
"Okey, kalau kamu setuju kita akan menikah dalam jangka waktu yang dekat. Aku akan kirimkan uang untuk biaya rumah kontrakan yang akan ditempati oleh kedua anak-anakmu. Tapi ingat, syarat yang aku berikan sebelumnya. Aku tidak ingin kedua anakmu ikut bersama kita." ucap pria itu kembali mengingatkan kepada Yulianti yang dibalas anggukan dari Yulianti.
Setelah mendapat bayaran dari pria itu Yulianti kembali ke rumah dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Saat dirinya sudah tiba di rumah, ia tidak menemukan kedua putranya lagi. Karena kedua putranya sudah berangkat ke sekolah.
Ia memandangi pantulan tubuhnya di depan cermin yang di bagian wajah cantiknya sudah terlihat lebam-lebam dan membiru. Begitu juga di bagian pangkalan pahanya yang tampak memerah akibat cengkraman pria yang Ia layani malam itu.
Yulianti membersihkan diri, lalu kembali mengoles salep untuk lebam dan luka yang ia dapatkan dari pria itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Kini Rizki dan Leo sudah tiba di rumah.
"Kalian sudah pulang?" tanya Yulianti kepada Rizki dan Leo yang tampak berkeringat Saat berjalan kaki dari sekolah sampai ke rumah kontrakan yang selama ini mereka tempati.
"Ibu kok lama kali pulangnya? Kami sampai jalan kaki pulang dari sekolah, karena ongkos tidak ada lagi." ucap Rizki dan Leo kepada Yulianti.
" Ya sudah, maafkan Ibu. Ibu telat pulang pagi tadi. Ini uang untuk kalian beberapa hari ke depan." ucap Yulianti memberikan beberapa Uang pecahan seratus ribu kepada kedua anaknya.
"Kenapa banyak sekali Bu?" tanya Rizki dan Leo secara serempak. Karena melihat Yulianti memberikan uang sebesar dua juta kepada kedua putranya.
"Tidak apa-apa, Ini kalian pergunakan.Jika Ibu tidak pulang, maka itulah uang yang akan kalian gunakan untuk membeli makanan ongkos dan biaya apa saja yang kalian butuhkan."
"Memangnya Ibu mau ke mana?" tanya Leo dan rizki kepada Yulianti.
"Ibu mau mencari pekerjaan ke luar negeri. kalian tidak apa-apa kan, ibu tinggal di sini? kalian sudah besar, kamu Rizki sudah duduk di bangku SMP. Sedangkan kamu Leo sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Kalian sudah bisa mandiri. Ibu akan mengirimkan biaya kalian setiap bulannya. Jangan khawatir, jika kalian kekurangan uang kalian tinggal menghubungi ibu. Ibu akan mengirimkan kalian uang." ucap Yulianti kepada putranya membuat Rizki dan Leo terhenyak.
"Bagaimana mungkin Ibu tega pergi ke luar negeri meninggalkan kami berdua. Tolong Bu, pikirkan lagi keputusan Ibu." ucap Leo dan Rizki memohon.
"Jika ibu bekerja di sini, mungkin Ibu tidak mampu lagi membiayai kehidupan kalian." ucap Yulianti Kekeh dengan keputusannya.
__ADS_1
Ia sengaja tidak memberitahu kepada kedua anaknya, kalau dirinya Sebenarnya bukan ke luar negeri melainkan menikah dengan seorang pria yang tidak menginginkan kedua putranya ikut bersama mereka.
Kalau memang Itu sudah keputusan ibu, Rizki dan Leo tidak bisa bilang apa lagi. Yang penting Ibu baik-baik saja di sana. "
"Ya sudah, ibu akan memberikan kartu ATM dan banking yang Ibu punya kepada kalian. agar kalian dapat menerima uang setiap bulannya yang Ibu berikan." ucap Yulianti kepada Rizki dan Leo. Keduanya menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam kamar bertukar pakaian.
Suara klakson sepeda motor terdengar jelas di telinga kedua anak itu. Terlihat ojek online datang dengan membawakan beberapa kotak makanan di sana.
