
Enzio sudah memakai baju tidur nya, selama Viona membantu Enzio berpakaian Enzio tidak keluar satu kata pun dari mulutnya. Viona merasa bersalah karena sudah lancang dikamar pribadi Enzio.
" Tinggalkan saya!"
" Tuan tidak ingin makan malam dulu?"
" Kau masih saja bertanya Viona" Enzio mulai geram. "Kau memang tidak bisa di katakan cukup satu kali saja..kau memang tuli, Viona! TINGGALKAN SAYA DAN CEPAT KAU KELUAR DARI KAMAR KU!"
" Ba- baik Tuan." Viona mengganguk.
Viona kembali mendapat bentakan dari Enzio, Viona langsung meninggalkan kamar Enzio dan kembali ke kamar nya.
BHUMM..
Sampai di kamar itu Viona mendengar debuman keras suara pintu dari asal kamar Enzio, Enzio menutup pintu dengan kencang .
" Ada apa dengan dirinya? kenapa Tuan Enzio sangat temperamen."
Viona terduduk lemas di sisi ranjang, dirinya sebenarnya sudah tidak sanggup Entah sampai kapan ia harus bertahan merawat Enzio?.
Hingga pukul 12 malam, Viona yang sedang tidur terbangun kerena mendengar suara dering telepon. Ia segera mengangkat gagang telepon itu.
" Halo Tuan.. iya baik lah!"
Viona segera menuju kamar Enzio, sampai di kamar Viona tidak mendapati Enzio di dalam kamar, lalu ia mencari Enzio di ruang kerjanya.
" Tuan." Viona menatap Enzio dengan kursi rodanya berada di meja mini bar, nampak gelas seloki di tangan kiri dan botol minuman digenggam di tangan kanan.
" Tuan Enzio sedang minum." ucap Viona dalam hati.
Viona bergegas menghampiri Enzio, Viona mengkhawatirkan pasiennya bila terlalu banyak minum dan mabuk sulit untuk Viona memapah tubuh Enzio. Viona akan mencegah pasien nya untuk jangan terlalu banyak minum.
" Tuan, apa yang Tuan lakukan?" Viona melangkah menghampiri Enzio.
" Temani saya minum, Viona." Enzio mengambil seloki yang masih kosong lalu di sodorkan ke Viona.
" Maaf Tuan saya tidak minum?"
" Sedikit saja!"
Viona menggeleng ia menolak seloki yang di berikan Enzio lalu Viona letakkan seloki itu di meja bar.
" Tidak Tuan!"
" Kenapa?"
" Karena saya memang tidak minum, Tuan."
__ADS_1
Enzio mengangguk.
" Tuan cukup minum nya, saya tidak mau Tuan mabuk."
" Kau mengkhawatirkan ku, Viona?"
" Ya..tentu Tuan, kalau Tuan mabuk saya akan kesulitan Tuan, apalagi Tuan..belum bisa berdiri menumpu badan Tuan, Tuan belum sembuh."
Enzio menatap wajah Viona,
"Memang nya kalau tidak mabuk akan cepat sembuh kaki saya, Viona?..ayo minum! temani saya."
" Tidak Tuan terima kasih!"
" Kau memang keras kepala Viona."
" Tuan sebaiknya istirahat, ini sudah jam 12 malam..mari Tuan saya antar ke kamar Tuan."
" Tidak Viona! saya masih mau tetap di sini dan menikmati minuman ini Viona..ini sangat nikmat Viona, kau tidak ingin mencoba nya Viona?"
" Tidak Tuan."
" Baiklah biar saya minum sendiri." Enzio meneguk minuman di seloki.
Enzio menuang kembali minuman di seloki yang sudah kosong itu lalu di teguk nya.
" Akkhhh.." Enzio mengecap minuman itu.
" Tuan cukup!" Viona mengambil seloki dari tangan Enzio.
" Heh..perawat lancang beraninya kau."
" Maaf Tuan..Tuan saya larang minum lagi, Tuan mulai mabuk."
" Aku belum mabuk, Viona..kemarikan gelas itu!"
" Tidak Tuan, cukup!"
" Perawat dungu..kau hanya ku minta temani minum bukan untuk melarang ku."
" Tapi Tuan..."
PRANKK
Viona kaget Enzio melempar botol itu.
" Kau tuli Viona, aku belum mabuk jangan kau larang aku sudah muak dengan segala larangan mu."
__ADS_1
" Tapi Tuan..ini untuk kesembuhan Tuan."
" Kau berani mengatur ku Viona..KAU PERAWAT DUNGU TULI! sekarang berikan gelas itu padaku..CEPAT!"
" Tidak Tuan..karena sudah tugas saya Tuan."
" Hem..PERSETAN KAU VIONA."
Viona memejamkan mata dengan bentakan Enzio, Viona sudah sesak di dada nya, harus bagaimana ia menghadapi Enzio sudah banyak makian dan kemarahan Enzio untuk dirinya.
" Terserah Tuan..Tuan melampiaskan kemarahan Tuan pada saya? apa masalah Tuan?" Viona menangis. " Sebaiknya saya kembali ke kamar saya Tuan."
Viona melangkah hendak meninggalkan Enzio namun di tahan Enzio.
" Kau berani meninggalkan saya Viona."
Viona terhenti langkahnya tangannya mengusap airmatanya di pipi nya.
" Kemarilah sayang."
Viona sudah gelisah apa lagi yang akan di lakukan Enzio terhadapnya. Viona menggeleng.
" Tidak mau Tuan." mata Viona tidak mau melihat Enzio.
" Kemari kata ku!'
Viona tetap tidak mau menghampiri Enzio.
" Baik..kalau kau tidak mau, biar aku yang menghampiri mu."
Viona menatap Enzio apa maksudnya dengan perkataan nya, Mata Viona mulai terbelalak rupanya Enzio ingin berdiri menumpu tubuh nya dan ingin melangkah Viona bergegas mencegahnya.
" TUAN.." jangan!"
Viona sudah takut melihat Enzio berdiri ia khawatir operasi pada kedua kaki nya akan kembali patah. Viona langsung mendudukan tubuh Enzio di kursi roda.
" Rupanya kau masih peduli sayang."
" Bukan begitu Tuan."
" Apa? kenapa kau tidak membiarkan saya melangkah menghampiri mu, heum?"
" Tuan belum sembuh, itu saja." Viona terisak.
" Kau masih peduli?"
" Iya..aku peduli Tuan." Viona mengangguk angguk.
__ADS_1
" Terimakasih sayang."
Viona yang masih membungkuk memegang kedua kaki Enzio, lalu tangan Enzio menangkup kedua pipi Viona, Enzio menghapus air mata Viona. Enzio tersenyum pada Viona, Enzio memajukan wajah nya ingin mengecup bibir Viona, kedua tangan Enzio memegang leher Viona menarik wajah Viona bibir Enzio mulai memagut bibir Viona, Viona hanya mendiamkan Enzio mengecup bibir nya.