MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA

MENJANDAKAN ISTRI DEMI JANDA
BAB 41. KONDISI MEMBAIK _ MIDJ


__ADS_3

Tapi karena Yulianti dibawa pengaruh obat perangsang, membuat dirinya tidak merasakan apa yang dilakukan pria itu terhadapnya. Yang penting baginya Iya terlepas dari hawa panas yang ia rasakan saat itu. Sama halnya seperti dua wanita yang melayani pria itu juga. Tapi kedua wanita itu tidak terlalu parah seperti Yulianti. Hingga Yulianti pun terluka dan memar memar.


Keesokan paginya, Yulianti terbangun dari tidurnya sudah pukul sepuluh pagi. Sementara kedua wanita itu belum terbangun dari tidurnya, ada yang tidur di lantai ada yang tidur di tempat tidur bersama dengan pria itu.


Yulianti melirik jarum jam. Tubuhnya terasa remuk tak bisa ia gerakkan sama sekali. Ia berusaha bangkit dari pembaringannya. Berniat masuk ke dalam kamar mandi, ingin buang air kecil dan juga membersihkan diri.


Yulianti terhenyak melihat luka di sudut bibirnya dan juga lebam di bagian wajah hingga tubuhnya terasa sakit dan pegal keseluruhan. "Dasar pria hidung belang, tidak tahu diuntung habis babak belur aku dibuatnya. Aku rasa dia itu memiliki kelainan. buktinya pria itu mampu dilayani oleh tiga wanita sekaligus." gumamnya dalam hati.


Yulianti membersihkan dirinya di kamar mandi. Kini tubuhnya sudah tampak bersih dan segar tidak seperti tadi. Ia melihat pria itu sudah terbangun setelah dirinya membersihkan diri dan merapikan penampilannya.


"Kau memang sangat luar biasa. Pelayananmu memang patut diacungkan jempol. Aku tidak rugi membayar mu. Ini Aku tambahin uang bayarannya." ucap pria itu sembari memberikan uang 3 juta dari tambahan yang Iya janji kan sebelumnya kepada Yulianti.


Yulianti mengulas senyum. Walaupun tubuhnya terasa remuk, tapi sesuai lah dengan upah yang ia dapatkan. Satu malam mendapatkan delapan juta. Seumur-umur menjadi wanita malam, Yulianti Baru kali ini mendapat bayaran setinggi ini. Biasanya Yulianti hanya mendapatkan ratusan ribu tidak pernah jutaan. Membuat dirinya tersenyum bahagia walaupun mendapatkan siksaan dari pria itu. Yang penting baginya uang. Uang segalanya bagi Yulianti.


"Apakah aku sudah bisa pamit? pria itu menganggukkan kepalanya.


"Jangan lupa, jika aku membutuhkan pelayananmu kau harus siap melayaniku."ucap pria itu kepada Yulianti, dibalas anggukan dari Yulianti.


"Selagi bayarannya memuaskan seperti ini, aku akan selalu siap melayanimu sayang." ucap Yulianti sambil mendekati ke arah pria itu lalu memberikan kecupan hangat di bibir pria yang masih setia duduk di sofa.

__ADS_1


Pria itu mengembangkan senyumnya, menatap kepergian Yulianti setelah Yulianti berlalu dari kamar hotel itu. Sementara kedua wanita yang baru terbangun juga menatap kepergian Yulianti. "Mengapa kamu lebih bergairah mendapat pelayanan darinya, bukan dariku sayang?" tanya salah satu wanita itu kepada pria yang duduk di sofa."


"Jangan banyak tanya dan protes. Terima saja bayaran kamu. Cukup! dan pergi dari sini." ucap pria itu dengan lantang. lalu bangkit dan tempat duduknya dan memberikan uang sesuai dengan yang Ia janjikan sebelumnya kepada kedua wanita itu.


Setelah mendapatkan uang bayaran mereka, Kedua wanita itu pun langsung berlari keluar. "Sumpah gila itu cowok, Baru kali ini aku melihat cowok dilayani tiga wanita sekaligus. sudah itu mampu pula membuat kita mencapai ******* masing-masing. Tapi ya sudahlah, kalau kayak gitu lain kali aku tidak akan mau lagi melayani pria seperti itu." ucap salah satu wanita yang dibalas anggukan dari wanita yang lainnya.


