
Mobil Enzio sudah melaju dengan kecepatan sedang, Enzio sesekali menoleh pada Viona, sambil fokus menyetir. Melihat tangan Viona yang di letakan di atas paha. Enzio ingin menggenggam tangan Viona.
" Mana tangan mu?"
" Iya Tuan."
" Aku ingin menggenggam tangan mu."
" Euh..iya Tuan."
Viona lalu menjulurkan tangan kirinya dengan malu malu, Enzio langsung menggenggam tangan Viona. Enzio menciumi punggung dan telapak tangan Viona sambil pandangan nya kedepan namun ia juga merasakan telapak tangan Viona dingin.
" Kau masih gugup rupanya, tangan mu terasa dingin.." Ucap nya sambil menoleh pada Viona.
Viona menunduk malu, Selama Enzio mengemudikan mobil, tangan Viona selalu di genggamnya.
" Kenapa kau diam saja?"
" Eum..sa- saya..mau cerita apa Tuan?"
Enzio tersenyum gadis nya masih saja canggung dengan nya.
" Kau masih canggung saja dengan ku."
" Iya Tuan..saya tidak tahu, hanya sama Tuan saja." Ucap Viona polos.
" Euh..memang nya kalau kau jalan dengan yang lain tidak gugup, hanya pada ku saja, Viona?"
" Iya Tuan."
" Ow..ok, lalu dengan siapa kau tidak gugup selain jalan dengan ku?" Enzio penasaran.
" Eugh?"
" Viona."
Viona mulai resah karena keceplosan bicara hingga membuat Enzio menelisik ucapan Viona.
" Viona."
__ADS_1
" Tidak dengan siapa sia-"
" Jangan bohong."
" Eum.." Viona mulai kesulitan menelan Saliva nya.
" Viona."
Enzio langsung menepikan mobil untuk berhenti. Ia masih penasaran dengan pengakuan Viona. Ia hanya ingin tahu dengan siapa Viona pernah jalan selain dengan dirinya.
" Aku belum lanjutkan perjalanan sebelum kau beritahu ku, Viona. Dengan siapa?"
" Devan." ucap Viona.
" Devan?"
Viona mengangguk kecil. Enzio sudah menebaknya.
" Sudah berapa kali kau di ajak jalan dengan nya?"
" Eum.." Viona garuk kepala sesaat.
" Mungkin 4 atau 5 kali Tuan..saya sudah lupa."
Enzio mengangguk dalam pikiran nya, benar kata Nicholas Devan rupanya sudah tertarik dengan gadisnya.
" Baiklah..untuk itu kau jangan lagi gugup dengan ku kita akan sering sering jalan."
Enzio kembali putar balik mobil nya ia berubah pikiran.
" Tuan kita kemana, kenapa putar balik?"
Enzio diam sorot mata nya mulai dingin. Viona mulai gelisah.
Enzio membawa Viona ke mansion nya.
" Tuan..kenapa kerumah Tuan?"
Enzio tetap diam, ia langsung membuka pintu mobil, lalu turun.
__ADS_1
" Ayo turun!"
Viona menggeleng.
" Tidak Tuan."
" Ayo Viona!"
Viona akhirnya turun, Enzio langsung menarik tangan Viona dan dibawa nya Viona sampai ke kamar Enzio. Viona dada nya mulai berdegup kencang.
" Tu- tuan, Tuan mau apa?"
Tanpa menjawab, Enzio langsung memeluk tubuh Viona dan mencium bibir Viona, tubuh Viona langsung di dorong hingga terlentang di ranjang tempat tidur. Enzio dengan cepat menindih tubuh Viona lalu mengungkung Viona.
" Devan sudah mencium mu?"
Viona menggeleng, ia sudah takut dengan tatapan Enzio. Nafas Viona mulai tidak teratur dada nya naik turun.
" Devan sudah merangkul pinggang mu, Viona.. itu tanda nya kau pun sudah terbiasa dengan perlakuan Devan."
" Ta- tapi.."
" Tapi apa?"
Viona menggeleng, Enzio menatap nanar Viona bola matanya bergerak menelusuri mata hidung bibir Viona.
" Kau sudah di peluk nya bukan?"
" Ti- tidak Tuan."
" Devan sudah sering mengajak kau jalan, itu artinya kau sudah menerima banyak pemberian dari nya."
Viona diam, memang Devan selalu membelikan apapun, walau ia tidak minta bahkan Viona suka menolak selama dirinya di ajak dengan Devan.
" Kau murahan juga, Viona. Kau Pengkhianat!"
" Sudah cukup Tuan, jangan tuduh saya sembarangan..saya bukan seperti itu."
" Ohh..aku ingin buktikan, sayang."
__ADS_1