nanti pada akhirnya mas Ilham tetap bersikeras untuk menikah lagi, aku sendiri sudah pasrah. Mungkin aku akan mengundurkan diri sebagai istri mas Ilham karena tak sanggup punya madu lagi, namun akan tetap mengurus anak-anak.
Perdebatan itu akhirnya berakhir dengan tepuk tangan dari ibu mertua yang tersenyum puas. "Lihat kan Ilham, ternyata Mila benar-benar berhasil mendidik anak-anak. Kini mereka sudah bisa bersikap sesuai dengan apa yang mereka inginkan." kata ibu. "Mila ... Cucu-cucuku sekalian, rencana Abi kalian untuk menikah itu tidaklah benar. Ia hanya takut pulang namun keadaan masih kacau seperti sebelumnya, makanya berinisiatif demikian."
"Apa?" Iqbal paling kaget. "Jadi maksudnya abi mau mengatakan kalau Abi hanya menguji kami? Begitu? Astagfirullah, Bi, kalau Abi melakukannya karena kewalahan dengan ulah kami tak mengapa namun jangan melakukan ini pada umi yang sudah berjuang keras untuk keluarga ini!"
"Maafkan Abi, nak, Abi hanya tak mau kalian tidak akur apalagi sampai tidak menerima ibu kalian sebab umi Mila adalah orang yang baik. Kalian tidak akan mendapatkan ibu pengganti sebaiknya." Ucap mas Ilham.
"Jangan hanya minta maaf pada kami, tapi juga minta maaflah pada umi!" Tegas Hana.
"Ya ya ya. Mila, maafkan aku, aku yang banyak salah dan sudah membuatmu berada dalam banyak masalah. Tolong, terimalah aku kembali." pinta mas Ilham.
__ADS_1
Aku tak bisa berkata-kata, hanya bisa mengangguk sambil menyeka air mata yang turun tanpa permisi. Mas Ilham memelukku, diikuti teriakan anak-anak. Kemudian mereka ikut menyerbu memelukku.
--- TAMAT ---