MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA

MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA
BAB 36. JHON KRITIS _MIDJ


__ADS_3

Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Hari ini kebetulan hari libur. Abian bangkit dari pembaringannya. Ia mengucek kedua kelopak matanya dengan menggunakan tangan. Abian melihat ke sampingnya, Aska masih tertidur pulas. Ia membiarkan sang adik yang masih larut dalam alam mimpinya.


Sayup-sayup Abian sudah mendengar krasak krusuk dari dapur. Itu artinya Erlita sudah bangun lebih awal dibandingkan dirinya. Abian keluar dari kamar, ia mendapati sang Ibu sudah selesai mencuci pakaian dan juga piring. Tinggal menyiapkan menu makanan sarapan pagi untuk mereka.


"Assalamualaikum, Selamat pagi Bu." ucap Abian mendapati sang ibu. Erlita mengembangkan senyumnya menatap putranya. Dia sudah berdiri di ambang pintu dapur. "Putra sulung Ibu sudah bangun? Bagaimana tidurnya malam ini nak, apa tidurnya nyenyak?" tanya Erlita kepada Abian yang masih terlihat sendu.


"Kenapa raut wajahnya sedih seperti itu nak?


"Entahlah Bu, Abian mimpi buruk. Mungkin karena Abian mimpi buruk. Makanya Abian bangun kesiangan. Maafin Abian Iya Bu, telah melewatkan salat subuh." ucapnya kepada Erlita.


"Lain kali, jika Ibu bangunkan kamu harus bangun ya sayang. Karena salat itu merupakan kewajiban kita sebagai seorang umat muslim. Ibu sudah membangun kamu, tapi Sepertinya kau masih terlelap.


"Iya maafin Abian Iya Bu." sahut Abian.


air bening luruh begitu saja di wajah tampan putranya. Membuat Erlita mengkhawatirkan Abian.


" Ada apa Sayang? mengapa kamu menangis? tanya Erlita penuh selidik.


"Entahlah Bu, Abian mimpi buruk. Abian mimpi kalau ayah saat ini sedang menderita. dan sepertinya ayah saat ini tidak baik-baik Bu. Soalnya mimpi Abian terasa nyata."sahutnya membuat Elita terhenyak.


Memang ikatan darah itu terjalin begitu erat. walaupun sang ayah selama ini kurang bertanggung jawab terhadap mereka, yang namanya darah daging pasti saling memiliki ikatan tersendiri, antara ayah dan anak.


Erlita meraih tubuh Abian kepelukannya. "Kamu berdoa saja sayang semoga Ayah kamu tidak apa-apa." sahut Erlita yang belum sanggup memberitahu kabar tentang John Kurniawan yang saat ini dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan yang menimpanya dua hari yang lalu.


Tiba-tiba suara deringan ponsel milik Erlita terdengar jelas di telinganya. Ia melihat nomor ponsel Mbak Sukarti tertera di List kontaknya. Erlita meraih ponsel itu dengan tangan bergetar, ia harus siap mendengar kabar seburuk apapun.


Erlita menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada mbak Sukarti.

__ADS_1


"Halo Assalamualaikum Mbak, Sapa Erlita di dalam sambungan telepon selulernya.


"Waalaikumsalam Erlita, Bagaimana kabarmu hari ini Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Mbak Sukarti di ujung telepon.


"Alhamdulillah aku dan ketiga keponakan kakak semuanya baik-baik saja."


" bagaimana dengan kabar kabar apa semuanya Kakak di sana tanya Erlita balik


"Alhamdulillah kami juga baik-baik saja. Tapi ada yang tidak baik saat ini. Mbak, dan Mas Karim masih berada di rumah sakit. Kondisi John sekarang semakin drop, setelah proses operasi dilakukan. Kini terjadi pendarahan kembali. Dan saat ini John membutuhkan golongan darah yang sama dengan John.


"Memangnya kondisinya separah itu Mbak?" tanya Erlita penuh selidik.


"Iya kondisi John saat ini sangat parah.


"Apa Mbak sudah menghubungi istri mudanya?" apa selama ini istri mudanya juga berada di rumah sakit?" tanya Erlita penuh selidik.


