
Malam ini Erlita tidur lebih awal. Entah karena faktor kelelahan membuat dirinya menutup warung sembako miliknya pukul 06.00 sore padahal warung sembako miliknya biasanya sampai pukul 09.00 malam.
"Bu kenapa warung kita sudah tutup?"tanya Abian yang sedang bermain dengan Aska dan juga Arini.
"Ibu kurang enak badan, lebih baik kita makan sekarang." ucap Erlita meminta kepada ketiga anaknya agar segera menyantap menu makanan yang sudah ia sediakan di meja makan sederhana itu.
Erlita memberi suapan demi suapan kepada Arini yang sudah berusia hampir satu tahun. Ia merasa bahagia, putrinya makan bubur dengan lahap yang sudah disediakan oleh Erlita. "Bu, adek Arini sudah mulai pintar ya. Makanya juga pintar." ucap Abian dan Aska saling bersahutan.
Mereka pun tertawa melihat tingkah Arini yang begitu menggemaskan. Erlita merasa bahagia melihat ketiga anaknya yang begitu membuat dirinya melupakan masalah yang terjadi di kehidupan rumah tangganya dengan Jhon.
Tanpa mereka sadari John sudah masuk ke dalam rumah tanpa merasa berdosa. "Ia mengambil nasi dan lauk pauk yang masih ada tersisa di atas meja. Abian bangkit dari tempat duduknya setelah menyelesaikan menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Sementara Erlita memilih untuk diam, lalu membersihkan tubuh Arini membawa Arini masuk ke dalam kamar membiarkan John menyantap makanannya sendiri di meja makan sederhana itu. Aska juga tidak ingin ditinggal bersama ayahnya di sana, dan langsung berlari setelah menyantap menu makanan miliknya.
"Ibu, jangan ninggalin Aska dong! tungguin Aska teriak pasca ketika melihat Erlita dan Arini masuk ke dalam kamar.
Abian menghampiri Aska. " Jangan lari lari dek,nanti jatuh kamu, karna baru saja makan, biarkan dulu duduk tenang baru kamu berlari-lari, nanti kamu bisa muntah loh." ucap Abian mencoba untuk tetap menenangkan adiknya walaupun adiknya sedikit buka jatuh akibat lari-lari.
Sementara di tempat lain, Yulianti yang tidak terima akan apa yang dilakukan oleh John kepadanya, menyusun strategi untuk menghancurkan rumah tangga dengan Erlita. Berharap dengan dirinya membongkar seluruh apa yang sudah mereka rencanakan selama ini, untuk mengusir Erlita dari rumah yang selama ini ditempati Erlita. Erlita akan menggugat cerai John.
"Aku yakin, wanita bodoh itu meminta cerai dari Mas John. Jika aku memberikan bukti-bukti rencana yang akan kami rencanakan untuk mengusir Erlita dari rumah itu." gumam Yulianti penuh keyakinan. Yulianti menghubungi salah satu sahabatnya yang pasti John dan Erlita sama sekali tidak mengenal sahabat dari Yulianti.
Satu notifikasi masuk ke layar ponsel milik Erlita. Ia membuka layar ponselnya. Ada pesan masuk di aplikasi berwarna b hijau itu. Ia pun membuka aplikasi hijau itu dan pesan Whatsapp dan rekaman video pun masuk masuk ke layar ponsel pemilik Erlita. Ia sama sekali tidak mengetahui nomor siapa yang mengirimkan pesan Whatsapp dan pesan rekaman video itu.
__ADS_1
Yang pasti rekaman video itu menyaksikan kebersamaan Yulianti dan John sedang bercumbu mesra bersama Yulianti. Dan rencana-rencana yang akan mereka lakukan untuk mengusir Erlita.
Erlita menutup mulutnya. Seolah dirinya tidak percaya kalau suaminya berniat ingin mengusir Erlita dari rumah itu. Padahal Erlita sudah berusaha untuk bertahan walaupun Tingkah laku suaminya Bagaimana di luar sana, yang bulak-balik berselingkuh dan juga tidak bertanggung jawab untuk istri dan anak-anaknya.
