
Tak ingin menyerah, Erlita mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya. Namun, hanya suara operator yang terdengar menandakan bahwa nomornya memang benar-benar tidak aktif.
"Argggghhh.....!"Erlita mengerang frustasi. sepasang Mata Erlita kembali memburam. diiringi jantung yang kian lama kian bertalu-talu.
"Astaghfirullahaladzim. Berkali-kali Erlita mengucap istighfar seraya mengusap dada yang terasa membara. Berkali-kali pula Erlita menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Perlahan untuk mengurangi rasa sesak yang begitu menghimpit dada.
Hingga akhirnya suara azan kembali terdengar menggema. Menandakan waktunya melaksanakan salat isya.
Dengan langkah gontai, Erlita berjalan ke kamar mandi untuk kembali mengambil air wudhu. Erlita takut tanpa sadar ada hal yang membatalkan wudhu tadi. Setelahnya Erlita kembali melaksanakan salat isya.
Selesai salat isya, Erlita tak langsung beranjak. Erlita menandakan tangan berdoa pada sang maha kuasa. Erlita juga meminta kekuatan untuk apa saja yang akan menimpa dirinya setelah ini. Erlita pun menyerahkan seluruhnya pada Allah sang pemilik kehidupan.
Selesai sholat,dan berdoa. Hati Erlita sedikit tenang. Erlita pun melepas mukena dan melipatnya kembali setelah itu Erlita menaiki ranjang lalu duduk bersandar di kepala ranjang. Erlita mendengar lirik jarum jam yang bergerak terasa begitu. Baru pukul delapan, Entah berapa lama lagi dia harus menunggu kepulangan suaminya. Rasanya sudah tidak sabar untuk menanyakan tentang semua ini.
Sedikitpun tidak pernah terpikirkan di benaknya jika laki-laki yang bersama dirinya untuk menjadi imamnya itu benar-benar berkhianat. Ia selalu berusaha untuk meyakinkan dirinya akan kesetiaan suaminya, apalagi suaminya selalu memberikan alasan yang masuk di akal.
Meskipun dalam bulan-bulan terakhir ini, Erlita memang menangkap beberapa kejanggalan dari sikapnya.
"Ya akhir-akhir ini John memang sering pulang Pagi. Dulunya juga pernah seperti itu, tapi ketika kelahiran Putra keduanya sudah mulai berubah. Tapi beberapa bulan kemudian John kembali sering pulang Pagi.
Erlita juga kerap kali melihat John lebih sibuk dengan ponselnya. Bisanya jika di rumah, ia jarang sekali mengotak-atik benda privasinya itu. Pikiran Erlita tiba-tiba teringat pada peristiwa Beberapa bulan yang lalu entah kapan tepatnya Erlita lupa.
Saat Erlita sedang memasukkan baju-baju kotor ke dalam ember, Tiba-tiba ia mencium parfum wanita yang berasal dari baju suaminya. Erlita sempat mengendus-endus jaket itu, beberapa kali untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Indra penciumannya tak salah.
__ADS_1
Dan saat itu, yakin bahwa aroma yang menguar itu adalah parfum wanita. Namun satu hal yang pasti parfum itu bukan miliknya.
saat Erlita menanyakan pada John dia menjawab seenaknya.
"Mungkin itu parfum penumpang yang selalu ia antar ke cafe remang-remang.
meski Erlita merasa janggal, namun saat itu Erlita langsung mempercayainya. Berkali-kali Erlita menemukan kejanggalan, tapi karena dirinya tidak memiliki bukti yang kuat membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Erlita menatap kedua putranya dan meremas sprei dengan cukup kuat. Menyalurkan rasa sakit yang begitu menusuk dada.
Waktu berangkat semakin malam. Bahkan jarum jam sudah menunjukkan ke angka 2 dini hari. Namun John tak kunjung pulang hingga dada Erlita kembali serasa dihantam dengan begitu hebat. Kebiasaan John tidak pulang malam hingga pagi hari membuat Erlita berusaha untuk meyakinkan dirinya. apalagi John selalu memiliki alasan mencari penumpang sampai pagi hari.
