
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Aska terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan Abian di sampingnya. Ia belum menyadari kalau kakaknya Abian sudah tidak tinggal bersama Mereka lagi.
Karena saat ini Abian harus menjalani kehidupannya menjadi seorang polisi dan tinggal di asrama menjalani pendidikan setelah diterima menjadi seorang polisi. Aska mengucek kedua kelopak matanya. lalu perlahan bangkit dari tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi berniat untuk melakukan ritual mandinya.
Sementara Arini yang sudah berada di dapur bersama dengan Erlita, tampak hari ini antusias memperhatikan ibunya sedang memasak dan mencuci piring. Sesekali Erlita menyuruh Arini untuk mengambilkan sesuatu dan itu dilakukan oleh Arini dengan senang hati. Ada rona bahagia di hati Erlita tampaknya Putri kecilnya sudah mulai tumbuh besar.
"Ibu nanti kalau Arini sudah besar Ibu tidak perlu capek-capek lagi memasak, mencuci piring, dan menyuci kain. Itu nanti menjadi tugas Arini." ucap Arini yang mampu membuat Erlita tertawa cengengesan.
Aska yang baru selesai melakukan ritual mandinya dan langsung mengenakan seragam sekolahnya pun, langsung menghampiri Erlita yang telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
"Selamat pagi ibu." sapa Aska saat sudah berada di dapur.
"Pagi juga sayang, kamu sudah siap-siap pakai seragam?" tanya Erlita yang melihat penampilan Putra keduanya sudah tampak rapi menggunakan seragam sekolahnya.
"Iya Bu, adek Arini Nggak sekolah hari ini? tanyanya penuh selidik.
"Sekolah dong, dia sudah selesai mandi kok, tinggal pakai baju seragam saja." sahut Erlita sambil langsung menata menu sarapan pagi pagi itu di meja makan.
Setelah menata sarapan pagi di atas meja makan sederhana yang mereka miliki, kini Erlita menuntun Arini agar segera menggunakan seragam sekolahnya. Dengan telaten Arini menang sangat antusias. Setelah menggunakan seragam sekolah dan sepatu sekolahnya, Erlita mengucir rambut indah putrinya agar terlihat rapi dan cantik.
"Wah Putri Ibu cantik sekali." ucap Erlita ketika telah selesai mengucir rambut putrinya.
"Benarkah Bu?" ucapnya sambil memandang pantulan tubuhnya di depan cermin.
"Iya dong, siapa dulu yang dandanin Putri Ibu." ucap Erlita.
__ADS_1
"Terima kasih Bu, Arini sayang sama ibu." ucap Arini sambil langsung memeluk Erlita. Erlita pun membalas pelukan Sang Putri.
" Ibu juga sayang sama Arini." ucap Erlita sambil mengembangkan senyumnya.
Kemudian Erlita pun segera menuntun Arini ke ruang makan. Yang mana Aska sudah menunggu mereka di sana untuk bersantap sarapan pagi. Hari ini mereka sarapan bertiga saja. Sudah tidak ada Abian yang selalu membantu Aska menyiapkan segala sesuatunya. Saat ini Aska sendiri yang harus mandiri menyiapkan bekal air minum. Yang biasanya itu dilakukan Abian untuk adik-adiknya.
Saat Aska dan Arini menyantap sarapan pagi mereka, Erlita menatap kedua putra-putrinya secara bergantian. "Astaga! Tidak terasa anak-anakku sudah pada besar. Abian sudah tidak tinggal di sini lagi, karena dia mengejar cita-citanya. Maka tidak menutup kemungkinan Aska juga akan meninggalkanku. Kelak Siapa yang menemaniku di hari tuaku?" gumam Erlita dalam hati.
Sekilas ia teringat dengan apa yang diucapkan oleh Kakak sepupunya saat datang dari Jakarta. Tapi lagi lagi rasa trauma yang dirasakan oleh Erlita membuat dirinya terus mengurungkan niatnya untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain.
Aska yang menyadari ibunya melamun saat mereka menikmati sarapan pagi, Ia pun menegur ibunya. "Ibu kenapa? apa yang Ibu pikirkan? apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati ibu? tanya Aska yang membuyarkan lamunan Erlita.
