MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PERMOHONAN MAAF


__ADS_3

"Kenapa kamu masih di sini?" tanya mas Ilham, saat ia keluar dan melihatku masih duduk di depan ruang rawat inap mbak Ayu. "Kan sudah saya katakan supaya kamu pulang duluan."


"Bagaimana saya bisa pulang kalau mas masih marah sama saya dan saya belum tahu keadaan mbak Ayu saat ini. Saya nggak akan tenang, mas." jawabku.


"Mil, Ayu masih dalam pengawasan dokter, tapi ia sudah berhasil melewati masa kritisnya, Sekarang kamu pulanglah."


"Tapi mas masih marah. Saya tak mungkin pulang dan beristirahat dengan tenang sementara suami saya belum Ridha."


"Mila ... tolong jangan buat saya tambah kesal. Sekarang pulanglah!"


"Mas harus tahu, saya tidak bermaksud sengaja menyembunyikan kondisi mbak Ayu. Sungguh. Saya melakukan itu atas permintaannya. Lagipula, sebenarnya saya sedang mencari momen yang pas untuk memberitahu mas dan yang lainnya tanpa membuat mbak Ayu kecewa karena saya tak menepati janji. Mas percayakan? Saya sangat peduli dengan mbak Ayu. Meski kami sempat tidak akur, tapi sebenarnya saya sangat menyayanginya layaknya kakak saya sendiri. Itulah kenapa saya selalu berusaha menjaga perasaan mbak Ayu, saya tak ingin ia merasa tidak nyaman karena kecerobohan saya. Saya ingin ia mendapatkan kebahagiaan."


"Hufff, baiklah, saya maafkan kamu. Sekarang pulanglah. Kamu juga harus banyak istirahat, ingat kandungan kamu, Mil. Jangan sampai karena masalah ini terjadi sesuatu pada calon anak kita. Ayu, nanti biar saya yang jaga."


Setelah mendapatkan maaf dari mas Ilham, aku menurut untuk pulang. Mengingat tubuhku juga sudah terlalu lelah seharian menunggu di rumah sakit.


Sampai di rumah, anak-anak sudah menunggu dengan mata sembab karena menangis. Mereka langsung menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Terutama Hana dan Sabrina yang tak sabaran menantu Jawa kondisi terkini ibunya.


"Umi bagaimana Umi Mila? Apa Umi baik-baik saja? Tolong beritahu kami, bibi!


"Kita sama-sama berdoa untuk Umi Ayu ya. Semoga kondisi Umi semakin membaik. Sekarang Umi sudah melewati masa kritisnya, tapi masih harus tetap dipantau dokternya." Kataku, sambil memeluk dua gadis kecil mbak Ayu.

__ADS_1


Sepekan mbak Ayu di rawat di rumah sakit. Selama ini pulalah urusan anak-anak dan rumah diserahkan mas Ilham padaku. Untung saja ada mbok Asih yang setia mengajariku dengan begitu sabar sehingga tak ada kendala berarti yang ku hadapi selain Iqbal. Ya, anak itu masih saja menunjukkan sikap memusuhiku. Bahkan ia seolah-olah mengatakan bahwa sakit ibunya karena aku.


Menghadapi anak itu, aku masih bisa bersabar. Aku tak menanggapi meski terkadang Iqbal melakukan perbuatan yang cukup menguji kesabaranku. Misalnya, ia sengaja menumpahkan makanan di meja makan dengan alasan tidak menyukai masakanku yang dianggapnya kampungan. Ia memarahi adik-adiknya yang dinilainya berkhianat karena sekarang dekat denganku. Dan yang paling menyebalkan adalah ia sengaja membawa Ibed agar tak ku pegang, meski ujung-ujungnya dikembalikan lagi padaku sebab Ibed rewel dan Iqbal tak bisa menenangkannya.


Hari ini hati yang ditunggu-tunggu anak-anak sebab mbak Ayu pulang dari rumah sakit. Semua orang berusia cita menyambut. Iqbal yang biasanya ogah-ogahan juga terlihat bersemangat. Bahkan ia dengan manisnya membeku sebuket mawar merah untuk ibunya. Aku sampai iri, ingin juga kelak diperlakukan sama seperti mbak Ayu.


Begitu mobil mas Ilham memasuki halaman, semua orang langsung menyerbu. Mereka sama-sama membantu mbak Ayu turun dari mobil. Kebersamaan itu membuatku bahagia sebab di wajah mbak Ayu yang terlihat belum pulih betul terpancar kebahagiaan juga.


"Mila ... terimakasih banyak karena kamu sudah membantuku menjaga anak-anak. Aku benar-benar berhutang budi padamu." Kata mbak Ayu, saat kami berdua duduk di taman belakang, setelah anak-anak melepas rindu.


"Mbak nggak perlu khawatir karena mulai sekarang saya akan selalu ada untuk membantu mbak." Kataku.


"Terimakasih banyak Mila. Tapi ...."


"Sebenarnya masih ada sebuah rahasia yang belum aku ungkapkan padamu."


"Rahasia?" keningku langsung berkerut. Teringat bagaimana marahnya mas Ilham kemarin karena aku menyimpan rahasia mbak Ayu. Sekarang ia mau berbagi rahasia lagi. Aku benar-benar khawatir, takut mas Ilham kembali marah. "Duh mbak, sebaiknya kita tidak usah main rahasia-rahasia lagi. Mbak tahu kan bagaimana marahnya mas Ilham saat tahu kita menyembunyikan sakit mbak darinya. Mas Ilham sampai tidak mau berbicara dengan saya. Untung saja ia kasihan dengan kondisi kehamilan saya, makanya mau memaafkan dan memberi kesempatan lagi. Tapi kali ini kalau ada rahasia lagi, saya nggak yakin mas Ilham akan memaafkan. Bisa-bisa mas Ilham ngambek dan menendang sayabdari rumah ini."


Mbak Ayu terkekeh. Ia meyakinkan aku bahwa rahasia ini tak ada sangkut pautnya dengan mas Ilham, tetapi ini tentang aku dan Yumna.


"Saya dan Yumna?" tanyaku. "Memang rahasianya apa, mbak?"

__ADS_1


*Mila ... kalau aku beritahu, apakah kamu berjanji tak akan marah dan mau memaafkan aku? Kamu tahu kan Mila, hidupku tak akan lama, aku juga merasa seperti itu. Rasanya aku tak akan kuat bertahan lebih lama lagi, tapi aku juga tak bisa pergi dengan membawa rahasia ini seorang diri. Aku benar-benar terbebani, Mila. Mungkin ini hukuman dari Allah untuk saya, makanya Dia memberikan saya sakit yang cukup parah dan siksaan batin yang tak bisa aku uraikan bagaimana rasanya." mbak Ayu meneteskan air mata, ia benar-benar terlihat tertekan.


"Mbak, ada apa sebenarnya? Apa tentang mas Ilham? Mbak tak perlu khawatir, ia sudah janji akan selalu mencintai mbak. Mas Ilham sedang berusaha memperbaiki semuanya, mbak mau memaafkannya dan memberi kesempatan, kan?"


"Mila, bukan, bukan mas Ilham." ia masih menangis sehingga membuatku makin bingung.


"Lalu apa, mbak, katakanlah."


"Aku tak tahu apakah aku pantas mendapatkan maaf, tapi aku sungguh-sungguh menyesal Mila. Maafkanlah aku, maaf. Kamu mau kan memaafkan aku? Aku sungguh takut kamu marah, Mil."


"Katakanlah mbak."


"Tapi kamu janji akan memaafkan aku dan tidak akan marah? Aku tak bisa kalau kamu marah, Mil. Hidupku tak akan lama, aku ingin pergi tanpa beban."


"Apa, mbak?"


"Berjanjilah Mila. Tolong ...."


"Baiklah mbak. Saya janji tak akan marah dan akan memaafkan mbak. Sekarang katakanlah."


"Mila ... maafkan aku, maaf. Aku adalah orang yang sudah menabrak suami kamu terdahulu, ayahnya Yumna.*

__ADS_1


Bagai disambar petir, rasanya duniaku ambruk saat mengetahui pengakuan mbak Ayu. Ialah orang yang membuatku menjadi janda dan Yumna menjadi anak yatim. Ia yang menjadi penyebab bang Hasan kehilangan nyawanya dan yang lebih menyedihkan lagi bahwa data kejadian itu bukannya menolong bang Hasan, ia malah pergi tanpa bertanggung jawab sedikitpun sehingga bang Hasan harus kehilangan nyawanya.


__ADS_2