MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA

MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA
BAB 43. CITA CITA _ MIDJ


__ADS_3

Kring.....


Kring .....


Kring.....


Suara Deringan ponsel milik Erlita terdengar jelas di telinganya. Saat dirinya berbincang-bincang dengan John Kurniawan, Mbak Sukarti, dan abang Karim.


Ia melihat di layar ponselnya kalau yang menghubungi dirinya adalah Hamdan. Lelaki yang selama ini memendam rasa terhadapnya dan lelaki itu juga yang membantu Erlita memenangkan kasus perceraian yang dijalani Erlita dengan John Kurniawan.


Ia melirik ke arah Abang Karim dan John Kurniawan dengan sekilas. Sebenarnya Erlita enggan untuk mengangkat sambungan telepon seluler. Tapi karena Hamdan bolak-balik menghubunginya, sehingga Abang Karim pun meminta kepada Erlita agar menyahuti sambungan telepon seluler itu. Abang Karim tidak mengetahui kalau Hamdan sebenarnya mencintai Erlita semenjak mereka duduk di bangku SMA.


Abang Karim mengetahui kalau Hamdan saat ini sudah menduda. Istrinya meninggal paska usia pernikahan mereka di usia 2 tahun. "Angkat saja Erlita, tidak apa-apa. Siapa tahu penting." ujar Abang Karim yang dibalas anggukan dari Erlita. John sama sekali tidak mengetahui siapa yang menghubungi Erlita. Tapi saat Erlita menyahuti dengan memanggil seseorang yang di sana, dengan sebutan mas, hati jangan terasa sakit.


"Halo Assalamualaikum Mas." sahut Erlita di dalam sambungan telepon selulernya.


"Waalaikumsalam Erlita Bagaimana kabar kalian di sana? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Hamdan di ujung telepon.


"Alhamdulillah kabar Kami baik-baik saja di sini Mas.


"Bagaimana dengan kabar Mas?"


"Mas juga baik-baik saja di sini.


"Oh iya, mungkin minggu depan aku akan datang ke Medan. Aku ada pekerjaan di sana sedang menangani salah satu kasus di sana. Aku harap kita dapat bertemu." ucap Hamdan di ujung telepon


" Okey mas, nanti jika Erlita ada waktu pasti kita dapat bertemu Mas. Mas Tenang saja, aku tidak akan melupakan Budi baik mas selama ini kepada ku dan ketiga anak-anakku." ucap Erlita kepada Hamdan.

__ADS_1


"Ya selama ini Hamdan sudah banyak membantu Erlita. Hamdan selalu memberikan perhatian lebih, kepada Erlita dan ketiga anaknya. Hamdan paling mengetahui jika Erlita membutuhkan sesuatu. Termasuk biaya sekolah anak-anaknya.


Hamdan sering membantu uang sekolah ketika anaknya. Walaupun Erlita tidak pernah meminta. bahkan jika Erlita menolak Hamdan merasa sakit hati terhadapnya. Sehingga Erlita tidak bisa menolak pemberian yang diberikan Hamdan kepada anak-anaknya.


Entahlah, tapi sepertinya Erlita sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Hamdan. Ia hanya menaruh simpati karena mendapatkan perhatian yang tidak ia dapatkan dari John Kurniawan selama ini. Entah suatu saat nanti, Erlita membuka hatinya kepada Hamdan. Yang pasti untuk saat ini Erlita ingin sendiri dan fokus menyekolahkan ketika anaknya.


Setelah selesai berbicara dengan Hamdan, Erlita memutuskan sambungan telepon selulernya. Lalu kembali menghampiri mbak Sukarti, Bang Karim dan John di sana. sedangkan ketiga putra-putrinya asyik bermain di teras rumah yang tampak luas dan asri.


"Siapa yang menghubungimu? tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Jhon.


" Oh itu teman lama aku, teman yang selalu ada untukku. Teman yang biasa mendengar curhatan hatiku." sahut Erlita yang mampu membuat hati John bagai tersentil oleh apa yang diucapkan Erlita kepadanya.