"Oh.... Ibu tidak apa-apa nak." jawab Erlita kikuk.
"Ya sudah Bu, Aska sudah siap sarapan, Aska dan Arini akan segera berangkat ke sekolah. "Biarkan Ibu yang menghantarkan kalian, ya." ucap Erlita kepada putranya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh menit, karena jarak sekolah Aska dan Arini dari rumah tidak terlalu jauh sehingga mereka pun tidak terlalu banyak memakan waktu menempuh perjalanan menuju sekolah.
Erlita menghentikan motor miliknya setelah sudah tiba di gerbang sekolah. Kemudian Aska turun diikuti dengan Arini yang duduk di bagian depan Erlita.
"Bu Aska pamit ya." ucap Aska sambil langsung mencium punggung tangan Erlita. diikuti dengan Arini juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Aska.
"Belajar yang baik ya nak, sayangi teman-temannya jangan ribut-ribut." ucap Erlita sambil mengembangkan senyumnya menatap Putri dan putranya berlari masuk ke ruang kelas masing-masing.
Setelah memastikan Aska dan Arini sudah masuk ke dalam ruang kelasnya, Erlita berlalu meninggalkan sekolah itu langsung menuju pasar tradisional, untuk belanja bahan makanan dan barang dagangan miliknya.
__ADS_1
Walaupun saat ini Abian sudah mencapai cita-citanya menjadi seorang polisi, tetapi Erlita tetap berusaha agar dirinya dapat menyekolahkan kedua adik Abian yang memiliki cita-cita cukup tinggi.
Abian juga berencana ingin kuliah kembali ketika masa pendidikannya Telah usai, Abian ingin pangkatnya juga akan cepat naik jika dirinya kuliah lagi. Dan itu pun tetap mendapat dukungan dari Erlita. Tanpa kenal lelah Erlita terus berjuang agar ia dapat menyekolahkan anak-anaknya.
Tidak hanya berjualan sembako di warung sembako miliknya, dia juga memasarkan warung sembako miliknya melalui online. membuat usaha warung sembako milik Erlita semakin berkembang. Menjadi seorang single parent tidak menghambat Erlita untuk tetap bisa menyekolahkan ketiga anaknya.
Di samping itu, akhir-akhir ini John Kurniawan juga sudah membantu dirinya untuk membiayai sekolah anak-anaknya walaupun tidak seberapa. Tapi harus tetap patut disyukuri.
Dilihat dari kondisi fisik John Kurniawan,itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tapi untuk menutupi segala kesalahan yang ia lakukan selama ini, ia terus berusaha dan berusaha agar dapat membantu Erlita membiayai sekolah anak-anaknya.
John terus memasarkan produk olshop milik Abang Karim, Tak kenal lelah John terus memasarkan produk-produk tersebut. Walaupun terkadang pendapatan tidak sesuai dengan harapan John bulan itu. Tapi ia terus berusaha dan berusaha berharap kedepannya ia akan mendapat keuntungan yang lumayan besar agar dapat membantu Erlita.
Sementara di tempat lain, Kuncoro yang mendapatkan vonis hukuman seumur hidup membuat dirinya pun merasa tidak berdaya. Kuncoro menatap Rizki dengan tatapan tajam. Ia terus menyalahkan Rizki, sehingga membuat Kuncoro juga tertangkap.
Padahal Rizki sama sekali tidak buka mulut akan hal itu. Hanya saja Gibran dan rekan-rekannya terus menyelidiki Siapa pemilik barang tersebut. Sehingga mereka pun dapat meringkus Kuncoro dari rumah kos-kosannya.
"Ingat kalau aku tidak bebas dari sini bulan ini juga, kau akan mati di tanganku." ancam Kuncoro yang mampu membuat Rizki ketakutan.
"Maaf Bang, tapi aku tidak pernah memberitahu kepada polisi kalau abang pemilik barang itu. Aku pun tak tahu kalau aku diikuti oleh polisi polisi itu, Aku mengira mereka hanya ojek online ."ucap Rizky kepada Kuncoro saat mereka berjalan memasuki sel masing-masing.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN