
Sebelumnya ibu Anjani menghubungi nomor ponsel Abang Karim memberitahu Kalau Arini saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Kebetulan Abang Karim merupakan teman suami dari Ibu Anjani.Tentunya Setelah Ibu Anjani mendapatkan kabar dari Erlita Kalau Arini harus dirawat inap. Karena Arini positif mengalami demam berdarah.
Ibu Anjani merasa kasihan melihat Erlita yang tak berdaya. Ia mengetahui kalau uang yang dipegang oleh Erlita tidak akan cukup untuk membayar biaya rumah sakit Arini selama dirawat di rumah sakit. Erlita mengira kalau demam yang dirasakan oleh putrinya itu hanya demam biasa. Ternyata tidak, hasil lab mengatakan kalau Arini, positif terkena demam berdarah.
Setelah Ibu Anjani menghubungi Abang Karim, Abang Karim bernisiatif untuk menghubungi John Kurniawan. Sebenarnya Abang Karim sudah sangat emosi mendengar Kabar kalau John tidak mengetahui putrinya sedang dirawat di rumah sakit hari ini. sehingga Abang Karim pun langsung menghubungi telepon seluler milik John Kurniawan.
Emosi Abang Karim meluap-luap tak dapat ia lampiaskan kepada John. Ia langsung pergi ke Rumah Sakit menghampiri Arini dan Erlita di sana. Tampak Abang Karim merasa kasihan melihat sang keponakan yang berbaring lemah di atas brangker yang disediakan oleh pihak rumah sakit, dengan di punggung tangan sang keponakan yang masih berusia balita itu, tertancap jarum infus membuat Abang Karim merasa kasihan.
Abang Karim mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Erlita saat ini, dari laut wajah Erlita tersirat kekhawatiran. "Sudah jangan kamu pikirkan. Lebih baik kau berdoa agar Arini cepat sembuh."ujar Abang Karim kepada Erlita. Tampak sang kakak ipar benar-benar begitu perhatian. Ia juga meminta maaf kepada Erlita karena dirinya terlambat mengetahui apa yang dilakukan oleh John Kurniawan terhadap Erlita dan juga ketiga anaknya.
Abang Karim ingin sekali berbicara dengan Erlita. Ia Pun meminta kepada Erlita agar bertindak tegas kepada John Kurniawan. supaya Jhon tidak semena-mena terhadap dirinya dan ketiga anaknya. "Adik ipar, apapun Yang terjadi terhadap rumah tangga kalian ketiga anak-anak kalian ini tetap keponakanku. Jujur aku minta maaf kepada kamu karena kelakuan adikku yang tak peduli terhadapmu dan ketiga keponakanku.
"Jika memang kamu sudah tidak mampu lagi melihat tingkah laku adikku, kamu boleh menggugat cerai dia. Aku mendukungmu, Aku pastikan hak asuh ketiga anakmu jatuh kepadamu. Tetapi tolong jangan kamu pisahkan aku dari ketiga keponakanku. Aku akan benar-benar membantumu. Jangan khawatir, dan rumah yang kalian tempati akan Aku pastikan menjadi milikmu. Dan aku akan membiarkan hidup suami kamu yang tak berguna itu, menjadi menderita. Biarkan Dia hidup bersama wanita murahannya itu." ucap Abang Karim yang sudah sangat emosi melihat tingkah laku adiknya yang tidak berakhlak itu.
__ADS_1
Erlita menatap Abang Karim dengan Tatapan yang sulit diartikan. "Terima kasih kakak ipar telah memperhatikan segala apa yang terjadi di kehidupan rumah tangga kami. Jujur semua ini sudah lama terjadi. Pernikahan kami sudah tidak sehat semenjak 14 tahun yang lalu. Dia sempat berubah, tapi kembali berulah lagi. Berulang kali dia seperti itu, tapi untuk saat ini, Sepertinya aku tidak bisa lagi memaafkannya. Karena dia sudah terang-terangan membawa wanita itu ke rumah dan dilihat langsung oleh ketiga keponakan kakak ipar." ucap Erlita memberitahu yang sebenarnya kepada Abang Karim.