"Grabfood...." Panggil driver ojek online itu menarik atensi Leo dan Rizky. Yulianti bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang driver ojek online.
"Dengan mbak Yulianti?" tanya driver ojek online itu kepada Yulianti.
"Iya saya, Yulianti."
"Ini pesanannya Mbak." ucap driver ojek online itu, sambil memberikan beberapa kotak makanan yang ia pesan di salah satu restoran.
"Ibu tidak masak?"
"Tidak nak, kebetulan Ibu tadi agak lama pulangnya. Jadi ibu memilih untuk memesan makanan saja." ucap Yulianti yang dibalas anggukan dari kedua putranya.
"Wajah Ibu kok tampak lebam?" tanya Leo yang baru memperhatikan raut wajah Yulianti.
"Tidak apa-apa, hanya terbentur." sahutnya kembali berbohong. Ia tidak ingin kedua putranya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kini mereka bertiga menikmati makanan lezat yang diantarkan langsung oleh driver ojek online itu.
Di kediaman Abang Karim, tampak Abian antusias Melihat barang dagangan yang dipasarkan oleh John Kurniawan melalui ponsel. Tampak di layar ponsel Jhon banyak yang memesan produk yang dipasarkan olehnya.
__ADS_1
"Wah kalau begini, Alhamdulillah Ayah pasti bisa mendapatkan perawatan sampai ke luar negeri. Agar kaki ayah dapat pulih kembali." ucap Abian bersemangat melihat para konsumen yang memesan produk yang dipasarkan oleh John .
Sementara Erlita hanya menatap ketiga putranya bergantian, tampak bahagia saat membantu Abang karim mengepak barang-barang yang akan dikirimkan.
"Aku bisa nggak, Paman membantu Paman memasarkan produk yang Paman punya? siapa tahu dengan aku memasarkan produk yang Paman punya, melalui sosial media milikku, aku juga memiliki penghasilan." ucap Abian yang tampak bersemangat.
"Kenapa, tidak?" Tapi ingat jangan sampai kamu lupa, kalau kamu itu masih pelajar kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh, agar kamu dapat berhasil kelak..Jika kamu ingin memasarkan produk yang kita jual saat ini, boleh-boleh saja. Tapi jangan sampai kamu mendahulukan memasarkan produk ini, sebelum kamu belajar. Utamakan belajar terlebih dahulu, baru memasarkan produk." ucap Abang Karim yang membuat Abian tampak semangat.
Abian melakukan itu untuk membantu Erlita. ia tahu selama ini Erlita berjuang untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari, dan biaya sekolah Abian, Aska dan sebentar lagi Arini juga akan segera sekolah.
Abang Karin mengembangkan senyumnya menatap semangat Abian yang ingin memasarkan produk yang mereka jual selama ini. Dimulai dengan mengirimkan gambar-gambar produk yang mereka jual beserta harganya ke ponsel milik Abian.
Abang Karim juga mengajari Bagaimana cara memasarkan produk itu. Abian yang pada dasarnya anak yang pintar, membuat dirinya tidak sulit untuk memahami apa yang diajarkan oleh Abang Karim.
Saat itu juga, Abian sudah melakukan pemasaran produk itu hingga orderan pertama pun ia terima.
"Wow alhamdulillah, ada yang memesan produk yang aku pasarkan dengan jumlah yang lumayan banyak. Bagaimana cara pembayarannya pama?" tanya Abian kepada Abang Karin.
lalu Abang Karim pun memberikan nomor rekening agar dapat bertransaksi. Kini Abian sudah mengirimkan nomor rekening kepada konsumen pertamanya, dan dalam hitungan menit notifikasi di ponsel milik Abang Karim berdeting.
Pertanda uang sejumlah pesanan konsumen yang dipasarkan oleh Abian, sudah masuk ke rekening abang Karim. Dan saat ini Abang Karim dan Abian harus Mengepak barang itu dan segera mengirimkannya ke alamat yang diberikan oleh konsumen kepada Abian. Tampak John, Mbak Sukarti, Abang Karin dan juga Erlita tertawa ngakak melihat semangat Abian yang begitu antusias.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN