MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PENINGGALAN YANG DIPERTANYAKAN


__ADS_3

Aku dan mas Ilham tak banyak bicara. Lebih tepatnya aku yang memutuskan pembicaraan meski ia mengatakan sudah sangat merindukan aku dan berharap aku mau segera kembali. Memang benar mas Ilham tak bersalah dalam masalah ini, ia tak tahu menahu soal kejadian tabrak lari yang dilakukan mbak Ayu. Tapi tetap saja ia terkena getahnya sebab bagiku, ia juga menjadi pemicu mbak Ayu membawa mobil ngebut. Ia juga yang menjadi penyebab suasana hati mbak Ayu buruk saat itu meskipun bisa jadi mbak Ayu dalang dibalik semua itu. Tapi tetap saja, mbak Ayu adalah istri mas Ilham dan bagiku ia ikut bertanggung jawab atas ulah istrinya.


Tamu-tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini hanya tersisa aku, Yumna, ayah, ibu, uni Siti dan anak-anaknya, serta beberapa keluarga jauhnya emak.


"Alhamdulillah acara pemakaman hingga pengajian emak sudah berlangsung dan semuanya lancar." kata ayah.


"Lalu bagaunana dengan rumah ini?" tanya salah seorang kerabat laki-laki emak yang kami panggil uwak. Ia terhitung sepupu jauh emak. Namun tinggal di sekitar sini.


"Kenapa dengan rumah ini?" pertanyaan itu terlontar secara spontan, mengingat sudah beberapa kali aku mendengar pertanyaan yang sama terlontar padaku.


"Ini langsung saja ya Mil. Bapak, ibu. Kita semua kan sudah sama-sama tahu kalau Mila sudah tidak lagi menjadi istri Hasan sebab ia sudah menikah dengan laki-laki lain." lelaki itu menjeda pembicaraannya sejenak. "Itu berarti, Mila bukan lagi menantu emak. Berarti Mila tidak punya hak lagi atas rumah ini. Bukan begitu?"


"Astagfirullah." Aku menggelengkan kepala..kini baru sadar kemana arah pembicaraan mereka. Yaitu warisan. Rupanya mereka sedang jaga-jaga agar aku tak menyentuh harta emak sedikitpun sebab aku tidak dianggap lagi sebagai menantu emak. Memang benar aku sudah menikah lagi, tapi bukankah emak baru meninggal beberapa jam lalu, belum tepat rasanya untuk membicarakan mengenai warisan.

__ADS_1


"Hem," ayah berdehem. "Kalian tidak melupakan Yumna, kan? Ia anaknya Hasan. Anak kandungnya Hasan. Cucunya emak satu-satunya." kata ayah dengan suara pelan namun tegas. Aku sangat yakin kalau ayahpun geram dengan ulah saudara-saudara emak yang membahas masalah warisan masih di hari yang sama saat almarhumah meninggal. Benar-benar tidak etis. Lagi pula itu bukan hak mereka. Menurut Islam, mereka juga tidak berhak mendapatkan warisan sebab terhitung sudah saudara jauh.


Semua orang saling pandang. Seperti baru menyadari kalau yang dikatakan oleh ayah benar. Mereka melupakan keberadaan Yumna, hanya karena aku sudah menikah lagi.


"Jadi bagaimana?" tanya Ayah.


"Hem," uwak berdehem. "Jadi begini Datuk, sebenarnya kami hanya ingin memastikan bahwa rumah ini tak akan dijual mengingat rumah ini adalah peninggalan emak. Rumah ini sebenarnya sudah turun temurun dari kakek buyutnya Hasan terus ke ibunya. Meski rumah ini sudah tua dan tak terlalu besar, namun dijadikan sebagai tempat perkumpulan para saudara. Terutama saat lebaran. Mila pasti tahu itu, kan? Ada banyak kenangan tentang leluhur kami di sini. Termasuk kenangan nenek dan ayahnya Yumna. Sangat sayang kalau semua itu harus hilang dari persaudaraan kita."


