
Setiap hari Erlita berlinang air mata. memikirkan nasib rumah tangganya yang di ujung tanduk. Erlita terlihat wanita yang kuat tapi sejujurnya dia wanita yang rapuh. Tapi ia berusaha kuat di hadapan ketiga anaknya.
Tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata perasaan yang begitu remuk. Tapi apalah daya Erlita terus menatap ketiga anaknya. "Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang, begitu besar cobaan yang kau berikan kepada hamba. Apakah aku tidak layak bahagia ya Allah."doa Erlita di dalam hati.
Setiap hari Erlita di tinggal pergi oleh suaminya, tidak ada yang tahu sanak saudara prahara rumah tangga Erlita sebenarnya. "Ma, jangan menangis, tidak ada artinya menangis lihat kami anak-anakmu." ucap Abian sambil memeluk Erlita. Mencoba untuk memberikan kekuatan kepada Mamanya.
"Kring...
"Kring...
"Kring...
Suara Deringan ponsel milik Erlita terdengar jelas di telinga nya. Ia melihat dilayar ponselnya, kalau yang menghubungi dirinya Hamdan.
"Ada apa mas Hamdan menghubungi Ku? gumam Erlita dalam hati, sembari menekan tombol hijau yang ada dilayar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung dengan Hamdan.
"Hello mas." sahut Erlita dengan suara parau. dari nada suaranya saja Hamdan sudah mengetahui kalau Erlita baru saja menangis.
"Bagaimana kabarmu sekarang apa semuanya baik-baik saja?" tanya Hamdan kepada Erlita.
"Alhamdulillah kabar kami baik Mas. bagaimana dengan kabar Mas di sana?
"Aku juga baik, tapi dari nada suaramu Sepertinya kau baru saja menangis." ucap Hamdan menebak.
__ADS_1
"Apa ada masalah?"
"Tidak mas, aku baik-baik saja kok sama anak-anak."
"Oh iya, sampaikan selamat ulang tahun untuk Abian ya. Jujur aku merasa bersalah tidak datang di hari ulang tahunnya. padahal aku sudah berjanji akan datang membawa mereka jalan-jalan jika Abian ulang tahun.
"Tetapi karena kebetulan kemarin aku sedang menjalani sidang kasus yang aku tangani. Membuatku tidak memiliki waktu untuk datang ke sana. Tapi yakinlah, aku pasti akan datang membawanya jalan-jalan setelah pekerjaanku telah usai." ucap Hamdan berjanji kepada Erlita kalau dirinya akan datang memenuhi janjinya kepada Abian dan juga Aska.
"Tida, perlu dipaksakan seperti itu mas. Kalau tidak memiliki waktu, jangan dipaksakan. lebih baik Mas fokus bekerja terlebih dahulu." sahut Erlita.
"Tidak kok, kamu tenang saja tidak perlu merasa nggak enak hati seperti itu. Karena bagaimanapun Abian Aska dan Arini sudah aku anggap seperti anakku sendiri." ucap Hamdan di dalam sambungan telepon selulernya.
"Ya Allah Mengapa orang lain begitu perhatian kepada putra-putriku sementara Ayah kandungnya saja sama sekali tidak peduli."gumam Erlita dalam hati meratapi nasib ketiga anaknya dan juga nasibnya sendiri sebagai seorang istri.
Sementara John yang masih berada di ruang televisi tampak ia sedang ngobrol bersama Aska. Tapi terlihat Aska sangat cuek kepadanya seolah-olah ayahnya yang ada di sana orang lain, tak ada yang dekat dengan John Kurniawan. Ketiga anaknya begitu dekat dengan Erlita. bukan kepada ayah kandung mereka sendiri.
Sejujurnya Erlita tidak pernah mengajarkan ketiga anaknya seperti itu. Tapi karena anak-anaknya mengetahui sifat dan tingkah laku ayah mereka selama ini, membuat Abian dan Aska tampak merasa tidak peduli lagi kepada ayahnya. "Bagaimana tidak, ayahnya saja sudah tidak peduli kepada mereka. bahkan menafkahipun tidak.
