
"Hari ini kita akan makan siang di luar, sekalian supaya kamu bisa kenal dengan anak-anak kami." begitu kata mbak Ayu, saat mendatangi kamarku. Makanya sekarang aku bersiap-siap, karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Kata mbok Asih, keluarga ini sangat disiplin sekali, semua sudah teratur dengan jadwal yang ditetapkan mbak Ayu. Makan siang biasanya ba'da Zuhur, makanya aku sudah bersiap sebelum azan berkumandang karena kami harus melakukan perjalanan sebelum sampai ke lokasi tempat makan siang.
Benar saja, tak berapa lama pintu kamarku diketuk mbok Asih. Katanya mbak Ayu dan anak-anak sudah menunggu di luar. Kami akan berangkat duluan, sementara mas Ilham akan menyusul langsung ke resto yang sudah ditentukan oleh mbak Ayu.
Semua orang sudah duduk di tempat masing-masing. Hanya tersisa aku yang masih berdiri mematung di depan pintu masuk mobil karena tak tahu harus duduk di mana. Semua kursi penuh dan tak ada yang berinisiatif untuk berpindah.
"Ayo Mil, segera!" Kata mbak Ayu. "Kita bisa terlambat kalau kamu diam mematung di sana." tambahnya.
Sebenarnya bingung mau duduk dimana. Tapi aku ingat kata mbok Asih bahwa Sabrina adalah anak mbak Ayu yang paling cepat dekat dengan orang lain, ia tergolong anak yang ramah. Makanya aku berinisiatif mendekati anak nomor empat tersebut yang duduk di kursi pojok paling belakang bersama saudaranya yang lain.
"Sabrina ... boleh nggak Tante duduk di sini? Nanti Sabrina Tante pangku." aku tak menunggu jawaban darinya, langsung duduk setelah mengangkat tubuh gadis itu. Lalu menaruhnya di pangkuanku. Benar saja kata mbok Asih, Sabrina tidak menolak sedikitpun. Ia juga sepertinya tidak keberatan jika aku pangku.
"Rid, ayo jalan!" perintah mbak Ayu.
Mobil mulai berjalan meninggalkan rumah besar yang baru saja menjadi tempat tinggalku. Kami kebali melewati jalan yang dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat. Suasana dalam mobil benar-benar hening. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengajak Sabrina mengobrol, tapi kakaknya Hana langsung mencubit lengan Sabrina, ditambah ibunya sempat melirik tajam sehingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk tutup mulut. Tak mau lagi menjawab pertanyaan yang aku ajukan.
Hanya lima belas menit perjalanan menuju tempat makan. Tapi terasa begitu lama karena berada di dalam mobil dengan suasana yang sangat tidak nyaman. Harusnya, dalam mobil yang dipenuhi anak-anak terdengar banyak canda tawa atau setidaknya ada ocehan-ocehan yang bisa mencairkan suasana. Tapi tidak dengan kondisi dalam mobil yang aku tumpangi, bahkan balita kecil yang dipangku oleh ibunya pun tidak berceloteh sedikitpun.
Entah ini hanya perasaanku saja atau memang begitulah keadaannya. Aku merasa anak-anak ini tidak menerima kehadiranku. Ditambah sikap ibunya yang tiba-tiba dingin. Mbak Ayu yang sekarang dengan yang ku temui saat ia datang melamar sungguh berbeda. Ia tak lagi banyak bicara atau hangat melainkan jadi pendiam dan terasa dingin.
Apa yang salah?
Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali sudah melakukan kesalahan yang membuat mbak Ayu marah. Tapi rasa-rasanya tidak ada. Semua yang dikatakan mbak Ayu sudah aku ikuti. Tapi kenapa sekarang sikapnya terasa berubah.
__ADS_1
"Ahhh sudahlah Mila. Jangan terlalu dipikirkan. Bisa saja karena kamu lelah dan merindukan Yumna, makanya tiba-tiba jadi sensitif seperti ini!" aku berusaha membesarkan hatiku sendiri. Aku harus bisa membuat keadaan menjadi nyaman agar Yumna bisa segera ke sini.
"Kita sudah sampai!" kata mbak Ayu. Ia turun duluan, diikuti oleh anak-anak yang lain. Aku dan Sabrina turun belakangan. Tak ingin berjalan sendiri seperti orang asing, akhirnya aku menggandeng tangan Sabrina yang kebetulan berada di sisiku. Tapi kakaknya Hana tiba-tiba menarik tangan Sabrina dan mengajaknya agar menjauh dariku.
