
Setelah kepulangan Nicholas, Enzio langsung menuju kamar pribadi di ruangan kantornya membersihkan kan tubuh dan mengganti kemeja nya.
" Awas kau Nick..akan aku balas dengan anak ku nantinya."
,
,
,
,
,
,
,
Sore itu Enzio sudah tiba di mansion nya, ia melangkah masuk sampai di dalam ia mencari Viona karena biasanya Viona sudah menyambutnya. Namun yang menghampiri Enzio adalah seorang pelayan rumah.
" Selamat sore Tuan."
" Hem..di mana Nyonya Viona ?"
" Nyonya sedang di kamar Tuan, dari siang tadi Nyonya hanya di kamar saja."
Enzio mengernyitkan dahi nya.
" Apa Nyonya sedang tidak enak badan?"
" Saya kurang tahu Tuan, tapi tadi Nyonya meminta saya mengantar makan siangnya di kamar, Nyonya hanya ingin makan siang di kamar saja."
" Baik terimakasih." Enzio mengangguk sembari memberikan tas kantor nya pada pelayan.
Enzio bergegas menemui istrinya di kamar, sampai di kamar matanya melihat Viona sedang tertidur dengan selimut tebal menutupi sampai dadanya. Enzio kemudian mendekati ranjang tidur itu ia berdiri menatapi wajah Viona yang sedang terpejam.
__ADS_1
" Sayang.."
Viona belum membuka matanya, Enzio kemudian duduk di tepi ranjang tidur masih menatap wajah Viona namun Viona terlihat agak pucat.
" Sayang..." tangan nya menyentuh bahu Viona dan mengguncang bahu Viona pelan.
" Sayang..aku sudah pulang."
Viona pun membuka matanya karena suara Enzio yang sudah di depan wajah nya.
" Euh..suami ku kau sudah pulang." ucap nya pelan.
" Ada apa dengan mu? pelayan katakan kau tidak keluar kamar dari tadi siang, apa kau sedang tidak enak badan?"
Viona menggangguk lemah.
" Kepala ku pusing dan rasanya tubuh ku sangat lemas."
" Kau sudah makan siang mu?"
" Kau ingin aku membawa mu ke dokter?"
" Tidak perlu..aku sudah biasa gejala seperti ini."
" Tapi kau terlihat sangat lesu dan agak pucat. aku mengkhawatirkan mu, sayang."
" Suami ku kau lupa aku mantan perawat, aku bisa mengatasi sendiri." ucapnya sambil tersenyum.
Viona kemudian bangun dan duduk berhadapan dengan Enzio. Enzio lalu memberi kecupan di pipi Viona.
" Kau ingin mandi?"
" Setelah ini."
" Jangan mandi dulu."
__ADS_1
" Kenapa?"
" Aku ingin menciumi keringat di tubuh mu."
" Euh...?" Enzio tersenyum.
Viona kemudian menarik tangan Enzio mengajak Enzio terbaring di sebelah nya dengan kemeja dan jas yang masih melekat di tubuh Enzio.
Setelah terbaring Viona memeluk tubuh Enzio di hirup nya dalam dalam harum maskulin bercampur keringat di tubuh suaminya sehabis seharian bekerja. Entah kenapa di penciumannya membuat diri senang dan terasa nyaman.
Pagi hari nya Viona masih merasakan tidak nyaman pada tubuhnya namun ia memaksakan dirinya ingin beranjak dari tempat tidur untuk membuat sarapan selagi Enzio masih tertidur. Nampak tubuh telanjang Enzio yang tertutup dengan selimut tangan kekar dan berbulu itu masih melingkar di pinggang Viona. Viona perlahan lahan melepas tangan kiri Enzio.
Setelah membuat sarapan, Viona ingin membangunkan suaminya ternyata Enzio sudah bangun dan sudah mandi dengan handuk masih melilit di pinggang nya. Kemudian Viona menghampiri Enzio yang sedang berdiri berdiri di depan cermin besar sambil memegang alat cukur kumis.
" Sayang kau sudah enakan?"
" Sudah..hanya masih sedikit mual, biar aku yang cukur." mata nya melihat mulut dan rahang Enzio.
" Hmm.." Enzio mengangguk sambil tersenyum.
Viona memegang alat cukur itu Enzio sambil mengangkat tubuh Viona duduk di atas meja washtafel yang panjang nya sama dengan ukuran cermin, Viona duduk membelakangi cermin. Tangan Viona mulai membubuhkan foam pada mulut dagu sampai pipi dan rahang Enzio. Kedua tangan Enzio melingkar di pinggang Viona. Mata Enzio masih terus menatap wajah Viona yang mencukur kumis Enzio.
" Semalam kau menciumi leherku terasa sangat geli kulit leherku dengan bulu bulu di kumis mu ini."
" Hmm.." Enzio mengangguk.
" Selesai.."
Viona melap bagian seluruh pipi dagu dan rahang selesai mencukur kumis Enzio.
" Kau terlihat sangat rapih penampilan mu nanti di kantor."
" Terimakasih sayang."
__ADS_1