MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
YUMNA MENANGIS


__ADS_3

Sejak pulang kampung. Salah satu tugas rumah yang rutin ku kerjakan adalah menyetrika pakaian. Seperti sore ini, agar pakaian tak menumpuk, maka setelah kering semuanya langsung ku angkat, kemudian barulah mulai menyetrika.


Baru saja hendak memanaskan setrikaan, tiba-tiba dari luar sudah terdengar suara tangisan Yumna. Tak biasanya ia seperti itu, apalagi sampai meraung-raung dengan suara cukup keras hingga terdengar ke dalam rumah yang sekarang sudah lumayan besar setelah di renovasi oleh mbak Ayu.


"Na, kenapa?" aku menyusul ke depan. Di sana, sudah ada ayah, ibu, uni Siti dan sepupu-sepupu Yumna tengah mengitari putriku. "Yumna kenapa? Kok menangis? Suaranya kencang sekali, umi sampai dengar dari dalam rumah." kataku, mencari jawaban.


Melihat kedatanganku, Yumna langsung menghambur dalam pelukan. Ia memegang lenganku begitu erat.


"Umi ... Umi ... Umi ... Emak meninggal bukan karena umi, kan? Umi nggak dibuang sama Abi Ilham, kan? Umi bukan orang jahat, kan? Umi nggak akan mengambil Abi Ilham dari kak Sabrina, kan? Iya kan umi?" tanya Yumna dengan kondisi sesenggukan. Ia sampai susah bicara sebab tangisnya yang terlihat sangat pilu.


"Na, Na bicara apa sih?" tanyaku.


"Kenapa Yumna bicara seperti itu?" tanya ibu. Terlihat betul semua orang kaget mendengar pertanyaan Yumna hingga aku harus memberi kode pada ibu untuk menahan diri, bersabar hingga Yumna bisa bercerita dengan tenang tanpa merasa tertekan.


"Na ... mau cerita sama umi?" tanyaku. Yumna diam, ia masih menangis. Ku bujuk ia sekali lagi, sambil menawarkan bercerita berdua saja di kamar. Barulah ia setuju. Makanya ku bawa Yumna ke kamar, semnetara yang lainnya tak boleh ikut agar Yumna merasa nyaman.


Rupanya, tadi, usai mengaji di TPA, ada beberapa anak yang mengejek Yumna. Bukan sekedar ejekan biasa. Tapi dari cerita Yumna, aku menilai mereka sudah keterlaluan. Menuduh aku sebagai penyebab kematian neneknya Yumna dan juga menjadi perempuan yang merusak rumah tangga orang lain hingga mas Ilham membuangku kembali sebab aku dianggap perempuan jahat.

__ADS_1


Tuduhan yang membuatku geram. Apalagi yang menyampaikan pada Yumna adalah anak-anak kecil yang notabene usianya hanya terpaut beberapa tahun dari Yumna. Bagaimana mereka bisa mengatakan hal seperti itu? Menurutku, ini pasti berasal dari orang dewasa. Rak mungkin anak kecil bisa bicara seperti itu. Tapi ini benar-benar keterlaluan. Aku tak suka anak kecil harus membicarakan orang tua sampai segitunya.


Sebenarnya, aku sudah mengetahui kalau di kampung ini dijadikan bahan ghibah. Hanya saja yang membuatku kecewa, kenapa harus melibatkan anak kecil? Kalau mereka tak menyukaiku karena pernikahan keduaku, silakan bahas saja aku di kalangan orang-orang dewasa tanpa harus melibatkan anak-anak yang masih polos seperti kertas putih. Anak-anak, kalau sejak kecil sudah diajarkan hal-hal seperti itu maka tak tertutup kemungkinan semakin dewasa akan semakin parah menjadi pembuly.


"Siapa yang mengatakan hal seperti itu pada Yumna?" tanyaku.


Yumna menyebutkan beberapa nama yang cukup aku kenal. Anak-anak yang dahulunya juga mengaji denganku saat aku belum menikah lagi.


"Lalu Na percaya umi seperti itu?" aku kembali bertanya. Yumna menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu kenapa harus menangis, nak?"


