
Keesokan harinya Abang Karim menghampiri John Kurniawan yang berada di dalam kamarnya. Ia melihat John Kurniawan masih setia di atas kursi rodanya. Tapi sepertinya John hari ini sudah tampak bersih. Padahal Abang Karim datang menghampirinya untuk membantu John membersihkan diri.
"Loh John, kamu sudah mandi? tanya abang Karim penuh selidik.
"Bagaimana mungkin aku bisa mandi sendiri kak, kakiku saja tidak bisa aku gerakkan, Aku hanya mencuci muka di wastafel."
"Ooh." ucap Abang Karim.
"Ya sudah kalau begitu kau harus mandi sekarang."
Abang Karim membantu John Kurniawan masuk ke dalam kamar mandi.
Setiap harinya Abang Karim lah yang setia membantu John Kurniawan saat dirinya membutuhkan bantuan. Tidak mungkin juga mbak Sukarti yang membantunya. Kalau untuk membersihkan dir,i otomatis hanya Abang Karim lah yang melakukannya.
Setelah John selesai melakukan ritual mandinya. Abang Karim teringat Kalau hari ini jadwal John harus terapi.
"Oh iya Sepertinya kita harus pergi ke Rumah Sakit untuk kontrol sekaligus terapi. Siapa tahu dengan rutin terapi, kamu kaki kamu akan dapat pulih kembali."ujar Abang Karim.
Yang dibalas anggukan dari John. Ia hanya pasrah Bagaimana hidupnya kelak. John teringat kepada ketiga anaknya. Ia meraih ponsel yang ia letak di atas nakas mencoba menghubungi nomor ponsel Erlita.
Kring .....
Kring ....
Kring ....
Suara deringan ponsel milik Erlita terdengar jelas di telinganya. Erlita yang sedang asyik melayani para pembeli di warung sembako miliknya mengindahkan panggilan itu dan memilih melayani para pembeli.
Beberapa kali John Kurniawan menghubungi nomor ponsel Erlita, dan akhirnya pun Erlita mengangkat sambungan telepon seluler, lalu langsung memberikannya kepada Abian.
Ia tidak ingin berbicara dengan lelaki yang sudah sangat menyakiti hatinya. Bukan karena lelaki itu sudah lumpuh, atau bagaimana. Tapi rasa sakit hati Erlita cukup dalam, yang ditorehkan oleh John Kurniawan sebelumnya.
__ADS_1
"Abian ini sepertinya Ayah kamu ingin berbicara dengan kalian."ucap Erlita memberikan ponselnya kepada Abian yang duduk sambil menikmati siaran televisi yang tayang di salah satu televisi swasta.
Abian bangkit berdiri, lalu meraih ponsel itu dari tangan sang ibu. "Halo Assalamualaikum ayah." Sapa Abian di dalam sambungan telepon selulernya.
John Kurniawan tak hanya mendengar suara Abian yang ia dengar bukan suara Erlita.
"Bagaimana kabar kalian, apa kalian baik-baik saja?" tanya John penuh selidik.
"Alhamdulillah, kabar kami sehat Ayah. Bagaimana dengan kondisi kesehatan Ayah, apa semakin membaik?
"Masih seperti yang kamu lihat sebelumnya. Tapi hari ini. Ayah dan Paman kamu akan pergi ke rumah sakit untuk kontrol sekaligus terapi. Doakan saja ya Nak, mudah-mudahan Ayah dapat pulih kembali ." mohon John kepada putranya.
"Abian pasti akan selalu mendoakan Ayah supaya ayah dapat pulih kembali."sahut Abian.
"Di mana adik kamu Aska dan Arini?
"Arini saat ini sedang tidur ayah, tapi kalau Aska bermain di teras rumah."
"Ibu ada di warung kebetulan warung ramai, jadi ibu sedang sibuk."sahut Abian.
Kedua pria berbeda generasi itu saling berbicara dari hati ke hati di dalam sambungan telepon seluler. Abian juga berjanji kepada ayahnya untuk sering-sering datang menjenguknya di rumah abang Karim.
John bernapas lega ternyata putranya Abian tidak menyimpan dendam kepadanya selama ini. Setelah selesai berbicara di dalam sambungan telepon seluler, John memutuskan sambungan telepon selulernya lalu ia menghampiri Abang Karim yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Ayo kak." ujar Jhon sambil berusaha menjalankan kursi rodanya sendiri. Abang Karim bangkit dari tempat duduknya dan membantu Jhon masuk kedalam mobil Milik putranya Gibran.
Sementara di tempat lain. Yulianti tertawa ngakak bersama kedua teman yang satu profesi dengannya.
"Kamu serius dapat bayaran segitu?"
"Iya,"mana mungkin aku berbohong. Tapi apa kamu tahu apa yang harus aku korbankan demi mendapatkan uang sebesar itu?"ucap Yulianti kepada Yuyun yang belum mengetahui hal yang sebenarnya.
__ADS_1
Alina mengembangkan senyumnya, lalu menatap Yulianti dengan tatapan tanya. setelah Yuyun berpamitan untuk pergi ke kamar mandi, Alina melontarkan pertanyaan kepada Yuliati.
"Jadi kamu sudah mengetahui kalau pria itu memang memiliki kelainan? tanya Yulianti kepada Alina.
Alina menganggukkan kepala.
"Apa kamu tahu mengapa aku meninggalkannya dan tidak mau melayaninya lagi? itulah jawaban yang aku punya.
Seperti yang kamu rasakan, saat pria itu kita layani, Kita babak belur lebih dulu baru birahinya naik dan merasa puas."
"Jika aku belum memiliki tamu yang lain, mungkin aku masih tetap bertahan walaupun mendapatkan kekerasan fisik sebelum melayaninya di atas ranjang.
Syukurlah Aku sekarang sudah menemukan seorang pria muda, baik, dan juga kaya. Semua keinginanku bisa terpenuhi. Aku tak peduli. Dia sudah memiliki istri atau tidak yang pasti aku masih menikmati hubunganku dengannya." ucap Alina kepada Yulianti.
"Yulianti hanya terdiam. Ia sama sekali tidak menjawab.
"Ternyata Alina lebih dulu merasakan seperti yang aku rasakan." gumam Yulianti dalam hati. Hingga akhirnya Yuyun pun kembali datang menghampiri mereka. Membuat kedua wanita itu langsung terdiam dan tidak melajukan pembicaraan mereka lagi.
Tiba tiba Seorang pria bertubuh tinggi, tegap dan besar datang menghampiri ketiganya. "Ngapain saja kalian di sini tertawa ngakak? tanya pria yang merupakan pemilik Cafe remang remang tempat mereka selama ini bekerja.
"Biasalah bos, bahas apa lagi kalau bukan bahas tamu." sahut Yulianti yang dibalas anggukan dari kedua temannya.
"Ayo semuanya, nanti berikan pelayanan yang terbaik untuk para tamu yang datang ke cafe kita. ingat, usahakan pengeluaran tamu di cafe kita banyak banyak." ucap sang bos kepada ketiga wanita itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1