Merawat Tuan Arrogan

Merawat Tuan Arrogan
Viona Lancang


__ADS_3

Viona saking asiknya membaca buku lupa dengan waktu yang dia batasi untuk Enzio, dirinya baru menyadari lalu menutup bukunya di lihat jam yang melingkar sudah hampir setengah 11 siang.


" Tuan, ayo kembali masuk." Viona berdiri dari kursi taman.


" Kau membiarkan kulit saya terbakar?'


" Eugh?.. maaf Tuan saya keasyikan baca buku." Viona tersenyum kaku.


" Huh." Enzio mendengus.


Enzio pura pura mendengus kesal padahal tadi dia memang sengaja membiarkan Viona asyik membaca bukunya, karena sedang memandangi Viona.


" Ayo masuk!" perintah Enzio.


Viona lalu kedua tangan nya mendorong kursi roda Enzio. Sampai di kamar inap baju Enzio di ganti oleh Viona karena sudah sangat basah keringat.


Viona memanggil satu orang petugas untuk membantu Enzio memindahkan Enzio dari kursi roda ke ranjang tidur pasien Enzio, Enzio memang belum bisa bertumpu pada kedua kakinya. Ini yang membuat Enzio kesal sampai kapan ia bisa berdiri dengan kaki nya sendiri. Enzio menghela nafas kesal nya. Ia sendiri sudah merasa bosan dengan kondisi tubuh nya, namun ia ingat saran Dr.Smith jangan gunakan kedua kaki nya dulu untuk bertumpu.


Hari ke 10.

__ADS_1


Viona akan membawa Enzio ke ruangan khusus fisioterapi agar proses penyembuhan patah tulang kaki Enzio cepat pulih. Enzio sedang di lakukan pijatan pijatan pada otot kaki agar peredaran darahnya lancar. Pijatan sangat membantu proses penyembuhan tulang.


Hingga malam hari, Viona terjaga dari tidur nya ia bangun dari sofa pukul 1 malam, Viona tidak sengaja matanya melihat pasien nya Enzio belum tertidur. Rupanya Enzio masih berkutat pada layar laptopnya, nampak terlihat serius Enzio dengan kacamata bacanya.


" Tuan Enzio belum tidur juga, hufft.." gumam Viona pelan.


Viona kemudian tangan nya meraih baju lapisan luar busana tidurnya rambutnya yang panjang tergerai sampai bawah bahu. lalu kedua kaki nya memakai sandal kepala kelinci. Viona ingin menghampiri Enzio untuk menegurnya sambil melangkah tangan nya mengikat tali lapisan luar busana tidurnya. Viona langkahnya berhenti berdiri tepat dekat ranjang Enzio yang masih menatap serius pada layar laptop nya.


" Ehemm.." Viona berdehem sambil melipat kedua tangan nya didada.


" Tuan..ini sudah jam 1 malam, kenapa Tuan masih bekerja?"


" Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya, Viona."


" Tuan tidak bisa menunggu esok hari?"


" Heh..perawat dungu, kau tahu apa dengan pekerjaan ku ini?"


" Tuan saya mengerti, tapi saya melarang Tuan untuk bekerja sampai larut malam."

__ADS_1


" Kau jangan mengatur ku, Viona."


" Tapi saya sedang merawat Tuan 24 jam."


" Tapi saat ini kau sedang tidak memakai seragam perawat mu, Viona! kau sedang tidak bertugas, bukan?"


Viona sudah kesal dengan Enzio yang keras kepala. lalu tangan Viona ingin mengambil paksa laptop Enzio agar pasiennya bisa beristirahat Viona langsung menutup layar laptop itu, namun saat tangan nya memegang laptop Enzio di tahan oleh Enzio, Enzio langsung memegang laptop nya erat lalu ia menarik laptop dari tangan Viona yang juga sama sama memegang laptop Enzio erat malah membuat tubuh Viona ikut ketarik dan tersungkur di kedua paha Enzio. Kesempatan Enzio ingin memeluk tubuh Viona, sambil tangan kirinya meletakan laptop nya di sisi ranjang lalu dengan cepat meraih tubuh Viona sebelum Viona bangun untuk berdiri.


" Tuan lepasin!"


Kedua tangan Enzio menahan tubuh Viona yang membungkuk agar Viona tidak dapat berdiri tegak.


" Kau semakin hari semakin lancang Viona."


Viona wajah nya masih menghadap pada ranjang Enzio, posisi seperti ini terkunci membuat tubuh Viona tidak bisa melepaskan dirinya.


" Tuan lepaskan saya." Wajah Viona mendongak berusaha menoleh kebelakang pada wajah Enzio .


Enzio semakin sengaja menekan kebawah tubuh Viona dengan kedua tangannya, Viona sudah sakit di bagian paha dan belakang lutut nya. Posisi nya seperti Enzio ingin memukul pantat Viona yang bulat.

__ADS_1


" Kau menganggu pekerjaan ku Viona..." telapak tangan nya sambil mengusap punggung sampai pinggang Viona.


__ADS_2