MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
GAGAL PULANG?


__ADS_3

Satu tas kain itu telah terisi dengan seluruh potongan baju yang ku bawa saat berangkat ke Jakarta. Aku sudah tak sabar ingin cepat-cepat pulang. Tadi, saat beberes, aku sempat mengabari Ayah dan Ibu tentang kepulangan ini. Kedua orang tuaku sangat gembira sekali, meski ada pertanyaan yang mereka ajukan. Mungkin khawatir, apakah ada masalah sebab tiba-tiba pulang. Tapi sudah ku katakan, bahwa semuanya baik-baik saja. Aku pulang sebab sudah sangat rindu Yumna. Aku ingin menjemputnya untuk ikut ke Jakarta.


Tadi, Yumna juga ingin sekali berbicara denganku setelah sempat mogok bicara sebab dikira aku tak lagi peduli padanya karena beberapa pesannya tak kubalas. Tapi, karena buru-buru harus segera berangkat, makanya kami tak jadi berbicara. Sebenarnya aku sudah rindu mendengar suara putriku, tapi dari pada terlambat, toh nanti kami akan bertemu juga.


"Sudah siap?" tanya mas Ilham, saat melihatku keluar dari kamar. "Lho, pakaiannya dibawa semua? Kan kita nggak lama di kampung, nanti juga balik lagi ke sini."


"Enggak apa-apa, mas. Lagian, bajunya juga nggak seberapa. Kalau nggak dibawa semuanya, nanti nggak ada baju ganti di kampung." kataku. Di rumah, tak ada baju yang bisa ku pinjam..Pakaian ibu hanya tiga stel, itupun kering di badan. Begitu juga dengan Uni Siti.


"Astagfirullah, maafkan saya Mila. Bahkan untuk keperluan dasar kamu saja belum sempat saya penuhi." mas Ilham berjanji, sampai di Padang, ia akan membelikan beberapa stel pakaian baru untukku.


"Enggak apa-apa kok mas. Baju ini juga masih cukup. Kalau terlalu banyak, nanti malah repot hisabnya. Lagipula, saat lamaran, mbak ayu juga sudah membelikan pakaian baru untuk saya."


"Kamu benar-benar perempuan saliha, Mil. Saya beruntung mendapatkan kamu. Saya benar-benar malu pada diri sendiri, belum bisa menjaga istri sendiri dengan baik."


"Sudah deh muji-mujinya. Sebaiknya sekarang kita berangkat sebelum terlambat. Mas buruan pamit sama Mbak Ayu, gih." aku mendorong pelan badan mas Ilham dari belakang. Baru saja naik satu anak tangga, tiba-tiba dari atas Iqbal berlari kencang menuruni tangga, ia tampak pucat.


"Abi!" Pekiknya.


"Kenapa, Bal?" tanya mas Ilham.


"Umi, bi. Umi!" Iqbal menunjuk arah kamar.

__ADS_1


"Kenapa dengan Umi?"


"Umi berdarah, tangannya dipotong,"


Mas Ilham secepat mungkin berlari ke kamar. Ia sampai melompat beberapa anak tangga. Diikuti oleh Iqbal. Sementara aku menyusul pelan-pelan sebab sekarang posisinya sedang hamil muda.


Sampai di depan pintu kamar mbak Ayu, badanku langsung lemas melihat mbak Ayu dalam gendongan mas Ilham. Benar kata Iqbal, tangannya berlumuran darah. Ia sudah menyayatnya dengan pisah buah. Berarti ini ketiga kalinya mbak Ayu mencoba bunuh diri. Tapi kenapa?


Anak-anak mbak ayu mengikuti dari belakang dengan menangis.


"Mas, mbak Ayu mau dibawa kemana?" tanyaku.


"Ke rumah sakit!" Jawab mas Ilham, sambil terus berlalu tanpa mempedulikan aku.


Sampai di lobi rumah sakit, mas Ilham segera meninggalkan setir mobil, lalu membopong mbak Ayu menuju IGD. Aku dah Iqbal mengikuti dari belakang.


