Merawat Tuan Arrogan

Merawat Tuan Arrogan
Mengantar Ke Sekolah


__ADS_3

10 tahun kemudian.


Viona bersama dua orang pelayan membantu Viona sedang menyiapkan sarapan di meja, walau dalam keadaan perut Viona yang hamil 8 bulan calon anak yang ketiga nampak gesit gerakan menata makanan di meja itu.


Langkah Enzio dari tangga menatap sang istri dibawah ruang meja makan sambil tersenyum. Viona yang serius menata meja menyadari dengan tatapan Enzio, hingga dua kali wajah nya mendongak yang pertama di lihat nya Enzio sudah rapih dengan pakaian kantor nya, yang kedua Viona mendongak kembali sang suami terus menatap nya.


" Suami ku, ayo sarapan! kenapa malah menatap ku?"


Masih dengan senyum manis nya, Enzio menuruni tangga lalu mendekati Viona menjawab.


" Kau terlihat begitu Sexy sayang.."


" Apa nya yang Sexy sih..wanita sedang hamil besar seperti ku?"


Enzio memeluk Viona dari belakang hingga menghentikan kedua tangan nya menyiapkan hidangan makanan.


" Di mata ku kau hamil besar, sangat Sexy, bokong mu ini." Enzio meremas pelan bokong Viona.


" Juga dada mu.."


Enzio ingin meremas kedua dada Viona dari belakang namun buru buru Viona mencegah nya.


" Suami ku, ini kita lagi di meja makan..!"


Tak lama putra Enzio yang pertama pun muncul, tangan Enzio yang memeluk Viona dari belakang di lepas nya.


" Morning Mom, Dad..!"


Putra pertama Enzio dan Viona nampak rapih dan segar mulai dari rambut sampai sepatu, dengan buku tebal di tangan nya, leonald menyapa kedua orang tuanya gaya nya yang dingin dan persis seperti Ayahnya sangat elegan duduk ingin sarapan.


" Morning son." Balas Enzio.


Viona tersenyum gesture leonald dan Enzio, tidak berbeda, irit senyum. lain dengan putra kedua nya, Sergio, gaya nya yang santai dan tenang namun selalu tersenyum pada siapa pun. Sergio muncul setelah leonald.


" Morning Mom Dad!"

__ADS_1


" Morning!" Balas Viona.


Leonald tangan nya membelai perut ibunya, saat berdiri di sisi meja tepat ditengah kedua putranya.


" Apa kabar adik ku?" tanya Leonald.


Tak kalah dengan Kakak nya, Sergio pun rasanya tidak sabar menanti kelahiran adik perempuan.


" Rasa aku sudah tidak sabar menant adik ku lahir."


" Sabarlah kalian berdua, perhitungan masih dua Minggu lagi." Ucap Enzio.


" Kalian bertiga ayo sarapan!" Ajak Viona.


" Sergio."


" Heum."


" Papa dengar kau sering menggangu Tania, Ayah Tania mengadu pada ku, apa itu benar?"


" Yeah benar..sudah dua kali dia menangis karena ku, karena aku gemas padanya."


Leonald yang tak banyak bicara hanya fokus pada sarapan nya, tidak peduli.


" Yeah baiklah, aku memang suka menganggu nya, karena dia memiliki mata dan rambut nya sangat indah."


" Ya sudah habiskan sarapan kalian berdua, Ayah akan mengantar kalian."


Sampai di sebuah sekolah ternama yang kebanyakan murid murid nya berasal anak anak orang kaya, mobil Enzio sudah sampai, Supir dengan sigap membuka pintu untuk Tuannya lalu pintu belakang untuk kedua putra Enzio.


" Baik baiklah di sekolah, Sergio..ingat ucapan Papa jangan suka menggangu teman mu!"


" Daddy dialah Sergio yang sering menggangu ku."


" Euh?"

__ADS_1


Tiba tiba suara anak perempuan menyebut nama putranya membuat Enzio menoleh kearah suara anak perempuan itu.


" Nick."


" Zio."


Nikholas baru sampai mengantar kedua putrinya, Nikholas berjalan menghampiri Enzio sambil menggandeng tangan Tania. Enzio pun baru melihat putri ketiga Nikholas yang cantik mempunyai mata dan rambut yang indah benar apa yang Sergio ucapkan putranya pantas saja anak itu suka mengganggu nya.


" Baru kali ini kita bertemu sama sama mengantar anak anak sekolah."


" Bagaimana bisnis mu, lancar?"


Selamat masih dalam kendaliku segala nya baik baik saja, kapan kita bekerjasama lagi Zio?"


" Baik lah, sudah lama juga kan, karena buat ku kau masih aku percayakan."


" Jangan sentuh rambut ku!"


Suara Tania nampak kesal terdengar hingga kedua Ayah ini pun kemudian beralih perhatian pada putra dan putri nya masing masing, Tania sedang menjulurkan lidahnya pada Sergio sedang kan Sergio berusaha tangan nya ingin menyentuh rambut Tania.


" Sergio." Panggilnya Enzio yang matanya melihat keisengan putranya.


" Kau Ayah nya Sergio, bilang padanya berhenti menggangu ku!"


Membuat Nikholas ingin tertawa, baru ini temannya di tegur oleh anak yang tak lain putri nya sendiri, terkesan sangat berani.


" Ayah ayo! antar aku, aku muak pada Sergio."


" Yeah baiklah!"


" Sergio please, don't disturb her ok!"


" Salah nya, kenapa dia mempunyai mata dan rambut yang indah?"


Enzio sudah kehabisan kata, ia hanya menggeleng kepala saja, tapi ia pun ingin tertawa melihat tingkah anak anak yang polos.

__ADS_1


" Ayo masuklah nanti kau terlambat!"


" Ok, Dad!"


__ADS_2