
Beberapa bulan menjalani terapi, kini kondisi kesehatan John semakin membaik. Apalagi Abang Karim tidak pernah lelah untuk membawa John Kurniawan kontrol kesehatan, dan juga terapi sesuai dengan anjuran dokter.
Saat ini, John hanya menurut Apa kata dokter. Berharap dirinya cepat pulih kembali agar dirinya tidak selamanya tergantung kepada orang lain. Jika ingin melakukan aktivitas
Di kesehariannya John membantu Abang Karim untuk berjualan online di salah satu sosial media miliknya.
John merasa bersyukur walaupun kondisi dirinya saat ini lumpuh, tapi ia tetap semangat mencari nafkah. Setidaknya untuk biaya pengobatan dan terapinya, tidak tergantung kepada Abang Karim dan juga Gibran.
Dengan memasarkan produk yang dijual oleh Abang Karim dan mbak Sukarti selama ini, melalui sosial media miliknya. Kini usaha online shop yang digeluti oleh Abang Karim dan mbak Sukarti saat ini sangat berkembang.
Dengan bantuan John Kurniawan, mereka benar-benar bersyukur. Mungkin ini salah satu rezeki yang diberikan Allah kepada mereka, karena selalu sabar menolong John selama ini.
"Kamu lihat sendiri kenyataannya bukan, kamu bisa membiayai pengobatan kamu sendiri dengan hasil jerih payah mu, tanpa harus meminta bantuan kepada kakak dan juga Gibran. Semuanya kalau dilakukan dengan ikhlas dan tulus. Kau pasti akan bisa berhasil. Tidak mesti harus berusaha dengan uang riba yang kamu lakukan sebelumnya." ucap Abang Karim kepada John dibalas anggukan dari John.
John bertekad dalam hatinya, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi seperti dulu. Bahkan uang miliknya yang dipinjam oleh para nasabahnya, yang belum membayar ia tidak memiliki niat lagi untuk meminta uang itu. John hanya menginginkan agar kondisi kesehatannya kembali. Tapi sampai saat ini John masih terduduk di kursi roda. Walaupun dirinya rutin kontrol dan terapi ke rumah sakit.
"Kamu harus sabar, semuanya butuh proses. aku yakin kamu pasti bisa menghadapi ini semua." ucap Abang Karim memberikan semangat kepada John Kurniawan. Tiba-tiba Abian, Aska, dan Arini tiba di rumah abang Karim bersama dengan Erlita.
Erlita sengaja memasak makanan kesukaan John dengan porsinya diperbanyak. Berharap John makan dengan lahap walaupun Erlita sudah bercerai dengan John. Tapi ia tetap bersikap baik terhadapnya. Karena bagaimanapun John itu tetap ayah kandung ketiga anaknya.
"Assalamualaikum ayah...." sapa Abian, Aska dan Arini. John yang sedang asyik dengan postingan dagang online nya pun mendongakkan kepala. Ia pun mengembangkan senyumnya, lalu meletakkan ponsel di atas meja, merentangkan tangannya untuk meraih ketiga putra-putrinya.
Kini Abian, Aska dan Arini sudah berada di pelukan John Kurniawan.
"Ayah apa kabar? tanya Abian penuh selidik.
__ADS_1
"Alhamdulillah kondisi ayah saat ini sudah semakin membaik. Bagaimana dengan kabar kalian apa semuanya baik-baik saja dan berjalan dengan lancar di sekolah?" tanya John sambil menatap ketiga putra-putrinya bergantian.
"Seperti biasa ayah, Abian tetap juara satu dan Aska juga sama tetap di juara satu. Ayah tidak perlu khawatir. John Kurniawan merasa bangga kepada putranya yang meraih rangking Di sekolah. Semua itu tidak luput dari kerja keras Erlita yang mendidik anak-anaknya.
"Terima kasih kamu sudah mendidik ketiga anak kita dengan baik. Terbukti mereka belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan rangking Di sekolah. Mungkin kalau kamu tidak mendidik mereka dengan baik, itu tidak mungkin terjadi." ucap John sambil menatap Erlita dengan tatapan sendu.
