
Masih di dalam club' Enzio mabuk, ia sudah terlalu banyak meneguk minuman beralkohol itu, sedangkan Nicholas sendiri belum terlalu mabuk ia masih sadar. Membuat Nicholas harus menjaga sahabat nya itu yang sudah kesulitan untuk berdiri tegak langkah nya gontai dan oleng ke kiri dan ke kanan. Enzio sebelumnya tidak pernah minum sampai mabuk selama Nicholas berteman dengan Enzio, sahabat nya itu terus meracau. Enzio seperti sedang mengungkapkan segala hatinya, ucapan orang mabuk biasanya bicara nya jujur.
" Vionaa..Vionah please! come back aku mencintai mu..maafkan aku sayang." racau Enzio.
Nicholas kembali tertawa pada sahabat nya mendengar Enzio meracau, ia tak menyangka Enzio sedalam itu mencintai pada mantan perawat nya. Nicholas akhirnya mengajak Enzio pulang ia memapah tubuh sahabat nya, penampilan Enzio sangat kacau dasi yang di kenakan sudah miring rambut acak acakan kemeja nya sudah setengah keluar.
Nicholas memapah tubuh Enzio tak pernah berhenti tertawa, sahabatnya rupanya kalau sudah mabuk sangat lucu.
" Kau mabuk atau kalah judi, Zio lihat! penampilan sudah sangat kacau."
" Euhh? kau Nick teman keparat...kau setan Nick." racau Enzio sambil telunjuknya di arahkan ke dada Nicholas.
" Ok..kau pulang saja, Zio..jangan sampai kau muntah di sini."
Nicholas mengantar Enzio sampai di mobil, supir Tuan nya segara membantu sahabat Tuannya itu dan segera membawa Tuannya pulang.😍
Di kediaman keluarga Alexander, Viona sedang berkemas pakaian dan perlengkapannya kedalam tas karena esok hari Viona sudah selesai tugas nya merawat Tuan Alexander dan kembali kerumah sakit. Devan sudah kembali dari kantor rencananya hari ia ingin mengajak Viona berkencan sekaligus ingin mengungkapkan perasaan nya pada Viona.
TOk TOK
Viona yang sedang berkemas segera membukakan pintu rupanya Devan yang menemuinya.
__ADS_1
" Devan..masuklah!"
Devan kemudian masuk namun hanya sampai dekat pintu saja mata nya melihat tas koper Viona.
" Kau sedang berkemas?"
" Iya Devan..aku hanya persiapkan saja."
Devan pun mengangguk.
" O iya ini gaun..kau pakai nanti ya!"
Devan tangan nya memberikan tas paperbag berlogo Bal**n***ga.
" Eumm..kenapa harus membelikan gaun untuk ku Devan?"
" Tidak apa apa..aku rasa pakaian wanita ini cocok di tubuh mu."
* Eum..terimakasih Devan."
" Ya sudah jam 7 malam kita jalan ya!"
__ADS_1
Viona mengangguk.
" Iya Devan."
Devan sedang menunggu Viona, tak lama suara pintu terdengar Devan yang terbuka dan di tutup kembali dari kamar Viona. membuat Devan langsung menoleh pada Viona. Sedangkan Viona matanya sudah melihat Devan berdiri sedang menunggunya. Tatapan Devan pada Viona seperti terhipnotis melihat wanita yang sudah mengisi relung hatinya, terkagum kagum.
Pakaian yang di belinya itu membentuk siluet tubuh Viona, Devan langsung tersenyum. Pakaian yang sudah beberapa kali di beli olehnya untuk Viona selalu pantas saja di tubuh Viona.
" Kau cocok cocok saja memakai gaun, untuk itu kenapa aku senang membelinya untuk mu."
" Iya Devan pilihan mu tidak pernah meleset."
Devan pun tertawa dan mengangguk.
" Ok kita jalan ya!"
" Iya Devan."
Sambil melangkah keluar menuju mobil Devan, tangan Devan langsung melingkar di pinggang Viona. Dan lagi lagi ia kembali terngiang dengan ucapan Enzio, membuat dada Viona gelisah setiap ucapan dan tuduhan Enzio membuat dirinya tidak tenang. Seakan akan sosok Enzio selalu hadir di saat bersama dengan Devan. Perlakuan Devan selama ini memang selalu lembut dan manis pada dirinya semenjak Devan sudah kembali dari luar negeri. Beda dengan perlakuan Enzio yang selalu memaksa sikapnya kadang lembut tapi juga sangat arogan.
Sampai di mobil Devan membukakan pintu untuk Viona kemudian Devan masuk dan duduk dan langsung menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
" Kau ingin mengajak ku kemana Devan?"
" Aku ingin mengajak mu makan malam, Viona."