
Selesai mengelap tubuh pasien Enzio, Enzio merasa segar pada tubuh nya. Viona sudah memakai kan baju pasien kembali.
" Tuan sekarang sikat gigi." Viona tangan nya sambil menyodorkan sikat gigi yang sudah dilapisi pasta gigi juga segelas untuk berkumur.
Enzio mengangguk sambil menerima gelas dan sikat gigi itu, Enzio mulai menyikat gigi nya. Sementara Viona menyiapkan sarapan untuk Enzio.
Terakhir Enzio berkumur dengan air mint itu. Viona mengarahkan baskom kecil untuk membuang kumuran Enzio. Lalu tangan Viona mengelap mulut Enzio.
" Tuan sekarang sarapan ya!"
Enzio mengangguk.
Viona menyuapi makan ke mulut Enzio sangat hati hati, Enzio hanya sarapan sedikit ia belum mendapatkan nafsu makan nya dengan baik lidah nya masih terasa pahit.
" Apa lidah Tuan masih terasa pahit?"
Enzio mengangguk, Viona tahu demam dari operasi itu masih belum stabil. Masih menunggu beberapa hari.
" Tuan mau makan buah? biar saya kupas."
Enzio mengangguk.
Viona mengupas apel itu dan dipotong potong kemudian di suapi kemulut Enzio, Enzio mengunyah apel itu.Viona pun juga sudah memberikan obat pada Enzio.
" Tuan sekarang istirahat, saya harus mengerjakan tugas untuk mengontrol pada pasien yang lain."
Enzio mengangguk.
__ADS_1
Viona sebelum meninggalkan ruangan Enzio, Viona menyelimuti Enzio. Enzio tidak menatap Viona hanya saat Viona melangkah keluar, mata nya menatap punggung Viona.
Hingga siang hari seorang perawat masuk, Enzio melihat pintu kamar yang terbuka seorang perawat lain bukan Viona. Enzio bertanya tanya? perawat itu bertubuh gempal sudah berusia 45 tahun, namun seperti laki laki.
" Kemana perawat Viona? kenapa bukan dia?"
Perawat itu itu menjawab dengan suara agak besar.
" Suster Viona pulang, Tuan. dia tugas malam saya yang mengganti nya."
Enzio menatap lurus, terlihat dia tidak suka bukan Viona yang datang.
" Tuan makan siang dulu."
Perawat itu mengecek botol infusan yang sudah hampir habis lalu di ganti dengan botol baru. Ia mengecek data data
pasien.dengan status operasi karena kecelakaan kemudian ia memeriksa bekas jahitan dan mengganti plaster dan kain kassa dengan yang baru sebelum nya perawat itu membersihkan luka itu dan di tutup kembali.
Perawat itu meninggalkan ruangan pasien. Rupanya Enzio sedang memikirkan bagaimana supaya Viona saja yang menjaga dan merawat dirinya selama 24 jam. Enzio merasa mulai merasa nyaman dengan Viona hanya saja sikap arogansi nya tetap dipertahankan ia ingin memaki Viona bila perawat datang.
Hingga malam hari pukul 11 malam Enzio mengigau dalam tidur ia bermimpi, Enzio dalam mimpinya melihat sang istri sedang bergelut panas pada sahabat nya. Sangat menyakitkan.
Tepat saat itu Viona ingin memeriksa keadaan pasien Enzio, Viona mendapat tugas jaga malam. Viona masuk terlihat Enzio terpejam ia memeriksa infusan Enzio lagi lagi selang infusan terlipat membuat tangan Enzio kembali membengkak. Viona buru buru membenarkan selang infusan itu dan mengatur tetesan air infusan. Viona juga melihat Enzio belum makan malam nya, terlihat masih utuh. Viona baru jam 11 mengontrol pasien Enzio karena rumah sakit sedang penuh hingga ia menunda untuk mengontrol pasien Enzio.
" Kenapa selalu terlipat selang infusan mungkin saat sedang tertidur Enzio tidak sadar pergerakan tangan nya menarik selang infusan." ucap Viona dalam hati.
Viona lalu menatap Enzio seperti gelisah dalam tidurnya namun Enzio sedang terpejam ia bergumam pelan tidak jelas apa yang dikatakan ia mengulum mulutnya. Viona. mendekati Enzio nampak berkeringat di kening dan leher nya. Viona menyentuh keningnya tiba tiba saja.
__ADS_1
" JANGAN SENTUH! KAU MEMANG PELACUR" ucap Enzio kencang, dan sambil memegang pergelangan Viona, Enzio sudah membuka matanya menatap nyalang pada Viona.
Dada Viona terhenyak mendengar ucapan Enzio namun Viona sadar, Enzio mengalami mimpi buruk.
" Eum..Tu-tuan mimpi buruk rupanya." Viona terlihat gugup.
Enzio kemudian sadar dan melepas pergelangan Viona, ia kemudian menatap lurus.
" Kenapa baru datang?"
" Eum..maaf Tuan pasien sangat penuh hari in-"
" KAU MEMANG PERAWAT TIDAK BECUS, VIONA, KAU DUNGU."
" Tu- tuan..maaf saya harus mengontrol pasien yang lain du- dulu...akkhh..Tu-tuan sakit."
" Aku tidak butuh alasan VIONAAA." Enzio mencengkeram tangan Viona sangat kencang hingga jari jari lentik Viona Enzio seperti meremuk kertas saja.
" Tu-tuan sakit mohon lepaskan!"Viona terisak. Ia merasa tulang jari jari nya akan remuk.
" Kau ingin membiarkan aku mati, VIONAA." Enzio masih menggenggam jari jari Viona."
" Ma- maaf..kalau begitu Tu-tuan." ucapnya sambil meringis kesakitan.
Enzio semakin mengencangkan genggaman tangan Viona.
" Akww..Tu- tuan ampun lepaskan..aku mohon." airnya Viona sudah meluncur deras di pipi.
__ADS_1
" Harus nya kau dahulukan aku, Viona..MENGERTI!"
" I- ya Tuan..lepaskan aku Mohon!"