
Tidak Sampai 24 jam polisi sudah menangkap pelaku penabrak Viona. Dan Enzio sudah mengantongi informasi yang dia terima dari Erick, siapa dalang dibalik penabrak Viona.
" Ok Rick, Terimakasih."
Setelah terima telpon dari Erick, wajah Enzio berubah terlihat sangat menyeramkan.
" Kau rupanya ingin bermain main dengan ku." ucap Enzio pelan.
Enzio sebelum masuk ke kamar inap Viona, tangannya memasukkan ponselnya kedalam kantong. Sampai di depan pintu wajahnya ia rubah dari menyeramkan menjadi lembut kembali ia tidak mau Viona melihat wajah dinginnya.
Enzio buka pintu kamar ia melihat Viona masih sangat lemah tubuhnya, Viona matanya langsung tertuju pada Enzio yang menatap Viona sambil tersenyum. Enzio melangkah mendekat dan berdiri di sisi ranjang Viona. Lalu punggung tangannya mengelus pipi Viona. Enzio kemudian duduk di sisi ranjang tangan Viona di genggam nya.
" Sayang bagaimana keadaan mu?"
" Masih sedikit pusing?" ucapnya lemah.
" Kau akan cepat sembuh, aku di sini akan menemani mu."
Viona tersenyum lemah senang mendengar nya.
TOK TOK
Pintu kamar Viona di ketuk oleh Zuster Mia, ia membawa makanan sarapan untuk Viona, sahabatnya itu langsung tersenyum melihat Viona bersama calon suaminya.
" Selamat pagi, Tuan Enzio." sapa Mia.
Enzio hanya mengangguk, Mia meletakkan sarapan pagi Viona di meja nakas.
" Viona kau sarapan dulu ya!"
" Iya Mia terimakasih."
__ADS_1
" Kau ingin sarapan di suapi oleh ku..atau di suapi oleh calon mu, heum?" Mia tersenyum menggoda Viona.
Viona ingin tertawa lebar namun masih lemah.
" Biar saya saja yang suapi Viona, Zuster Mia."
" Terimakasih Tuan Enzio."
Mia berlalu dan keluar dari kamar inap Viona. Enzio membuka plastik wrab penutup makanan tangan nya mulai menyendok makanan dan akan menyuapi Viona.
" Sekarang giliran aku yang menyuapi mu makan."
" Iya Zio.." ucap nya lembut.
Enzio mulai menyuapi Viona, ia ingin membalas yang pernah dulu Viona lakukan tugas nya merawat dirinya. Enzio sangat senang menyuapi Viona makan. Viona tidak sanggup menghabisi sarapannya.
" Sudah Zio, aku sudah kenyang."
Enzio masih menemani Viona dikamar, sambil menunggu kabar dari Erick, Enzio terus menatap Viona ia sangat tidak tega melihat calonnya yang terbaring lemah. Viona akhirnya memejamkan mata dan tertidur kembali. Enzio membiarkan Viona beristirahat.
" Tidurlah sayang." bibirnya mengecup kening Viona.
Setelah Viona tertidur Enzio menyelimuti Viona, selagi Viona istirahat ia akan keluar bersama Erick untuk bertemu dengan pelaku penabrak Viona dan juga dalangnya.
,
,
,
,
__ADS_1
,
,
" Apa salah Viona? Caroline..JAWAB!"
Enzio membentak dengan tatapan nyalang pada Caroline.
" Karena ja***g mu yang telah mengubah mu menjadi benci pada ku, Zio."
" Kau salah Carol..kau yang mengubah ku membenci diri mu."
" Hem..rupanya calon mu itu masih hidup? ahh..sayang sekali! aku berharap dia mati, Zio." sambil menyunggingkan senyum.
Enzio semakin geram mendengar nya, ia akan habisi mantannya ini.
" Bagaimana kalau kau yang mati..kau siap?"
Enzio langsung memerintahkan orang suruhannya.
" Ku**r dia hidup hidup." Titah Enzio.
" Hahhhhaha...Zio, kau ingin membuat ku mati? bukan aku saja yang mati..tapi kau akan membunuh janin dalam kandungan ku adalah anak sahabat mu..Nicholas, hahahaha."
Deg
,
,
,
__ADS_1
Enzio yang sudah memerintahkan titahnya, ia akan berlalu pergi namun berhenti dengan ucapan Caroline, ia langsung berubah haluan niatnya. Caroline telah mengandung anak dari sahabat kentalnya. Bagaimana pun ia tidak mau membunuh janin yang tidak berdosa.