Bayangan John yang sedang berduaan dengan wanita lain, dan entah apa yang dilakukan keduanya. "Ah apalagi yang akan dilakukan sepasang wanita dan laki-laki dewasa jika bukan menyebutnya saja Erlita tak sanggup. Terlalu menyakitkan."
lagi lagi Erlita menatap wajah polos kedua putranya. Terlalu lelah untuk berpikir dan rasa sakit yang begitu dalam membuat Erlita tak kunjung bisa meminjamkan matanya. Tepat pukul 05.00 pagi suara deru becak bermotor yang diyakini Erlita milik suaminya memasuki halaman rumah.
Derap langkah kaki pun mulai terdengar seiring debar di dada Erlita yang kian kuat. Dan selang beberapa detik pintu terbuka.
"Sayang kamu sudah bangun? tanya Mas John begitu kakinya memasuki rumah. Ketara sekali wajahnya terlihat kikuk bercampur grogi melihat Erlita yang masih duduk terpaku di di kursi plastik menunggu kepulangannya. Bagaimana tidak waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi.
Tak Ada jawaban yang keluar dari mulut Erlita. Erlita hanya memandang tajam ke arahnya, membuat ia semakin terlihat kikuk dan salah tingkah.
Pandangan mata Erlita tak beralih sedikitpun dari laki-laki yang menggunakan jaket berwarna hitam, meneliti hal mencurigakan. Yang mungkin akan lebih menguatkan alasan keterlambatannya pulang Pagi. Tapi kebiasaan John pulang pagi membuat dirinya tidak memiliki alasan untuk keberatan dengan alasan pulang Pagi.
__ADS_1
Ditatap sedemikian oleh Erlita sepertinya membuat John semakin tak nyaman. Terlihat dari sikapnya yang semakin terlihat kikuk yang salah tingkah. Meski sesaat kemudian senyum kecil yang nampak dipaksakan tersinggung dari bibirnya sambil melangkah mendekat ke arah Erlita.
"Kamu kenapa sayang Jhon mendekat setelah membuka jaket yang biasa ia gunakan jika bekerja mencari penumpang. lalu dia berdiri tepat di hadapan Erlita. Setelah ia berjongkok mengecup rekening Erlita yang masih mematung terduduk di kursi.
"Kamu menangis? dia kembali bersuara setelah menyadari bahwa sepasang Mata Erlita sembab dan memerah. "Maafkan mas yang tadi siang Mas tidak memiliki penumpang sama sekali. Dan tidak akan ada uang belanja yang akan aku kasih kepadamu. jika aku tidak lanjut mencari penumpang dini hari."
"Tadi ada penumpang ku seorang wanita malam, untuk langsung aku antarkan ke sebuah Cafe dan dia memintaku menunggu di seberang Cafe itu sampai ia selesai bekerja . Dan bayarannya juga lumayan." ucap John sambil merogoh dompet miliknya memberikan uang belanja untuk Erlita.
Ingin rasanya Erlita menunjukkan rekaman video bukti-bukti kelakuan suaminya. Tapi lagi-lagi Erlita mengurungkan niatnya.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu?
Erlita menggelengkan kepalanya memilih untuk bungkam sebelum dirinya langsung mencari tahu.
"Tidak, hanya saja rekan kerjaku dulu, datang ke sini mencari mas. Katanya Di kantor sepupunya ada lowongan kerja. Jika Mas mau, bisa Mas coba deh daripada Terus harus menjadi tukang becak bermotor yang penghasilannya tidak menetap. Apalagi mas sering sekali jadi pulang pagi seperti itu kesehatan juga perlu dijaga." ucap Erlita berharap suaminya mengiyakan apa yang ditawarkan oleh temannya.
Jika suaminya kelak sudah bekerja di kantor yang sama dengan sepupu Pian, maka alasan John untuk pulang larut malam atau pulang pagi sudah tidak ada lagi. Terlihat Jhon berpikir, nanti akan aku pikir-pikir dulu.
Ngapain harus dipikir-pikir dulu Mas. mumpung Ada kesempatan, Kenapa tidak?" ucap Erlita memohon kepada suaminya agar suaminya menerima tawaran kerja itu."
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." PERJUANGAN ABIMAYU."