
"Paman, Bagaimana kondisi Ayahku, apa dia baik-baik saja?" tanya Abian yang sudah tampak sangat khawatir.
Abang Karim hanya terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan sang keponakan. Karena dokter belum dapat memastikan kondisi John saat ini, yang masih belum stabil. Apalagi sekarang John membutuhkan golongan darah yang sama dengannya.
"Apa sebenarnya yang terjadi kakak ipar?" tanya Erlita kepada Abang Karim yang masih tampak gelisah di sana.
"Maaf, transfusi darah harus segera dilakukan. Kalau tidak, kami tidak dapat menjamin keselamatan pasien." ucap dokter yang baru keluar memeriksa kondisi kesehatan Jhon.
"Saya putra kandungnya dokter, sudah pasti golongan darah saya sama dengan ayah saya. Ambil darah saya semau dokter, asalkan ayah saya bisa pulih Kembali." ucap Abian kepada sang dokter yang mampu membuat orang-orang yang di sana terhenyak mendengar Apa yang diucapkan Abian.
Dokter menatap Erlita dengan tatapan penuh tanya. Seolah dokter meminta persetujuan dari Erlita. "Kamu serius apa yang kamu ucapkan Abian?" tanya abang Karim yang tampak serius bertanya langsung kepada Abian.
"Iya paman, aku serius aku Putra kandung Ayah. Sudah otomatis golongan darahku sama dengan ayah sama. Dan kondisi kesehatanku saat ini sehat walafiat" ucap Abian meyakinkan sang paman.
Erlita menganggukkan kepala, pertanda dirinya setuju akan keputusan putranya. Kini Abian menjalani pemeriksaan golongan darah miliknya, berharap dirinya bisa mendonorkan darah kepada ayah kandungnya sendiri.
"luar biasa kamu Nak, Di usiamu seperti ini kamu sudah bersedia menyumbangkan darah kamu untuk menolong ayah kamu, yang sudah jelas jelas tidak perduli kepada kalian. Kamu memang anak yang berbakti" ucap Mbak sukarti dalam hati.
Suster yang bertugas terkait donor darah yang dilakukan oleh Abian, mengembangkan senyumnya sekaligus bangga dengan anak diusia Abian tulus membantu sesama.
"Syukurlah golongan darah Kamu cocok untuk pasien."ucap suster setelah mengetahui hasil pemeriksaan golongan darah Abian. Dan saat ini Adbian sedang menjalani donor darah dan John juga menerima transfusi darah dari Abian.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian setelah transfusi darah itu dilakukan, kini kondisi John sudah mulai stabil. Terlihat dokter bernapas lega setelah denyut nadi John Kurniawan sudah mulai normal. "Kamu memang anak yang luar biasa, kamu tidak menyimpan dendam terhadap ayah kamu. Padahal Ayah kamu sudah menyakiti kalian." ucap Abang Karim sambil langsung memeluk Abian. Sementara Aska hanya menatap Abang Karim dan Abian saling berpelukan seolah dirinya ingin bertanya ada apa yang sebenarnya.
Dokter pun mengizinkan Erlita dan ketiga anaknya untuk melihat langsung kondisi kesehatan John. Begitu juga dengan Abang Karim dan mbak sukarti. Mereka pun menghampiri John yang belum sadarkan diri.
Abian meneteskan air matanya, menatap ayahnya berbaring lemah di atas breaker yang disediakan pihak rumah sakit. Alat-alat medis juga menempel di bagian tubuh John Kurniawan. Perlahan Abian mendekati John dan ia meraih tangan sang ayah.
"Ayah cepat sembuh ya, Abian tidak mau Ayah kenapa kenapa. Apa Ayah tidak menyayangi Abian, Aska, dan Arini?" tanya Abian seolah-olah ia membuat kalau John Kurniawan dapat mendengar apa yang ia bicarakan terhadap ayah.
"Ayah bangunlah, aku tahu ayah itu kuat dan tidak lemah. Abian tahu ayah orang yang kuat. Abian ingin Ayah pulih kembali.Yang Lalu biarlah Berlalu, Kita mulai dari awal lagi. walaupun Ayah tidak bersama ibu, tapi ayah tetap Ayah kami." ucap Abian sambil mengelus wajah ayahnya yang terlihat pucat. mendengarkan kata-kata Abian yang membuat hati Erlita, Mbak Sukarti dan Abang Karin tersentuh.