Sementara Abang Karim dan Mbak Sukarti saling memandang. Mereka berdua tidak dapat menyalahkan Erlita, jika Erlita memiliki hubungan dengan lelaki lain. Karena saat ini Erlita dan John Kurniawan telah resmi bercerai.


Tiba-tiba saja Gibran datang menghampiri mereka dengan menggunakan baju dinas kepolisian. Abian yang melihat Gibran berdiri tegak dengan menggunakan baju kehormatannya. Abian menaruh hormat kepada Gibran saat Abian berniat masuk ke rumah untuk mengambil air minum.


"Kak Gibran, aku juga menginginkan cita-cita yang sama seperti kakak. Aku ingin menjadi seorang polisi. Kira-kira bisa nggak ya? tapi kalau membutuhkan uang banyak Sepertinya aku tidak bisa. Karena jelas-jelas uang Ibu tidak ada. Mungkinkah dengan Abian belajar dengan tekun dan Abian pintar bisa menjadi seorang polisi Kak?" Tanya Abian penuh selidik kepada Gibran.


Abian mengembangkan senyumnya. lalu kembali memberi hormat kepada sang kakak sepupu yang sudah menjadi seorang polisi. Erlita mengembangkan senyumnya menatap tingkat putranya yang begitu terkagum terhadap seorang polisi.


Sementara Aska yang baru datang menghampiri mereka berceloteh. "ah Aska tidak mau jadi seorang polisi."


"loh kenapa Aska tidak mau jadi polisi?" tanya John Kurniawan yang menarik atensi Aska. Aska sama sekali tidak menjawab pertanyaan John Kurniawan ia memilih untuk diam.


"Iya Aska kamu kenapa tidak mau jadi seorang polisi nak?" tanya Erlita penuh selidik


"Tidak Bu, Aska tidak mau jadi polisi karena Aska memiliki cita-cita lain.

__ADS_1


"Apa itu sayang?


"Aska ingin menjadi seorang pengacara sama seperti Om Hamdan.


"Mengapa Aska ingin menjadi seorang pengacara?"


"Agar aku bisa membela ibu jika ada seseorang yang menyakiti ibu. Jika aku menjadi seorang pengacara, maka aku pasti bisa membantu ibu, kakak, dan adik Arini jika ada masalah di kemudian hari." jawabnya yang mampu membuat Erlita dan orang-orang di sana terhenyak. Pemikiran Aska benar-benar di luar nalar anak seusia Aska.


"Arini juga memiliki cita-cita!" Oceh Arini dengan nada suara khas bocah kecil yang masih belum terlalu jelas.


"Oh ya?" Memangnya Arini ingin jadi apa tanya Mbak Sukarti antusias.


"Arini ingin menjadi dokter? sahutnya membuat mbak Sukarti dan yang lain langsung terkekeh.


"Mengapa Arini menjadi seorang dokter?


"Supaya Arini bisa mengobati orang-orang yang Arini Sayang. Seperti ibu, kakak, Abian Kakak Aska, paman dan bibi dan yang lainnya deh. yang pasti semua yang Arini sayang." ucap Arini yang mampu membuat orang-orang yang di sana tertawa ngakak.


John hanya menunduk tak ada namanya disebutkan oleh Arini. Entahlah semenjak Arini dilahirkan ke dunia ini. Arini sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari John. Mungkin karena hal itulah yang membuat Arini sama sekali tidak memiliki rasa kasih sayang terhadap ayahnya. Berbeda dengan Abian dan juga Aska.


"Hati John terasa sakit, menyesali segala apa yang ia lakukan. Terutama terhadap Arini yang sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang darinya. Bahkan Arini lahir pun ia tidak lihat dan memilih untuk bermain judi di warung tongkrongan yang selalu menjadi tempat John menghabiskan waktunya.


John lebih banyak menghabiskan waktunya di warung tongkrongan bermain judi, ke cafe remang-remang dan juga bermain wanita di luaran sana, dibandingkan dengan anak-anak dan istrinya."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2