Merawat Tuan Arrogan

Merawat Tuan Arrogan
Benar Kata Viona


__ADS_3

Pukul 1 malam hari di ruangan itu, Enzio duduk termenung memikirkan gadisnya.Ia terbangun karena mendengar suara sepatu langkah kaki Caroline yang baru pulang entah dari mana, Enzio sendiri tidak tahu. Istrinya sudah beberapa kali ingin bicara padanya namun dirinya kekeh tak mau memberi celah pada Caroline.


Baginya sekarang ini Enzio sangat mendambakan Viona untuk berada di samping nya. Sering kali Viona selalu menemani dirinya di tengah malam karena memang Enzio yang meminta Viona walau hanya sekedar bicara atau meneman Enzio bekerja. Sudah 3 malam ini Enzio sendirian baik di rumah dan kantor nya.


Satu Minggu sudah Enzio hanya di bantu oleh orang suruhannya pengganti Viona, Enzio memang sudah terlihat kuat pada kedua kaki nya. Ia belum sempat merontgen kedua kaki nya di rumah sakit karena sangat sibuk dengan pekerjaan nya. Ia sudah membuat jadwal untuk bertemu Dr. Smith dan sekaligus ingin bertemu dengan Viona.


Siang itu di kantor Enzio, Caroline menemui Enzio. Enzio sedang berdiskusi dengan Erick juga Sam.


" Zio."


Caroline masuk langkahnya langsung duduk di sofa, Enzio yang sedang bicara dengan Erick dan Sam melihat Caroline masuk tanpa mengetuk pintu nampak terlihat Enzio tidak suka kedatangan Caroline di kantor nya.


" Apa kau tidak punya sopan santun masuk ke kantor ku tanpa mengetuk pintu dahulu, Caroline?" Enzio langsung berdiri.


" Euh..? apa aku harus ijin dahulu masuk ke ruangan suami ku sendiri?"


" Ada urusan apa kau datang kesini Carol?"


" Aku hanya ingin menemani mu saja, apa tidak boleh menemani suami ku bekerja..aku jenuh di rumah, Zio."

__ADS_1


Sedikit dengan perdebatan Enzio dengan istrinya membuat Sam dan Erick undur diri dari ruangan itu.


" Tuan Zio, kami undur diri dulu."


Enzio mengangguk. Setelah Erick dan Sam keluar Enzio menelpon petugas keamanan.


Meminta untuk mengusir Caroline. Tak lama dua petugas keamanan datang dan masuk ke ruangan Enzio, Enzio memerintahkan dengan gerakan jarinya untuk membawa Caroline keluar, Caroline sedang asik melihat majalah tangannya membulak balikan halaman terhenti melihat kedatangan dua orang petugas keamanan yang menghampirinya.


Caroline wajah nya langsung menatap heran pada dua orang petugas keamanan.


" Ada apa ini?"


" Maaf Nyonya anda di minta untuk keluar."


" Tuan Enzio meminta untuk membawa anda keluar dari ruangan ini."


" Apa..?" Caroline matanya melihat pada dua orang petugas itu lalu matanya menoleh pada Enzio.


" Zio..kenapa kau perlakukan aku seperti ini?"

__ADS_1


Enzio hanya diam pandangan nya hanya lurus tanpa melihat istrinya.


" Maaf Nyonya..mari ikut kami!"


" Huh..kau benar benar sudah berubah Zio."


" Cepat bawa wanita itu keluar dari ruangan saya, dan pastikan wanita itu tidak menginjak lagi di gedung ini!"


Mendengar ucapan Enzio yang lantang Caroline sangat tidak parcaya, suami nya sudah sangat berubah ada kebencian di mata Enzio pada Caroline. Caroline terisak.


" Zio..aku tidak bisa terima ini." Caroline menggelengkan kepala dadanya terasa sangat sesak menahan sakit.


BRAAKK


Caroline meletakkan majalah itu di meja dengan kasar.


" Baik aku keluar."


Caroline melangkah dengan tergesa gesa keluar dari ruangan Enzio sambil menyampirkan tali tasnya dibahu.

__ADS_1


Setelah Caroline keluar Enzio langsung menarik nafas dalam dalam dan di hembus nya. Enzio masih terdiam namun ia membuat senyuman iblis.


" Jangan salahkan aku Caroline, karena kau pengkhianat..benar kata Viona tak usah memikirkan hal yang tidak penting. Kau tidak penting lagi bagi ku Carol."


__ADS_2