Erlita tidak menjawab. Ia hanya menatap John dalam-dalam. Mendengar suara celotehan Arini, tampak John terkekeh hingga suara tawa John dan ketiga putra-putrinya terdengar ke dapur menarik atensi Mbak Sukarti yang berkutat di dapur.
"Eh keponakanku Sudah pada datang ." Sapa Mbak Sukarti ramah.
Ketiga bocah itu pun berlari menghampiri Mbak Sukarti. Lalu memberi salam. Tiba-tiba Abang Karim muncul.
"loh kalian kapan datangnya? kok Paman tidak tahu?
"Paman tadi ada di kamar, kebetulan ada sesuatu yang Paman kerjakan di sana." sahut Abang Karim sambil membalas pelukan Aska yang sangat menggemaskan.
Sebelumnya Erlita sudah memberikan makanan yang ia masak dari rumah untuk mereka nikmati hari ini di rumah Abang Karim.
Sementara di tempat lain, Yulianti tampak sedang melayani tamu yang dikenalkan oleh Alina kepadanya. Kali ini Yulianti benar-benar babak belur lebih parah Dari hari sebelumnya. Membuat Yulianti tidak berdaya. Kelainan yang dimiliki pria itu menyiksa batin Yulianti. Ia pun bertekad untuk segera melarikan diri saat pria itu sudah membayarnya dan tidak ingin melayani pria itu lagi.
"Kau memang wanita yang sangat luar biasa, aku ingin tetap bersamamu. Bagaimana kalau kita menikah saja? ucap pria itu setelah mendapatkan kepuasan dari Yulianti malam itu.
Yulianti berusaha mengembangkan senyumnya.
"Apa kamu serius Mas?" tanya Yulianti kepada pria itu
__ADS_1
"Iya, aku serius. Jika kau bersedia menikah denganku, Kau akan aku berikan rumah mewah, mobil dan kau tidak perlu bekerja lagi di cafe itu."ucap pria itu membuat mata Yulianti berbinar membayangkan ia tinggal di rumah mewah dan mengendarai mobil sendiri.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu Mas? "Jangan bercanda ah, aku tidak suka bercanda." ucapnya sambil mengalungkan tangannya di jenjang leher pria itu. Ia pun bergelut manja di sana. Tingkah Manja Yulianti terhadap pria itu membuat pria itu menyukai sosok Yulianti.
Yulianti berpikir sejenak. Iming-iming rumah mewah mobil dan uang yang begitu banyak ditawari pria itu memang sangat menggiurkan. Tapi jika dibayangkan siksaan yang diberikan pria itu, sebelum melakukan hubungan suami istri memang menyakitkan.
"Jika aku menikah dengan mas apa kedua anakku bisa ikut dengan kita?" tanya Yulianti penuh selidik
"Aku hanya menikahi mu, bukan menikahi kedua anakmu.Jadi jika aku menikah kamu aku hanya ingin kau bersamaku. Aku tidak ingin kedua anakmu tinggal bersama kita." ucap pria itu yang mampu membuat Yulianti terhenyak.
Iya kembali berpikir. Jika aku menikah dengan pria ini, maka hidupku pasti akan dilimpah kemewahan. Tetapi bagaimana mungkin aku hidup dilimpahi kemewahan jika anak-anakku tidak dapat menikmatinya?" ucap Yulianti kepada pria itu.
Masalah itu masalah kecil tidak perlu diperbesar. Kamu bisa memberikan uang yang aku berikan kepada anak-anakmu dan berikan mereka tempat tinggal yang layak. Mereka juga sudah tidak kecil lagi, mereka sudah besar. Jadi tidak perlu kamu harus ini itu. Jika memang mau kamu menikah denganku, salah satu syaratnya Jangan membawa kedua anakmu." ucap pria itu menegaskan.
Yulianti tampak masih berpikir. Aku tidak memberikan kesempatan kedua. Pilih kamu mau menikah denganku atau tidak? jawabannya antara ya dan tidak saja. jangan panjang lebar.
Yulianti menyanggupi Apa yang diucapkan oleh pria itu. Dia bersedia menikah dengannya ,walaupun tidak membawa kedua putranya. Ia hanya bisa membayangkan hidup dilimpahi harta, tanpa harus bekerja, dan biaya kehidupan putranya bisa terjamin.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1