MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA

MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA
BAB 8. HAMIL LAGI_ MUDJ


__ADS_3

lima belas bulan kemudian, Kini Erlita kembali dipercayakan Allah untuk mengandung anak ketiga mereka. Awalnya Erlita berniat untuk menggugurkan kandungannya. Karena merasa ia tidak akan sanggup untuk membiayai kehidupan mereka kelak. Melihat kondisi ekonomi mereka yang serba kekurangan.


Tapi Erlita berdoa dan meminta petunjuk dari Allah. Sepertinya Allah membisikkan sesuatu "Jangan kamu gugurkan, semua anak memiliki rezeki masing-masing itu dosa besar."suara itu yang terngiang di telinga Erlita sehingga dirinya mengurungkan niatnya untuk meminum jamu penggugur kandungan.


Apalagi setelah ia melihat tingkah laku suaminya akhir-akhir ini sudah mulai bersifat manis terhadapnya. Tapi Erlita sama sekali tidak mengetahui itu perubahan yang bagaimana. Entah itu alibi menutupi kesalahannya telah menghianati cinta Erlita, Erlita sama sekali tidak mengetahuinya.


Kebiasaan bermain judi di salah satu warung yang lokasinya lumayan jauh dari rumah kontrakan yang ditempati Erlita mungkin tidak bisa dihindari oleh John. Yang mana itu sudah menjadi sifatnya yang buruk. Tidak hanya bermain judi, main perempuan juga iya dan juga mabuk-mabukan.


Mencoba untuk tetap bertahan dan mempercayai suaminya. Apalagi Erlita tidak memiliki cukup bukti yang kuat untuk menggugat cerai suaminya. Suaminya memang selalu memberikan uang belanja kepada Erlita, walaupun tidak seberapa. Erlita enggan memberitahu kepada keluarganya apa yang sebenarnya ia alami dalam kehidupan rumah tangganya.


Ia selalu menutupi apa yang terjadi. pertengkaran demi pertengkaran yang ia lalui tidak pernah ia sampaikan kepada keluarganya. Hanya deraian air mata yang mengalir di wajah cantiknya. Apalagi ia menatap kedua wajah putranya yang begitu tampan dan menggemaskan.


Kedua putranya sangat bijak membuat dirinya lupa akan tingkah laku suaminya. Erlita memberitahu soal kehamilannya kepada suaminya. "Mas aku hamil lagi,Bagaimana ini sedangkan Anak kita sudah dua. Kondisi ekonomi kita sekarang sangat tidak memadai." ucap Erlita kepada suaminya.


"Aku berniat untuk menggugurkannya. Bagaimana menurutmu Mas?" tanya Erlita mencoba meminta pendapat dari suaminya.


"Tidak, Jangan pernah kamu lakukan itu, siapa tahu anak yang ada di rahim kamu anak perempuan, dan kita akan segera memiliki seorang putri." ucap John kepada Erlita.


Erlita terdiam sejenak. Ia pun menganggukkan kepalanya. Karena ia mengetahui John tidak memiliki saudara perempuan sama sekali. Ia ingin sekali memiliki seorang putri, sehingga ia meminta Erlita untuk tetap mempertahankan kehamilannya.


Hari demi hari dilalui Erlita bersama suaminya. John pun sudah mulai sedikit berubah, setelah mengetahui kalau saat ini Erlita sedang hamil. "Aku berangkat kerja dulu ya sayang." ucap John kepada Erlita dibalas anggukan dari Erlita setelah memberi salam kepada suaminya.


Dengan doa yang tulus Erlita memberangkatkan suaminya. Berharap suaminya benar-benar sudah berubah. Erlita melambaikan tangannya menatap kepergian suaminya sampai becak bermotor yang dikendarai suaminya menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Kring ...


kring ...


kring ....


Suara deringan ponsel milik John terdengar jelas di telinganya. Ia melihat yang menghubungi dirinya merupakan kakak ipar Erlita. John mengangkat sambungan telepon seluler itu yang sedang berada di salah satu warung tempat biasa Ia bermain judi.


"Apa bang, kok tumben menghubungiku?" jawabnya setelah menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. "Kau bisa datang ke rumah,tidak? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." ucap Abang Karim kepada John.