Beberapa Minggu berlalu. Kini kondisi kesehatan John Kurniawan sudah semakin membaik. Hingga dokter pun memperbolehkan John Kurniawan kembali ke rumah. Tapi kaki kanannya memang sama sekali tidak bisa ia gerakkan dan tak berasa. Hingga John Kurniawan harus menelan pil pahit duduk di kursi roda ke mana saja dia pergi.


Abang Karim dan Mbak Sukarti mendorong kursi roda menghampiri ruang rawat inap John Kurniawan. Terlihat suster sudah melepaskan jarum infus dari punggung tangan Jhon. Kali ini Abian, Aska, dan Arini tidak dapat menjemput John di rumah sakit. Berhubung karena Abian dan Aska harus sekolah. Sementara Erlita sibuk mengurus warung sembako miliknya begitu juga menjaga Arini yang masih balita.


"Apa anak-anakku tidak datang menjemput kau Kak?


Setelah menyelesaikan seluruh administrasinya, Abang Karim dan Mbak Sukarti mendorong John di atas kursi roda. Tiba-tiba suara seseorang menarik atensi ketiganya. Abang Karim, mbak sukarti dan juga menoleh ke arah suara itu. Ternyata Gibran yang datang menghampiri mereka.


"Papa...., Om sudah bisa pulang? Aku kira masih ada di rumah sakit, kebetulan Hari ini aku tidak piket jadi aku bisa menjenguk Om ke sini." ucap Gibran


"Om kamu sudah diperbolehkan dokter pulang, ini kita mau pulang." sahut Abang Karim kepada Putra sulungnya yang bertugas sebagai seorang polisi.


"Ya udah, kebetulan Gibran membawa mobil. lebih baik kita naik mobil Gibran saja." ucap Gibran yang dibalas anggukan dari Mbak Sukarti yang tampak tersenyum melihat Putra sulungnya yang sudah berhasil menjadi seorang polisi.

__ADS_1


"Putra Mama yang tampan memang paling tahu apa yang kita butuhkan saat ini." Puji Mbak Sukarti sambil meraih tubuh putranya ke pelukannya. "Astaga ma, Gibran sudah gede loh. Masa dicium juga di depan orang banyak seperti ini. Gibran tidak anak kecil lagi ma, sudah menjadi seorang polisi." ucap Gibran yang mampu membuat Abang Karim, John Kurniawan dan Mbak Sukarti tertawa cengengesan mendengar Gibran merasa komplain dicium oleh mamanya sendiri di depan orang banyak.


"Tidak apa-apa dong sayang, kamu ini Putra Mama, tidak mungkin mereka menganggap Mama sebagai tante-tante girang." sahut Mbak Sukarti membuat Gibran pun kembali langsung tertawa. Mereka pun berlalu meninggalkan Rumah Sakit menuju parkiran mobil di mana Gibran memarkirkan mobilnya.


Setelah memastikan mereka sudah masuk dan duduk dengan nyaman,barulah Gibran melajukan mobil miliknya ke arah jalan raya menuju rumah yang selama ini ditempati oleh kedua orang tuanya. Di sepanjang perjalanan Gibran bertanya kepada mbak Sukarti, Abang Karim dan juga John Kurniawan tentang Abian, Aska dan Arini Begitu juga dengan Erlita.


"Tidak apa-apa Om kamu tinggal di rumah kita. Tidak mungkin juga Om kamu tinggal di rumah adik sepupumu, karena di sana ada Erlita. Dan mereka saat ini bukan muhrim lagi." ucap Abang Karim yang dibalas anggukan dari Gibran.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit menelusuri jalanan ibukota yang lumayan macet, akhirnya mobil yang dikendarai Gibran pun tiba di rumah yang ditempati oleh Abang Karim dan mbak sukarti selama ini, di mana Gibran juga dibesarkan di sana.


Gibran turun lebih dulu, lalu membuka pintu mobil untuk penumpang. Kemudian mengeluarkan kursi roda, agar John Kurniawan dapat duduk di sana dan didorong masuk ke dalam rumah.


John tampak murung. Tak ada seorangpun yang menyambut kedatangannya. Ketiga anaknya juga tidak ada di sana. Tapi karena abang Karim mengatakan kalau Abian dan Aska masih berada di sekolah, hatinya pun menjadi sedikit tenang.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2