"Duh, kenapa lagi sih ini? Kenapa semuanya jadi dingin begini!" aku menggumam dalam hati.
Resto yang dipilih mbak Ayu terbilang mewah. Lengkap dengan saung dan area bermain untuk anak-anak. Ia sudah memesankan satu saung. Makanan pun sudah terhidang di sana. Kami digiring untuk salat Zuhur sebelum ke meja makan, tak berapa lama mas Ilham muncul.
"Sebelum kita makan, Abi mau mengenalkan Umi Mila pada kalian. Mulai sekarang beliau adalah bagian dari keluarga kita. Sama seperti Umi Ayu ...." kata mas Ilham.
"Enggak. Enggak sama. Umi ya Umi, Tante ini ya Tante ini." cetus Iqbal.
"Bal," mbak Ayu melirik putra sulungnya. "Betul yang dikatakan Abi. Ini juga Umi kalian. Umi Mila sudah menikah dengan Abi. Sama seperti Umi."
"Hem," mas Ilham berdehem. "Kita makan Sekarang!" tegas mas Ilham.
"Mil, boleh kamu pegangin Ibed sebentar?" tiba-tiba mbak Ayu menyodorkan Ibed ke pangkuanku. "Aku mau mengambilkan makanan mas Ilham dan anak-anak dulu." Tambahnya.
"Oh ya mbak," Kataku. Kini Ibed sudah berada di pangkuanku. Sayangnya balita berusia dua tahun itu tak suka dengan orang asing. Makanya ia langsung menangis. Aku yang semula hanya menimang sembari duduk terpaksa harus berdiri agar tangisnya reda. Tapi bukannya reda, Ibed terus-menerus menangis, ia bahkan sampai meronta minta dikembalikan ke ibunya.
"Di bawa ke sana dulu, Mil. Barangkali bisa diam." mbak Ayu menunjuk arah tempat permainan anak-anak. Akupun hanya bisa mengikuti petunjuk mbak Ayu meski sebenarnya agak bingung juga menenangkan Ibed yang sudah terlanjur tantrum.
Cukup lama Ibed menangis, akhirnya tangisnya reda juga. Entah karena ia sudah mulai terbiasanya denganku atau karena lelah minta dikembalikan ke ibunya tapi tak kunjung dikembalikan. Makanya ia menyerah.
__ADS_1
Kini, aku dan Ibed duduk di atas ayunan. Kami berayun-ayun sembari menikmati angin semilir yang memainkan ujung kerudungku. Tak sengaja pandanganku tertuju pada saung tempat mas Ilham, mbak Ayu dan anak-anak mereka makan.
Mereka tampak tenang menikmati makanan. sesekali terdengar celoteh antara mereka yang diikuti oleh gelak tawa. Terdengar cukup jelas sebab jarak saung dengan taman bermain tak terlalu jauh.
Dalam situasi seperti ini, tiba-tiba saja aku merasa berkecil hati. Aku ini siapa sih? Bukankah aku adalah istri mas Ilham juga. Istri yang sah. Tapi kenapa saat mereka makan bersama sembari tertawa-tawa, aku justru disuruh mengasuh salah satu anaknya. Ya memang ini juga sudah menjadi anakku juga, tapi kenapa enggak bersama-sama saja di sana. Kalau ada yang menangis bisa didiamkan bersama-sama. Kalau begitu kan rasanya lebih enak. Bukan seperti ini. Rasanya aku benar-benar seperti orang asing yang terasing, padahal aku sudah menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Ibed, lapar nggak?" tanyaku, pada anak berusia dua tahun itu.
"Lapel," jawabnya dengan suara cadel.
"Makan yuk?"
"Enggak mau."
"Katanya laper, kok nggak mau makan? Umi laper nih."
"Umi mamam,"
"Iya umi mau makan."
"Tuh umi mamam."
"Bukan Umi Ayu, tapi Umi Mila." aku menunjuk diri sendiri, berusaha Mengenalkan pada Ibed bahwa aku sekarang ini juga ibunya. Tapi anak itu menggelengkan kepalanya sembari menunjuk ibunya yang berada di saung.
__ADS_1
"Tu umi, tu umi." tunjuknya.