MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
Mencoba Peruntungan Baru


__ADS_3

Aku dan mas Ilham sudah berada dalam mobil. Tetapi ia belum juga menjalankan mobilnya.


"Kenapa Mil? Kenapa kamu kelihatan tidak senang?" tanya mas Ilham, sembari mengusap pelan kepalaku. "Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?"


Melihat sikapnya itu membuatku tenang. Aku tersenyum. "Mas, kalau ada perempuan yang menawarkan dirinya menjadi istrimu, apakah mas akan menerimanya?" tanyaku


"Kenapa?"


"Jawab saja, mas. Enggak apa-apa. Jangan pikirkan perasaan saya. Saya tidak apa-apa, kok. Saya ingin kita sama-sama terbuka."


"Bukankah sudah saya katakan sebelumnya, Mil. Poligami bukanlah keinginan saya. Punya satu istri rasanya sudah cukup. Sungguh."


Aku tersenyum. Aku percaya pada mas Ilham, namun tetap mengikuti jalan takdir yang Allah tetapkan untuk kamu.


"Apa ada yang menyinggung masalah ini?" tanya mas Ilham lagi.


"Ya, ada yang mengatakan mas mencari istri baru secara langsung kepadaku. pernyataan yang membuat tidak nyaman."


"Siapa?"


"Apakah perlu saya jawab?"


Mas Ilham tersenyum. Sebenarnya ia tak peduli. Tapi jika sudah mengganggu ketenangan saya maka ia harus bertindak.


"Saya sebenarnya juga sudah merasa tidak nyaman dengan isu poligami ini." Mas Ilham mulai bercerita. "Jadi, beberapa pekan terakhir ini, setelah Ayu meninggal, banyak sekali rekan-rekan kerja yang mencandai maupun serius menanyakan masalah poligami. Bahkan ada yang menawarkan teman atau saudari perempuannya. Jujur itu membuat saya tidak nyaman. Masalah poligami menurut saya bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan candaan, apalagi baru saja kehilangan istri. Tak akan mudah menggantikannya. Ditambah dengan cerita kehidupan kita yang awalnya cukup pelik. Tapi orang-orang banyak yang menganggap bagi laki-laki mengganti istri apalagi yang sudah meninggal itu mudah saja. Dipikirnya kita tidak punya perasaan." Mas Ilham malah mengomel. "Kini saya hanya ingin setia dengan satu wanita, Mil, yaitu kamu. Saya ingin fokus pada kamu dan anak-anak. Hanya keluarga kita!"


Aku kembali tersenyum sembari memeluk lengannya erat-erat.


"Rasanya disini benar-benar tidak nyaman," sambung mas Ilham.

__ADS_1


"Kalau tidak nyaman, kenapa tidak keluar saja?" kataku


"Keluar? Mau kerja apa? Mulai dari nol? Yakin? Kamu nggak apa-apa kalau suaminya hanya orang biasa? Tidak ada yang bisa dibanggakan dari saya."


"Enggak apa-apa, mas. Sungguh. Dulu pun saya hanya seorang istri dari laki-laki biasa. Bagi orang-orang memang tak ada yang spesial, tapi bagi saya luar biasa sebab ia menafkahi dan menjaga keluarganya dengan sangat baik."


"Hemmn," mas Ilham menunjukkan isyarat tidak nyaman


"Eh maaf mas, saya benar-benar tidak bermaksud membandingkan mas dengan ayahnya Yumna." kataku.


"Ya Mil, tapi sekali ini saja ya kamu


membahasnya si depan saya. Kini saya lah yang menjadi suami kamu. Saya tidak rela kalau kamu masih memikirkan ayahnya Yumna meski kalian punya anak yang menyatukan."


"Iya mas, lain kali saya akan lebih berhati-hati."


***


Kami berdua sama-sama sudah berdiskusi akan membuat sebuah kantor kecil-kecilan dengan modal tabungan mas Ilham.


Keputusan mas Ilham ini tentunya di tentang ibunya dan Bu Sila. Mereka khawatir mas Ilham tak akan bisa mencapai target hingga nantinya tak bisa membiayai anak-anak yang biayanya tidaklah murah. apalagi untuk pendidikan anak-anak yang semuanya bersekolah di Internasional School.