"Memangnya ada apa Bang? beritahu saja kenapa harus di rumah? tanya John penuh selidik. Karena dirinya penasaran apa yang akan dibicarakan oleh kakaknya itu.


"Tidak bisa melalui sambungan telepon, kalau kau bisa datang, datanglah bersama adik ipar dan juga keponakanku itu." ucap Abang Karim kepada John di dalam sambungan telepon selulernya


"Kau siap-siap gih, Kita disuruh Abang datang ke rumah. Sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan." ucap John meminta Erlita untuk segera bersiap-siap.


Erlita menganggukkan kepala. Setelah beberapa menit kemudian, Erlita, Abian dan Putra keduanya sudah berada di dalam becak bermotor yang selama ini menemani hari-hari suaminya mencari nafkah.


John menghidupkan mesin becak bermotornya. Lalu melajukannya ke arah jalan raya menuju rumah abang Karim yang lokasinya memakan waktu sekitar 30 menit, dari rumah kontrakan yang selama ini mereka tempati.


Setibanya di sana, tampak Abang Karim sudah menunggu Erlita dan suaminya Begitu juga dengan kakak ipar perempuan sudah duduk di ruang tamu. "Syukurlah kalian sudah datang. Mumpung Di sini orangnya." ucap Abang Karim sambil langsung mempersilahkan Erlita dan suaminya duduk bersama keponakannya.


"Kakak ipar perempuan Erlita langsung meraih tubuh Putra Kedua mereka ke pelukannya. lalu membawanya bermain di halaman. "Ada apa, sampai Kakak memintaku datang ke sini?" tanya John yang masih sangat penasaran.

__ADS_1


"Kedua orang tua kita sudah tiada mereka meninggalkan sebidang tanah yang untuk dibagikan kepada kita. Kebetulan Kakak membutuhkan uang untuk biaya pendaftaran Ricky masuk polisi. Kakak sangat membutuhkan uang itu, bagaimana kalau tanah milik kedua orang tua kita itu kita jual? dan hasilnya kita bagi dua." ucap Abang Karim kepada John.


Erlita tidak ingin membuka suara. Karena itu merupakan hak kakak beradik, tidak ingin ikut campur dengan harta warisan yang dimiliki oleh suaminya. Sehingga ia berbincang-bincang dengan kakak ipar perempuannya, sambil bermain dengan Abian dan juga Putra keduanya.


"Kalau kita jual kira-kira dihargai berapa? Tanya John kepada sang kakak. Om Ferdi menawar tanah itu sebesar satu miliar, jadi kalau kita jual kita langsung bagi dua. Kau bisa membeli rumah sederhana tanpa kau harus tinggal di rumah kontrakannya lagi dan selebihnya kau bisa gunakan untuk modal usaha." ucap Abang Karim kepada John.


John tampak berpikir, lalu akhirnya setuju lelah sudah tinggal di rumah kontrakan. Apalagi ia mengetahui kalau istrinya saat ini sedang hamil anak ketiga mereka. Sungguh sulit jika mereka tinggal di rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar.


"Ya sudah bang, tidak apa-apa kita jual saja. Lagian pas yang Abang katakan. Aku bisa memanfaatkan uang itu, untuk membeli rumah sederhana dan juga bisa modal usaha aku membuka koperasi simpan pinjam." ucapnya kepada sang kakak. Dibalas senyuman dari sang kakak. Karena abang Karim juga mengetahui kebiasaan buruk John. Sehingga Abang Karin meminta persetujuan Erlita.


Abang Karim meminta kepada Jhon agar uang itu diserahkan langsung kepada Erlita. dan rumah dicari terlebih dahulu, untuk mereka tempati kelak, baru tanah itu resmi dijual dan itu di setujui oleh John.


"Ada rasa bahagia di hati John, Ketika sang kakak sudah berniat untuk menjual tanah milik kedua orang tua mereka. Yang sudah lama meninggalkan mereka.


"Syukurlah setidaknya aku tidak akan tinggal di rumah kontrakan lagi. Dan aku akan bisa memiliki usaha koperasi seperti yang aku impikan. Jangan terus aku pinjam sana pinjam sini, aku selalu yang menjadi ditagih oleh sang rentenir. Sekarang aku yang akan menjadi seorang menagih." gumam John dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA MORATA YANG BARU TERBIT." PERJUANGAN ABIMAYU."

__ADS_1


__ADS_2