"Erlita, Apa kamu sudah memberitahu kejadian yang menimpa John kepada ketiga keponakanku?


Erlita sama sekali tidak langsung menjawab. ia terdiam.


"Erlita kenapa kamu diam, Apa kau memberitahu kondisi John kepada ketiga keponakanku?" Mbak Sukarti kembali menanyakan hal yang sama kepada Erlita.


"Ma...ma..... Maaf Mbak, Erlita belum memberitahu tentang Mas John kepada ketiga anak-anak Erlita."ucap Erlita gugup


"Kamu tidak perlu gugup seperti itu, tapi sepertinya kamu harus memberitahu kepada mereka. Jujur aku tahu rasa sakit hati yang kamu rasakan terhadap John. Tapi bagaimanapun mantan anak tidak ada, atau mantan Ayah juga tidak ada. Mereka berhak tahu apa yang terjadi kepada ayah mereka.


Tiba-tiba seorang suster berlari menghampiri Abang Karim dan juga Mbak Sukarti yang sedang melakukan sambungan telepon seluler kepada Erlita. " Ada apa suster?" tanya abang Karim yang melihat Suster itu panik keluar dari ruang ICU yang mana di sana ada John Kurniawan.

__ADS_1


"Maaf Pak, apa anda keluarga Bapak John Kurniawan?" tanya Suster itu panik


"Iya, saya kakaknya suster, ada apa?"


"Maaf Pak sepertinya kondisi Pak Jhon semakin drop dan obat yang kami berikan ke tubuhnya sepertinya tubuhnya tidak merespon sama sekali. Dokter yang menangani pasien atas nama John pun datang menghampiri mereka.


Pendarahan kembali terjadi, kami harus segera mendapatkan persediaan golongan darah yang sama dengan Pasien. Sepertinya golongan darah yang dimiliki sang pasien, di rumah sakit ini lagi kosong. Dan di PMI terdekat juga tampak kosong. Kami saat ini masih berusaha untuk mencari golongan dari yang sama kepada pasien." ucap dokter yang menangani Jhon


Erlita yang mendengarkan pembicaraan antara dokter dan abang Karim di dalam sambungan telepon selulernya, menjadi sangat khawatir. Ia pun menghampiri Abian takut terjadi sesuatu kepada John. Akhirnya Erlita pun memberitahu kepada Abian dan juga Aska apa yang terjadi terhadap Ayah mereka.


Hanya Kedua lelaki belahan jiwanya itu yang masih paham. Kalau Arini masih terlalu kecil untuk mengetahui apa yang terjadi kepada ayahnya. Tentunya setelah menutup sambungan telepon seluler kepada mbak Sukarti.


"Apa Bu? jadi ayah saat ini sekarang berada di rumah sakit dan kondisinya kritis? tanya Abian terhenyak mendengar kabar tentang ayahnya yang tiba tiba di sampaikan oleh Erlita setelah mendapatkan sambungan telepon dari Mbak Sukarti.


Erlita menganggukkan kepalanya. "Lebih baik kalian siap-siap, kita langsung pergi ke rumah sakit melihat ayah kalian." ucap Erlita kepada Abian dan Aska. Sementara dirinya mengganti baju Arini agar mereka segera berangkat ke rumah sakit. Warung sembako miliknya pun harus tutup.


Setelah mereka sudah siap berangkat, Erlita meraih ponselnya lalu memesan taksi online untuk menghantarkan mereka ke rumah sakit di mana John dirawat. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit melewati jalanan ibukota yang lumayan macet, Mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit.


Erlita, Abian, Aska dan Arini yang Setia di gendongan Erlita turun dan berjalan keluar dari taksi online menuju ruang rawat inap John saat ini. Tentunya setelah Erlita membayar uang taksi online sesuai dengan tarif yang tertera di layar ponselnya.


Saat Abang Karim dan Sukarti melihat kehadiran mereka di sana, abang Karim dan Sukarti bernapas lega. Akhirnya ketiga keponakannya dan juga adik iparnya bersedia datang melihat kondisi John saat ini yang begitu memprihatinkan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA BARU EMAK " PENGORBANANKU DI HARGAI DENGAN PENGKHIANATAN."


__ADS_2