MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
TABAYYUN


__ADS_3

Sekitar dua puluhan orang ibu-ibu berkumpul di teras mushalla. Aku yang mengumpulkan mereka, tentu saja setelah minta izin takmir dengan undangan khusus. Mereka adalah orang-orang yang kami perkirakan sering mempergunjingkan aku. Sesuai dengan informasi dari ibu dan uni Siti. Ada yang ku kenal cukup dekat karena kami bertetangga, ada juga yang hanya tahu nama saja karena aku memang jarang berinteraksi dengan orang lain.


Didampingi uni Siti, aku menyampaikan kata sambutan, alasan mengapa aku mengundang mereka. Ingin berbagi kisah sekaligus menjelaskan secara tersirat bahwa rumah tanggaku baik-baik saja meski aku adalah istri kedua. Jadi sebenarnya tak perlu mereka membicarakan aku.


"Jadi ibu-ibu, yang namanya istri di poligami bukan berarti direbut oleh pelakor. Istri kedua itu tak serendah itu." kataku, sambil tersenyum, berusaha sesantai mungkin meski sebenarnya dadaku bergemuruh menahan geram, ingin menceramahi mereka bahwa poligami yang sesuai syariat itu tak sejelek apa yang ada di pikiran mereka. Tapi memang begitulah pandangan orang-orang saat ini tentang poligami, selalu dianggap jelek. Padahal tak semuanya, hanya gara-gara ulah oknum, jadi semuanya dianggap sama. "Setelah saya paparkan, apakah ada yang mau bertanya? Mau menanyakan tentang rumah tangga yang saya jalani juga tidak apa-apa." Kataku.


"Mumpung di persilahkan, lebih baik tanya sekarang ibu-ibu. Dari pada dibicarakan di belakang, namanya ghibah. Dosa!" Tegas uni Siti, sehingga membuat ibu-ibu senyum-senyum malu. "Ibu-ibu nggak mau kan, dosanya berpindah ke orang yang digunjingkan? Makanya, kalau ada yang mengganjal, tanyakan sekarang saja!" tambah uni Siti lagi.


Karena tak ada yang mau bertanya atau sekedar mengeluarkan argumen, makanya ku minta uni Siti membagikan bingkisan makanan dan sembako yang sudah aku persiapkan. Sengaja aku memberikan mereka hadiah cukup banyak dengan harapan mereka malu untuk membicarakan aku lagi. Selain tak ada manfaat untuk mereka, juga hanya akan menambah dosa saja.


"Ini adalah ucapan terima kasih saya pada ibu-ibu yang sudah membicarakan saya di belakang. Saya tahu keputusan saya untuk menikah lagi sebagai istri kedua adalah keputusan yang cukup kontroversial, tapi InshaAllah tak ada syariat yang saya langgar dan menurut Allah ini dibolehkan. Makanya saya melakukannya." kataku.


Lagi-lagi mereka diam. Malu untuk mengambil hadiah yang sudah ku siapkan, tapi sayang juga kalau ditinggalkan sebab bingkisan itu sangat mereka butuhkan karena rata-rata orang kampungku perekonomiannya menengah ke bawah, bahkan lebih banyak yang di bawah garis kemiskinan. Makanya kalau ada bantuan seperti ini sangat berarti sekali untuk mereka.


Rasanya sudah cukup memberikan penjelasan pada mereka. Makanya ku persilakan mereka untuk pulang dengan harapan tak ada lagi pembicaraan di belakang tentang aku.

__ADS_1


"Uni Dewi!" aku menahan salah satu ibu-ibu yang ikut hadir di teras mushalla. "Bingkisannya tidak di bawa?" Tanyaku. Saat melihat Uni Dewi melenggang setelah meninggalkan bingkisan yang memang disiapkan untuknya.


"Tak perlu Mil, berikan pada yang lain saja." Uni Dewi hendak berlalu.


"Kenapa? Uni masih punya malu untuk mengambil? Tak enak hati setelah apa yang uni lakukan pada saya?"


"Kamu bicara apa sih Mil? Oh ya, kalau mau membahas masalah pribadi, lain kali jangan pakai mushalla. Kan bisa di rumah kamu. Rumah kamu kan sudah luas sekarang. Menampung dua puluhan orang tamu rasanya cukuplah!"


"Uni kan yang menyebarkan gosip tidak-tidak tentang rumah tangga saya."


"Bukan nuduh. Saya punya bukti, Ni. Rozi sudah mengaku. Yang mengajarinya untuk memprovokasi anak-anak TPA adalah uminya. Yaitu uni. Begitu juga dengan ibu-ibu itu. Uni juga kan yang memprovokasi!"


Uni Dewi sudah tak bisa mengelak lagi. Sebelum klarifikasi, aku memang sudah mengumpulkan bukti-bukti hingga ia tak bisa mengelak lagi.


"Lalu sekarang mau kamu apa Mil?" pertanyaan dari Uni Dewi membuatku tak habis pikir. Ia yang membuat masalah, tapi kenapa ia juga yang seolah-olah menjadi korbannya. "Baiklah, aku yang salah. Harusnya aku tak melakukan semua itu. Tapi maksudnya baik, Mila. Kamu harus tahu, sejak awal aku tulus membantu kamu dan keluarga kamu. Aku prihatin dengan kalian. Aku sengaja melakukan semua itu supaya kamu segera kembali pada pak Ilham. Kamu sudah mau punya bayi lagi, Mil. Semua sudah terjadi, tentunya atas izin Allah. Jadi terimalah takdir yang sudah tertulis untuk kamu!"

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan hati saya, ni? Bagaimana dengan Yumna yang harus kehilangan ayahnya? Dengan emak yang kehilangan anaknya? Juga dengan bang Hasan sendiri. Ia tak mendapatkan keadilan." kataku


"Percaya atau tidak. Hidupku juga tak tenang Mila. Aku selalu merasa gelisah setiap harinya. Begitu juga dengan mbak Ayu. Ia juga tidak tenang. Tapi sekarang ia sudah berniat akan melaporkan dirinya sendiri ke polisi setelah sehat. Lalu kurang apa lagi, Mila?"


Kurang apa? Entahlah. Kadang aku ingin egois, minta agar bang Hasan di kembalikan kembali agar hidupku kembali tenang seperti dulu. Tapi benar yang dikatakan uni Dewi bahwa ini semua sudah menjadi takdir Allah untukku. Sudah tertulis di kasih Lauh Mahfuz dan tak bisa lagi dirubah sebab tintanya sudah kering.


"Mil ... percayalah, kami bukan orang yang jahat. Kami juga melakukan semuanya karena kami ingin bertanggung jawab. Kami juga merasa bersalah dan menyesali semuanya!" Kata Uni Dewi.


"Pergilah!" kataku.


Aku berbalik arah. Meninggalkan pelataran Mushalla. Berlalu begitu saja. Bahkan mengabaikan panggilan uni Siti dan Yumna yang sudah menungguku.


Kaki ini terus melangkah. Semakin jauh. Meninggalkan keramaian para tetangga yang lalu lalang. Bahkan sapaan mereka tak ada yang ku tanggapi sebab pikiranku tengah kacau. Kaki ini baru berhenti setelah berada tepat di depan makam bang Hasan.


"Abang ... maafkan aku." Kataku, sambil duduk bersimpuh, memegang batu nisan bertuliskan namanya. "Rasanya semua begitu cepat berlalu. Kebersamaan kita terlalu cepat. Abang kini sudah tak bersama kami lagi. Aku sendiri belum bisa menentukan sikap, apakah harus memaafkan mereka atau tetap membenci. Semuanya terasa berat, bang. Aku belum bisa menerima kenyataan menjadi keluarga dengan orang yang sudah membuat abang kehilangan nyawa Abang." bulir-bulir itu terus mengalir, semakin deras, ku biarkan tangis itu meledak. Terkadang kita memang harus menumpahkan semuanya agar bisa merasakan ketenangan.

__ADS_1


Emak sudah tak ada. Kini hanya ada Yumna. Entah bagaimana nantinya akan ku beri tahu ia tentang apa yang sudah terjadi pada Abinya. Dan, apakah ia bisa memaafkan semuanya? Termasuk menerima kenyataan kalau ibunya sudah menjadi madu dari perempuan itu. Tak mudah memang, tapi aku harus segera menentukan sikap, mengakhiri semuanya atau melanjutkan dengan terus membawa luka batin.


__ADS_2