"Ya Allah begitu dewasanya keponakanku ini, di usianya yang belum genap dua belas tahun kini sudah benar-benar seperti orang dewasa." gumam Abang Karim.
Kedua kelopak mata tergenang oleh air bening yang hampir saja luruh di wajah cantiknya Erlita .
Erlita sudah tak sanggup lagi menatap kedua putranya yang mengharapkan kehadiran ayah mereka. Kini Erlita tidak sanggup lagi dan ia memilih untuk keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Abang Karim dan Mbak Sukarti paham apa dalam isi hati Erlita.
Pikiran Erlita sangat kalut. Ia sungguh tidak tega melihat putranya yang tampak mengharapkan kasih sayang dari seorang ayah, yang selama ini mereka tidak dapatkan.
Abian dan Aska berusaha untuk memeluk ayahnya dengan berhati-hati. "Ayah bangun jangan seperti ini kalau Ayah seperti itu itu artinya Ayah seorang pecundang. Kalau Ayah memang menyayangi Abian, Aska, dan adik Arini, Ayah bangun dan kembali lah." ucap Abian tak terasa air matanya menetes tempat di bibir John Kurniawan.
Tiba-tiba jari telunjuk John Kurniawan bergerak. Membuat Mbak Sukarti terhenyak setelah beberapa hari tidak sadarkan diri, kini sepertinya John menunjukkan perkembangan yang sangat baik.
__ADS_1
"Mas lihat deh, sepertinya tangan adik ipar bergerak." ucap Mbak Sukarti memberitahu kepada suaminya. Abang Karim melihatnya dan ia pun tersenyum.
"Iya tangannya bergerak, Sepertinya dia sudah mulai sadarkan diri. John Kurniawan berusaha membuka kedua kelopak matanya tapi sepertinya itu susah ia lakukan.
"Ya Allah kuatkan hamba, agar hamba dapat melihat wajah tampan kedua Putra hamba dan Putri hamba yang cantik." gumam John Kurniawan dalam hati. Ia selalu berusaha, dan terus berusaha dan akhirnya kedua kelopak matanya pun terbuka. Ia menatap langit-langit yang ada di ruang rawat inap itu, dan melihat kedua putranya ada di sana. Netranya kembali menelisik seisi ruangan, seolah dirinya mencari seseorang. Tapi ia tidak melihat kehadiran yang ia harapkan di sana.
"Ayah sudah bangun?" tanya Abian yang tiba-tiba melihat John membuka kedua kelopak matanya. lalu keduanya Aska dan Abian langsung memeluk sang ayah.
"Akhirnya kamu sadar juga, Aku tidak menyangka kau selemah ini. Tapi syukurlah akhirnya kamu sadar dan kau masih bisa melihat terangnya bumi ini. Oh iya apa kamu tahu siapa yang membantu kamu saat kamu dalam situasi seperti ini?" tanya abang Karim yang masih tampak kesal terhadap Apa yang dilakukan John Kurniawan terhadap ketiga keponakannya dan juga Erlita.
John hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan sang kakak. Di mana istri muda mu? Mengapa mulai kamu dirawat di rumah sakit dia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya? pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Abang Karim kepada Joan Kurniawan, walaupun dirinya masih baru saja siuman.
"Mas jangan seperti itu, adik ipar baru sadar seharusnya mas memberikan hiburan terhadapnya." ucap Sukarti mengingatkan suaminya agar abang Karim tidak mengungkit masalah yang terjadi untuk saat ini.
Harus dia tahu, kalau perempuan murahan itu tidak akan Sudi merawatnya. Jika dia dalam kondisi seperti ini, wanita murahan itu ingin hidup bersamanya karena ia tahu John memiliki uang yang sedang ia jalankan di luar sana. Entahlah apa yang harus Mas lakukan terhadap lelaki pecundang seperti ini. sejujurnya Mas malu memiliki adik seperti dia." ucap Abang Karim yang masih tampak kesal
"Sudahlah mas, jangan seperti itu. Nanti kita bicarakan setelah kondisi adik ipar semakin membaik." ucap Mbak Sukarti.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
SAMBIL MENUNGGU KARYA INI UP, YUK MAMPIR KE KARYA BARU EMAK " PENGORBANANKU DI HARGAI DENGAN PENGKHIANATAN."