"Aska kalian Dari mana saja kemarin?" tanya John Kurniawan kepada Aska yang sedang asyik bermain mobil-mobilan yang dibeli oleh Hamdan sebelumnya, saat mereka jalan-jalan ke sebuah Mall. .
"Kemarin itu kami diajak Om Hamdan jalan-jalan ke taman bermain, habis itu kamu pergi ke mall membeli baju-baju dan mainan di sana juga Om Hamdan mengajak kami makan di restoran ,enak sekali. Jujur Aska Baru kali ini pergi ke sana, makan di restoran." ucap Aska kepada John Kurniawan membuat John Kurniawan langsung terdiam.
"Om Hamdan itu siapa ?" Tanya John kepada anak dia itu. Pria yang sangat baik Dia selalu memperhatikan Mama, dia selalu mempertanyakan kami sudah makan atau tidak. Tapi Entahlah Om Hamdan memang benar-benar baik the best deh." Puji Aska sambil menunjukkan mainan yang dibeli Hamdan untuk mereka.
__ADS_1
John datang ke warung menghampiri Erlita. "Siapa Hamdan ?Apa itu lelaki yang membuatmu dingin kepadaku?" tanya John merasa tidak bersalah atas kelakuannya selama ini.
Erlita tidak menjawab dan memilih tetap melayani pembeli yang datang ke warung sembako miliknya. Tapi sepertinya John tidak terima, ia langsung menarik tangan Erlita setelah memberikan barang belanjaan seorang gadis yang sedang membeli di warung Erlita.
"Jawab aku siapa Hamdan?
Erlita tersenyum miris, Kau tidak perlu mengetahui siapa Hamdan,karena itu tidak penting bagimu. Lebih baik kamu urus saja dirimu sendiri. Tidak perlu pedulikan kami, toh selama ini kamu juga tidak peduli kepada kami. Apakah kamu sudah melakukan tugasmu sebagai seorang suami, atau sebagai seorang ayah?" tanya Erlita dengan nada suara yang meninggi
"Sudah mulai berani kamu kepadaku, setelah mengenal Hamdan ya." pekik John Kurniawan. Erlita lagi-lagi tersenyum, "Sebelum aku mengenalmu, aku sudah terlebih dahulu mengenal Hamdan. Jadi kamu jangan sok tahu.
"Tidak ada lagi rasa hormat Erlita terhadap suaminya saat berbicara saat itu Karena suaminya menganggapnya yang tidak tidak terhadapnya membuat dirinya sangat kesal.
"Kamu mau ngapain dengan wanita itu aku tidak peduli, kau sudah lebih lama tinggal di sana daripada di sini. Justru ulang tahun putra kamu saja kau tidak datang. Di mana akal sehatmu? Apakah kau menafkahi ketiga anakmu? sungguh tidak masuk akal. Darah daging kamu sendiri saja tidak kau nafkahi tetapi darah daging orang lain Kau nafkahi." ucap Erlita yang mampu membungkam seorang John Kurniawan.
John Kurniawan berlalu meninggalkan Erlita dengan kekesalannya. "Ingat, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan cari lelaki itu sampai ke ujung dunia pun, sudah sampai di mana hubungan kalian?" pekik John sambil berjalan meninggalkan Elita.
"Cari saja! aku tidak peduli, kamu pikir dia orang yang tidak pintar? dia itu tidak sebodoh kamu." ucap Erlita tertawa ngakak tapi tertawanya itu lebih tepatnya untuk meluapkan kekesalannya terhadap suaminya.
Tiba-tiba suara deringan ponsel milik John Kurniawan terdengar jelas di telinganya. I melihat di layar ponselnya kalau Yulianti yang menghubungi dirinya. Saat ponselnya terus berdering. Tampaknya John tidak mengindahkan telepon dari Yulianti, justru dirinya langsung menonaktifkan ponselnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