Merawat Tuan Arrogan

Merawat Tuan Arrogan
Kehamilan Caroline


__ADS_3

Waktu berlalu dan terus berganti bulan.


Suasana pagi hari di kediaman Enzio, Enzio terbangun masih di ranjang tempat tidur itu ia menunggu sang istri yang akan melayaninya. Viona sudah lebih dulu bangun ia sudah sibuk membuat sarapan untuk suaminya.


Setelah menyediakan sarapan untuk mereka berdua di meja Viona kembali ke kamar. Ia akan menyiapkan kemeja jas dan dasi yang dipilihnya untuk Enzio.


" Suami ku." tangannya sambil memilih milih kemeja.


" Iya sayang."


" Aku sudah menyiapkan sarapan."


Enzio kemudian bangun dan beranjak dari tempat tidur tubuh telanjangnya langsung memeluk pinggang Viona dari belakang.


puluhan macam macam model dan warna jas juga kemeja Enzio tergantung sangat rapih, Viona sudah hapal untuk dipadu pandan kan dengan celana beserta warna corak dasi Enzio.


Viona matanya sibuk memilih milih kemeja warna apa yang akan di pakai suami nya untuk ke kantor pagi ini.


" Sayang."


" Heum..? balas Viona.


" Nanti siang ke kantor ku ya!"


" Iya suami ku."


" Lihat aku dulu!"


Viona lalu membalikkan tubuhnya menghadap Enzio dengan kemeja yang sudah pilihnya di tangan.


" Ada apa?"


" Kau temani aku nanti siang di kantor."

__ADS_1


" Iya suami ku, aku akan ke kantor mu."


" Kau ikut pertemuan dengan klien ku.'


" Hah? suami ku untuk apa?" Viona mengernyitkan dahi nya.


" Kita akan makan siang di restoran bersama klien ku."


" Suami ku kan sudah ada Erick, aku gak ngerti dengan yang kalian bicarakan di sana nanti."


" Tidak sayang kau harus ikut karena klien ku juga bersama istrinya."


Viona menimbang nimbang dengan ajakan Enzio.


" Ya sudah aku temani."


" Aku mandi dulu."


Nicholas dan Caroline masih terus bertemu, perut Caroline sudah semakin membesar, Nicholas mengunjungi Caroline tak hanya bicara saja. Nicholas dan Caroline sudah beberapakali melakukan penyatuan mereka di dalam sel penjara. Nicholas masih saja meminta kebutuhan nya dengan Caroline. Nicholas tersenyum saat ia mengunjungi Caroline melihat perut Caroline yang sudah semakin membesar.


Hamil besar membuat Caroline sering membuang air kecil, Caroline yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Nicholas sudah masuk dan kini sedang duduk di tepi ranjang tidur.


" Nick kau sudah datang?" sambil melangkah tangan diperutnya.


Nicholas masih menatap wajah Caroline yang menghampirinya, Caroline terlihat makin cantik bersih wajahnya dengan kehamilan nya tubuh Caroline berubah kedua dada nya semakin montok semakin berisi dan menambah seksi. Caroline nampak beda di mata Nicholas kini sangat ke ibuan terlihat sederhana dan jauh dari keglamorannya. Deru nafas Caroline terdengar lelah di telinga Nicholas, seperti membawa beban berat.


" Kau capek ya?" wajah nya mendongak ke arah Caroline.


Caroline tersenyum. Tubuhnya memang cepat lelah Karena kehamilannya.


" Iya Nick, aku tak dapat tidur nyaman dengan perut ku yang besar ini."


Nicholas langsung tersenyum melihat perut besar Caroline. Ia memegang kedua tangan Caroline yang berdiri di hadapannya. lalu wajah nya di tempelkan ke perut Caroline, tangannya melepas dari genggaman Caroline berpindah mengusap usap perut Caroline sambil mengecupi perut besar Caroline.

__ADS_1


" Aku menanti nantikan kelahiran anak kita Caroline.."


" Ya..aku pun sama, dokter bilang usia kandungan ku sudah masuk hampir 8 bulan Nick."


" Sabarlah!..aku akan mengurus pernikahan kita, semoga Enzio dia bisa bijaksana dengan keputusannya. Agar hukuman mu lebih ringan."


" O' iya apa kabar nya dengan Enzio, Nick?"


" Dia sudah menikah dengan Viona, Carol."


" Kapan?"


" Sudah lama..aku sengaja tidak memberitahukan mu."


" Kenapa memangnya, Nick?"


" Heumm..maksud aku biar kau lebih memikirkan kandungan mu..tidak usah di ingat ingat lagi tentang dia."


Caroline mengangguk, ia terdiam termenung mengingat ingat kejadian dulu yang akhirnya membawa diri nya mendekam di penjara ada penyesalan pada dirinya.


Nicholas merasa Caroline mendiamkannya nampak murung di wajah Caroline, Nicholas mengernyitkan dahi nya.


" Kenapa Carol..kau malah murung?"


" Aku merasa menyesal saja, Nick?"


" Itu lah..penyesalan datang nya belakangan, Carol.. kalau datangnya di awal namanya pendaftaran." Canda Nicholas.


" Au..ahh." balas Caroline


Nicholas tertawa kini di suruh nya Caroline duduk di samping nya. Tangan nya mendekap erat tubuh Caroline.


__ADS_1


__ADS_2