***


Kami kembali diingatkan oleh dokter untuk menjaga kondisi emosional mbak Ayu. Sebagai keluarga, kami diminta untuk memahami mbak Ayu yang masih sangat labil. Hal-hal yang mungkin kami anggap kecil, tapi bisa jadi sangat penting untuk mbak Ayu. penyakit mental itu tak bisa sembuh secara instan, mbak ayu tak boleh mendapatkan tekanan.


"Kalau tidak benar-benar dijaga, maka tidak tertutup kemungkinan hal ini akan terulang lagi," ungkap dokter.

__ADS_1


"Kami janji akan menjaganya dengan baik."


Kami bertiga keluar dari ruang dokter. Mas Ilham meminta maaf padaku sebab karena insiden ini, rencana untuk pulang kampung harus diundur dulu.


"Maafkan saya, Mil. Saya mengerti kamu sangat merindukan Yumna, tapi dalam keadaan seperti ini saya tak mungkin meninggalkan Ayu." kata mas Ilham. "Dan juga tak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri. Apalagi kamu tengah hamil seperti ini." tambahnya. Sehingga membuatku tak berani berharap lagi bisa bertemu Yumna segera. Sepertinya harus bersabar lagi agar kesempatan itu bisa benar-benar terwujud.


"Bi," tiba-tiba Iqbal yang berdiri di belakang kami bicara. "Boleh Iqbal minta sesuatu." kata sulung mas Ilham. "Dari dulu, Abi selalu menawarkan agar Iqbal meminta kado atas prestasi-prestasi Iqbal. Tapi Iqbal tai pernah meminta apapun sebab semuanya sudah disediakan Umi. Hari ini, Iqbal ingin mengajukan permintaan seperti yang selalu Abi tawarkan. Iqbal ingin Abi memperhatikan Umi. Iqbal ingin Abi benar-benar menjaga umi, terutama saat umi sakit sekarang ini. Bisa, kan bi?" pinta Iqbal.


"Bal,"


"Tolong Bi. Lakukanlah seperti Abi melakukan kebaikan pada orang lain. kasihan umi, bi!"


Mas Ilham menganggukkan kepalanya. Ia menyanggupi permintaan Iqbal, lalu berlalu menuju kamar tempat mbak Ayu dirawat hingga tinggal kami berdua.


"Anda mungkin kesal pada umi kami karena membuat rencana anda gagal," kata Iqbal. "Selama ini saya selalu berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan..saya tak pernah meminta apapun pada orang lain sebab saya selalu yakin dengan usaha saya. Tapi kali ini, saya akan memohon pada anda. Tolong biarkan ayah saya bersama ibu saya. Tolong. Umi sangat membutuhkan ayah saat ini, bagi Umi, Abi adalah segalanya. Biarkan umi merasakan bahwa Abi selalu ada di sampingnya. Tolong jangan usik mereka." pinta Iqbal, ia sampai menundukan kepalanya ke hadapanku. "Tolonglah!" Pinta Iqbal lagi. Kali ini ia sampai berlutut di lantai sebab aku tak kunjung memberikan jawaban.


Aku tak sejahat itu! Ingin sekali aku mengatakan padanya. Tapi aku juga yakin bahwa Iqbal tak akan pernah mau mendengarkan aku. Makanya ku putuskan untuk meninggalkannya saja. Lalu menelepon mbok Asih, meminta agar ia menyuruh Farid menjemputku.


Rasanya semakin membingungkan. Sampai kapan mereka bisa menyadari bahwa aku juga peduli dengan mereka. Aku tak mengapa jika mas Ilham harus bersama mbak Ayu juga untuk beberapa waktu sebab itu hak mbak Ayu juga.


Sekarang ini, aku adalah bagian dari keluarga mereka. bukan lagi orang asing. tanpa dipinta pun, aku tak keberatan mengalah dengan mbak Ayu. Bagaimanapun juga, aku tak akan tega mengorbankan hidup seseorang demi kesenanganku meski akhirnya aku harus mendapatkan masalah karena gagal pulang. Yumna semakin ngambek. ia benar-benar tidak mau bicara denganku. Beberapa kali aku mencoba menelepon, Yumna selalu menolaknya. Kata ibu, ia sudah terlalu kecewa.

__ADS_1


apakah ini akhir semuanya? Benarkah tak ada lagi kesempatan untukku?


__ADS_2