Abang Karim menggelengkan kepalanya, "Yang sabar ya adik ipar, aku berdoa semuanya akan baik-baik saja. Kita lihat saja nanti sampai kapan dia bertahan kepada gundiknya itu." ucap Abang Karim. Sementara mbak Sukarti hanya menatap Erlita. lalu mengelus pundak Erlita untuk memberikan kekuatan dan hati Erlita sedikit terhibur.
"Terima kasih kakak ipar. Terima kasih Mbak Sukarti, Jujur aku tidak menyangka ternyata kalian sudah mengetahuinya semua. Aku sangat malu sebenarnya. Tapi apa daya kalian sudah terlanjur mengetahui perkawinan kami yang tidak sehat ini."ucap Erlita tanpa terasa air bening mengalir begitu deras di wajah cantik Erlita. Membuat Mbak Sukarti merasa tidak tega. Mbak Sukarti dapat merasakan apa yang dirasakan Erlita yang sebenarnya.
Sementara di tempat lain, Aska dan Abian yang tampak gelisah karena tak kunjung mendapat kabar dari sang ibu, mereka pun memohon kepada Ibu Anjani agar ibu Anjani bersedia meminjamkan ponselnya untuk menghubungi Erlita untuk mengetahui kabar tentang adik mereka Arini.
"Oma, bisa minta tolong tidak?
"Oma, Bisa pinjam ponselnya? soalnya Abian ingin menghubungi Ibu. Abian dan Aska khawatir kondisi kesehatan Adik Arini." ucap Abian kepada Ibu Anjani. Ibu Anjani mengembangkan senyumnya, menatap kedua bocah itu. Lalu meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
Ibu Anjani mencari nomor kontak Erlita, yang tertera di sana. lalu menyambungkan sambungan video call kepada Erlita berharap panggilan video itu tersambung. Erlita yang mendapat sambungan video call dari ibu Anjani langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan video call-nya tersambung kepada Ibu Anjani. Yang mana Erlita sangat mengkhawatirkan kedua putranya yang masih terlalu kecil ia tinggalkan berdua.
__ADS_1
Setelah sambungan video call itu tersambung, terlihat di sana wajah sembab Erlita membuat Abian merasa tidak kwatir dan tidak tega melihat sang ibu yang tampak sedih. "Ibu apa kabar ?apa Ibu sehat? Bagaimana kondisi Adik Arini sekarang? kami sangat merindukan ibu dan juga Arini. Padahal baru belum genap satu hari kita tidak bertemu, tapi rasanya sudah seperti setahun. Abian dan Aska sangat merindukan ibu dan adik Arini." ucap Abian dalam sambungan video call-nya.
Air bening luruh begitu saja, tanpa dirasakan Erlita sama sekali dan itu dapat disaksikan oleh Abian dan Aska saat sambungan video call itu tersambung. "Ibu kenapa menangis adik baik-baik saja kan Bu? pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Abian. Karena penasaran melihat air bening mengalir di wajah ibunya.
"Alhamdulillah, kondisi Adik kamu sudah berangsur membaik doakan saja trombosit Adik kamu segera naik, agar Adik kamu segera kembali ke rumah dan kita dapat berkumpul kembali seperti biasa."ucap Erlita sambil langsung menghapus air matanya.
Kalau begitu Coba perlihatkan adik Arini Bu. Aku sangat kangen kepada adik Arini." ucap Aska dan Abian serentak. Erlita mengarahkan kamera ponselnya ke arah Arini yang sedang tertidur pulas. Tampak Abian Melihat jarum infus tertancap di punggung tangan adiknya. Membuat dirinya benar-benar merasa tidak tega masih terlalu kecil adiknya merasakan sakitnya jarum infus tertancap di punggung tangannya.
Setelah selesai berbicara dengan Erlita, Abian dan Aska pun memutuskan sambungan video call-nya. Lalu mengembalikan ponsel itu kepada Ibu Anjani. Abian dan Aska kembali ke rumah, Lalu seperti biasa mereka mengerjakan PR yang diberikan oleh guru kepada mereka, tanpa harus disuruh oleh Erlita. Setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru kepada mereka, Abian dan Aska memilih untuk istirahat.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