"Na ... kita nggak bisa mengontrol pemikiran semua orang dalam menilai kita. Biarkan saja mereka menganggap umi begitu. Yang terpenting umi tidak seperti yang mereka katakan. Umi akan tetap berusaha menjadi orang baik meski banyak yang menilai umi tidak baik. Na pun harus begitu ya. Harus tetap baik meski mereka tak baik sama Na." kataku.


Sebenarnya tak nyaman membicarakan masalah ini pada anak kecil. Hal-hal yang belum pantas keluar dari lisan mereka.


Usai menenangkan Yumna, aku yang awalnya hendak menyetrika kembali menuju ruang tengah. Tapi, baru keluar dari kamar; ayah, ibu dan uni Siti sudah menunggu di depan pintu kamar. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Ayah, ibu dan uni Siti sebenarnya sudah tahu sebagian kecil penyebab Yumna menangis sebab ada Arum, sepupu Yumna yang juga mengaji bersama Yumna. Ia juga ikut mendengarkan teman-temannya mengejek Yumna. Bahkan Arum juga ikut dikatai.


"Mereka sudah sangat keterlaluan. Ayah akan bicarakan ini dengan pak RT, supaya menasihati warga agar tak sembarang bergosip." kata ayah.


"Jangan Yah, tak ada gunanya. Yang namanya tukang gosip, hari ini dilarang, besok akan tetap diulangi lagi. Bahkan bisa tambah menjadi-jadi. Yang seharusnya kita lakukan adalah menghilangkan apa-apa yang sekiranya menjadi bahan gosip mereka." kata ibu, sambil melirik ke arahku.


"Apa Bu?" tanya ayah.


"Mil, kamu kapan kembali ke Jakarta?" Ibu beralih padaku. "Ibu tidak melarang kamu berlama-lama di sini, hanya saja, kamu tahu kan, orang-orang di kampung kita masih belum menerima yang namanya istri kedua. Mereka masih kurang pengertian dan menganggap istri kedua sebagai perusak rumah tangga. Apalagi dengan keadaan perekonomian kita yang berubah drastis karena pernikahan kedua kamu. Mereka mengira kamu benar-benar sudah menghancurkan rumah tangga madumu. Entah karena rasa iri atau rasa takut yang berlebihan sehingga menganggap semua yang kamu lakukan salah hingga mencari celah untuk terus menjelekkan kamu. Makanya ibu nanya kapan kamu pulang. Semakin lama kamu di sini tanpa ada alasan maka mereka akan semakin menduga kamu yang tidak-tidak." jelas ibu.


Sebenarnya apa yang dikatakan ibu itu wajar, hanya saja aku tetap tak bisa memaklumi yang namanya ghibah apalagi membawa-bawa anak-anak yang masih polos.


"Nanti Mila akan coba memberikan pengertian supaya gunjingan ini berhenti." kataku.


"Kamu mau menjelaskan pada siapa, Mil? Sudahlah, kembali saja ke rumah suamimu. Toh acara emak juga sudah selesai. Tak baik juga berlama-lama bertengkar dengan suami. Kamu sebentar lagi akan punya bayi Mila, jangan sampai rumah tangga kalian hancur " Kata ibu.


Ibu terus mendebatku. Sebenarnya aku bisa memahami sikap ibu, ia pun sangat tidak nyaman terus ditanyai oleh tetangga kiri kanan, kenapa aku masih berlama-lama di kampung. Ditambah ada yang terus menghembuskan gosip tidak sedap.

__ADS_1


Tahan Mila, tahan. Jangan dijawab lagi kata-kata ibu. Sebentar lagi semua akan berhenti. Tak akan ada lagi gosip tentangmu. Aku terus menguatkan diri sendiri meski sebenarnya kupingku sudah teramat panas mendengar Omelan ibu yang semula nasihat berganti dengan perintah yang cukup keras agar aku kembali.


Ahhh ibu, luka hatiku masih belum sembuh. Aku tak bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa dan kembali ke rumah itu. Aku masih ingin menenangkan diri agar kelak tak salah langkah.


__ADS_2