"Lalu, semisal kami mau menjual bagaimana? Yumna punya hak penuh. Apalagi ia sekarang jadi anak yatim, butuh biaya hidup. Kami tak punya kewajiban atasnya. Jadi, apapun peninggalan Hasan dah emak, bisa dijadikan sebagai biaya hidup Yumna. Itu hak kami sebagai wali Yumna, secara hukum jelas-jelas tidak bisa digugat, kan?" ayah malah mengeluarkan statement yang membuat orang-orang yang hadir di rumah ini jadi ketar-ketir.


"Jadi bagaimana?" tanya ayah lagi. "Mau protes, atau malah ingin menggugat? Silakan. Secara hukum kalian tak akan menang sebab kami punya ahli warisnya!"


"Tentu tidak Datuk. Kami hanya ingin tahu saja rencana Datuk dan keluarga selanjutnya. Kalaupun Datuk mau menjualnya, meski berat, kami tak bisa menentang. Silakan Datuk lakukan apapun yang baik menurut Datuk. Tapi kalau kami boleh meminta bantuan, mohon untuk tidak menjual rumah ini sebab ada keluarga kami yang secara perekonomian sangatlah kekurangan. Selama ini emak sesekali memberikan mereka tumpangan tempat tinggal meski tak rutin. Kami harap rumah ini bisanterus dipergunakan oleh saudara-saudaranya. Hanya itu harapan kami, Datuk..silakan jika Datuk memberikan tanggapan." katanya.

__ADS_1


"Maaf saya potong." aku meminta izin untuk bicara mewakili ayah. "Kalau memang uwak dan yang lainnya ingin memanfaatkan rumah ini, silakan. Tapi saya minta untuk tetap menjaganya sebab kami tak akan menjual rumah ini, melainkan akan kami biarkan sebagai kenangan untuk Yumna nantinya." kataku.


"Alhamdulillah. Baiklah. Kami akan pergunakan rumah ini sebaik mungkin. Akan kami jaga juga. Kami benar-benar berterima kasih pada nak Mila " meski belum puas dengan hasil yang mereka dapatkan, tapi uwak dan saudara-saudara yang lain tetap berterima kasih.


Aku sengaja mempercepat diskusi ini sebab tak mau ada kesalah pahaman nantinya. Aku tak mau harus bermusuhan sebab yang namanya warisan itu biasanya sangatlah sensitif. Jangan sampai apa yang sudah diusahakan oleh yang sudah meninggal malah memberatkannya di akhirat nanti sebab dijadikan rebutan.


"Matre sekali. Belum apa-apa sudah membahas masalah warisan. Masih mending kalau saudara kandung, lha ini jatuhnya sepupu jauh. Apa mereka benar-benar tak punya sedikitpun harta hingga harus meminta harta orang lain. Tidak malu apa, badan masih sehat-sehat, usia juga masih bisa untuk bekerja. Malah mencari jalan pintas untuk hidup enak." Ibu terus mengomel, di sepanjang perjalanan menuju rumah.


"Hem," tiba-tiba ayah berdehem.


Kami semua melirik ke arah ayah, lalu sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya, kadang, saking lelahnya dengan kemiskinan, orang-orang memilih jalan pintas yang ada untuk keluar dari zona tidak nyaman. Sama sepertiku. Semula, karena tak kuat melihat ayah yang harus bekerja keras di usianya yang tak muda lagi, semnetara aku sendiri tak bisa melakukan apapun, akhirnya memilih untuk menerima lamaran sebagai istri kedua. Sekarang, aku malah mendapatkan banyak ujian yang menurutku lebih berat ketimbang ujian kemiskinan.


Setidaknya, kalau miskin aku masih bisa memaksakan diri untuk bekerja. Atau bersabar dengan kemiskinan tersebut. Tapi kalau sekarang, semua sudah terjadi. Mau mundur akan ada masalah, tetap maju pun masalah itu akan terus ada.

__ADS_1


"Semoga saja apa yang jadi pilihan kita bukanlah sebuah jalan pintas yang salah," kata ibu, sembari terus melangkah di depanku, beriringan dengan Yumna dan keponakanku yang lainnya. Sementara bapak berada di belakang ibu. Aku dan uni Siti dinurutan paling belakang.


__ADS_2