"Kamu terus kuatkan aku, ya, Mil!" Pinta mas Ilham.


Aku mengangguk. Aku tak akan pernah memandang ekonomi mas Ilham, yang terpenting adalah bagaimana semuanya berjalan lancar dulu. Walau pendapatannya tak sebesar sebelumnya, yang penting mas Ilham tetap nyaman.


***


Selain membersamai mas Ilham, aku juga harus mengurus anak-anak yang hingga kini, tiga orang anak tertua belum juga dapat ku kendalikan.

__ADS_1


Hampir tiap pagi terjadi pertengkaran di rumah. Semuanya terjadi karena provokasi dari Iqbal. ia bahkan tak peduli aduannya itu akan membuat kekacauan di rumah. Apalagi Dua adiknya itu masih labil setelah kepergian ibunya.


"kalau kamu tetap tidak bisa nurut juga, lebih baik kamu sekolah di pondok saja, Bal. Abi sudah tidak sanggup melihat ulah kamu. Minimal sekali sepekan kami harus ke sekolah memenuhi panggilan gurumu karena masalah -masalah yang kamu buat. Itu benar-benar menjengkelkan, Bal." Kata mas Iqbal.


"Itu urusan Abi, kalau tidak mau semuanya jadi berantakan harusnya dari awal Abi berpikir. Jangan sembarangan membawa perempuan lain dalam keluarga kita hingga umi harus meninggal!" jerit Iqbal. "Ini lagi, terus mengancam. Abi kan kepala keluarga, masa menyelesaikan masalah seperti ini. buruknya itu karena abi bersama perempuan itu "


"Iqbal!"


"Abi harus mengaku, sejak bersama dia hidup kita kacau. kita kehilangan Umi, Abi sudah tidak lagi menjadi ketua yayasan padahal dulu umi yang berjuang keras untuk memenuhi mimpi Abi. Makanya sadarlah, Bi, sebelum semuanya terjadi."


"Kamu jangan sembarang ngomong, Bal!"__


Mendengar perdebatan itu aku hanya bisa mengelus dada. Membisikkan pada diri sendiri agar tenang meski sebenarnya kata-kata Iqbal sudah sangat keterlaluan. Tapi kalau ditanggapi, khawatirnya ia semakin membenciku.


"Pokoknya Abi tidak mau tahu, pekan depan kamu akan Abi masukkan ke pondok temannya Abi yang ada di Bogor agar kamu tidak membuat masalah lagi." ancam mas Ilham. ia melakukan itu karena sangat khawatir pada Asad dan Hana yang terus dipengaruhi oleh Iqbal. Akhirnya sekarang kedua anak itu juga ikut-ikutan jadi pembangkang.


"Mas, apa sebaiknya saya menjauh dulu dari anak-anak." kataku. "Mungkin mereka butuh waktu untuk mengenang ibunya. Mungkin beberapa bulan sampai mereka siap kembali menerimaku.


"Menjauh bagaimana Mil?" mas Ilham mengerutkan keningnya.


"Pindah dulu agar mereka tenang." aku berpikir begitu karena khawatir menjadi penyebab anak-anak jadi tidak teratur.


"Jangan, kamu tak perlu melakukan itu semua. justru sebaliknya kita harus selalu bersama menghadapi ini semua." kata mas Ilham.


Meskipun mas Ilham mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tetap belum tenang karena kini ada sepasang mata yang mengawasi aku dengan tatapan tak suka.


Asad. Ia yang biasanya tak banyak bicara kini mengintimidasi aku dengan tatapan penuh kebencian. Meski begitu aku pun berusaha untuk tenang.


Kata mas Ilham, untuk mengahadapi Asad jangan pernah terbawa permainannya,jika sudah kecewa biasanya akan sulit dihadapi.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan hati mereka karena aku sekarang adalah ibunya. Aku sangat menyayangi mereka seperti aku menyayangi Yumna."


Aku juga berusaha memahami hati mereka karena memang tak mudah untuk anak-anak kekurangan teman..


__ADS_2