Bahkan uang koperasi yang ia jalankan selama ini, hasil dari menjual harta warisan dari orang tuanya, lambat lain sudah hampir tidak kelihatan. Yang pasti Erlita tidak mengetahui kemana alur Jalan uang itu.
Erlita menggelengkan kepalanya. Ia tidak mampu menahan air bening mengalir di wajah cantiknya dari kedua kelopak matanya. "Tega kamu Mas berencana ingin mengusirku dari rumah ini, Apa kamu tidak berpikir bagaimana kelak ketika anak kita ini. Apakah wanita murahan itu akan bisa mengurus ketiga anak kita ini dengan tulus seperti apa yang aku lakukan selama ini? Oh itu tidak mungkin bisa Mas."Erlita bermonolog sendiri, ketika dirinya berusaha untuk menenangkan hatinya. John datang menghampiri Erlita.
"Selama ini Kamu ini bagaimana sih, Kok tidak ada makanan lagi di meja, hanya sisa kalian aja yang aku makan tadi." tanya John yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Sesuka Hati mau datang atau pergi. Tapi Erlita cukup sabar untuk menghadapi tingkah laku John selama ini dan memilih untuk diam daripada harus ribut malu didengar tetangga.
****
Kring ....
Kring ....
Suara Deringan ponsel milik Erlita terdengar jelas di telinganya. Ia melihat di layar ponselnya kalau Hamdan yang menghubungi dirinya.
"Ia melihat John sekilas, lalu ia menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Hamdan.
"Galo assalamualaikum!" sapa Erlita di dalam sambungan telepon selulernya
"Waalaikumsalam." Erlita Bagaimana kabarmu dan ketiga anak-anakmu, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Hamdan kepada Erlita melalui sambungan telepon seluler.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja dengan ketiga anakku Walaupun hatiku sesak. Kau jangan khawatir aku baik-baik saja. "Oh iya, suatu saat nanti jika aku membutuhkan bantuan hukum dari kamu Apakah kamu bersedia membantuku?" tanya Erlita kepada Hamdan.
"Mengenai Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Nanti aku jelaskan jika sudah waktunya tiba, Aku ingin kau membantuku semaksimal mungkin." ucapnya memohon kepada Hamdan di dalam sambungan telepon seluler.
"Baiklah, aku pasti akan membantumu. Selagi aku bisa membantu kamu, aku pasti membantu kamu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya." ucap Hamdan Lalu setelah selesai berbicara melalui sambungan telepon seluler, akhirnya Erlita memutuskan telepon itu.
Rasa jijik menatap John memang tak bisa lagi dihindari oleh Erlita. Sudah tahu bersalah selingkuh dengan wanita lain, tapi sepertinya John tidak pernah merasa bersalah dan dia selalu yang benar Apalagi selama ini, ia lari dari tanggung jawabnya membiayai kebutuhan ketiga anaknya.
Padahal karma sudah dibayar dengan tunai. Kekasih yang selama ini ia nafkahi dan putranya dinafkahi oleh John, kini sudah berani lancang untuk mempermalukan John di hadapan para tetangga dan kepala lingkungan dan juga sudah berani melayangkan tamparan kepada John yang itu tidak pernah diterima John dari istrinya Erlita.
Erlita memang wanita yang sangat penyabar, tapi jika wanita seorang penyabar, Apakah layak kita khianati, dan kita injak-injak harga dirinya?" jika memang begitu, untuk apa wanita menuruti suaminya kita selalu harus patuh terhadap suaminya dan melayani suaminya di saat suaminya menginginkannya.
Padahal suaminya sudah menghianati cinta Erlita dan menghianati pernikahan suci mereka. Entahlah, Erlita sangat bingung menjawab apa yang ada di dalam pikirannya sendiri. Bertanya kepada orang lain sulit untuk mendapatkan jawaban yang pasti.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA BARU EMAK " PENGORBANANKU DI HARGAI DENGAN PENGKHIANATAN."
__ADS_1