
Abian datang menghampiri Erlita yang tengah sibuk melayani para pembeli. "Ibu lihat deh, ada yang pesan produk yang aku pasarkan melalui sosial media milikku. Sepertinya aku akan memiliki keuntungan lagi." ucap Abian merasa bahagia telah mendapatkan orderan dari produk yang ia pasarkan di sosial media miliknya, Dan kini ia akan meraih keuntungan yang lumayan.
"Alhamdulillah kalau begitu. Itu artinya kamu bisa membeli sesuatu yang kamu inginkan saat ini, tanpa harus meminta uang saku dari ibu." ucap Erlita Senyum Sumringah menatap Putra sulungnya itu yang tampak bijak mencari uang tambahan.
Abang Karim juga merasa bahagia mendapatkan sambungan telepon seluler dari Abian, agar mereka segera mengirimkan pesanan yang sudah dikirimkan oleh Abian. Alamatnya dan Uang pembayaran sudah ditransfer oleh konsumen.
"Sepertinya jiwa bisnis ada di kamu Abian, Paman yakin kamu pasti bisa berhasil kelak." ucap Abang Karim di dalam sambungan telepon selulernya kepada Abian
"Insya Allah Paman." sahut Abian
Sedangkan Aska dan Arini yang sedang asyik bermain di depan ruang televisi, tampak Arinjn menangis karena rebutan mainan dengan Aska. Abian datang untuk melerai keduanya.
"Ada apa ini, Kenapa Adik Arini menangis? tanya Abian kedua adiknya.
__ADS_1
"Aku yang duluan mainkan mainan ini, tiba-tiba saja dia merebutnya dariku. Ya aku ambil lagi." ucap Aska tidak mau kalah.
"Kamu kasih aja, dia masih kecil. Seharusnya kamu mengalah kepada anak kecil." sahut Abian sambil meminta kepada Aska untuk memberikan mainan itu kepada Arini.
"Jadi kalau dia masih kecil, sesuka hatinya memainkan permainanku, walaupun aku lebih dulu memainkannya tadi? Abian menggelengkan kepalanya menatap kedua adiknya secara bergantian.
"Ayolah Aska, mengalah sama adik Arini nggak boleh seperti itu. Kamu sudah kakak-kakak. Seharusnya kamu harus membujuk Adik kamu yang lagi nangis." ucap Abian mencoba untuk bernegosiasi dengan Aska.
Sementara Arini masih terus menangis karena mainan yang dipegang oleh Aska tak kunjung ia berikan. Mendengar suara jeritan tangis Arini, Erlita terpaksa keluar dari warung miliknya, melihat apa yang terjadi terhadap putrinya itu.
"Kakak Aska ambil mainan Arini. Arini mau mainan itu." ucap Arini dengan nada suara khas anak kecil yang masih kurang jelas.
"Aska Putra ibu yang tampan, Tolong berikan mainannya kepada adik Arini, seharusnya kamu mengalah dong kepada adik kamu. kamu sudah gede, dan sudah menjadi seorang kakak." ujar Erlita mencoba untuk memberikan pengertian kepada Azka.
__ADS_1
Aska terdiam. Lalu menatap Arini yang masih menangis tersedu-sedu, akhirnya Aska mengalah dan ia pun memberikan mainan itu kepada Arini. "Lain kali kalau bermain tidak boleh berantem ya, itu kesalahan besar, lain kali jika kalian berantem bermain, Ibu tidak akan membeli mainan lagi untuk kalian" ujar Erlita.
Aska yang merasa bersalah pun langsung tertunduk dan meminta maaf kepada ibunya. Erlita mengembangkan senyumnya menatap Putra keduanya itu, yang sudah menyadari kesalahannya. Kini Erlita kembali ke warung miliknya untuk melayani para pembeli sementara Abian masih menjaga kedua adiknya di sana, takut mereka kembali rebutan mainan.
"Ada apa Erlita? aku mendengar suara tangis cucuku tadi." ucap Ibu Anjani kepada Erlita.
"Biasa bu, anak kecil. Aska tadi bermain dengan Arini di ruang televisi. Tapi mereka rebutan mainan, yang satu tidak mau mengalah membuat Arini menjadi menangis, karena dia merasa memiliki mainan itu." sahut Erlita sambil terkekeh.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN.
.