
Waktu berlalu.
Enzio baru kembali dari kantornya pukul 5 sore bersama Viona. Enzio langkah kaki sudah jejak walaupun masih menggunakan tongkat namun selama Dr. Smith belum memutuskan Enzio untuk melepaskan tongkat nya Enzio masih mengikuti anjuran Dokter.
Mereka turun dari mobil namun di halaman mansion Enzio ada sebuah mobil sedan terparkir Enzio belum tahu siapa pemilik mobil itu. Enzio menautkan kedua alisnya.
" Apa aku sedang kedatangan tamu?" dalam pikirannya.
Sampai di dalam, seorang pelayan menghampiri Tuannya.
" Tuan ada Nyonya didalam."
" Caroline?" Enzio menebak dalam hatinya.
" Sedang di mana?"
" Di atas Tuan, Nyonya sedang menunggu Tuan."
Enzio hanya mengangguk, lalu ia bicara pada Viona.
" Viona."
" Iya Tuan."
" Kita langsung ke kamar saja."
" Baik Tuan."
Viona dan Enzio langsung naik lift, sampai di lantai atas, benar saja Caroline sudah berada di ruang kamar Enzio.
Caroline merasa belum Enzio menanda tangani surat cerai itu, Caroline merasa masih berstatus istrinya. Caroline membalikan tubuh nya ketika Enzio sudah di dalam kamar untuk menemui nya, mata nya seolah tak percaya perawat itu sampai masuk ke dalam kamar yang masih suaminya itu.
" Zio, kau sudah datang."
Enzio membuang nafas kasar nya, ia memang belum menanda tangani surat cerai itu. Namun ini juga yang menjadi sandungan nya sendiri.
" Kenapa kau menunggu ku disini? kenapa bukan di bawah saja."
Dengan pertanyaan Enzio, membuat Caroline matanya melirik pada Viona.
__ADS_1
" Sebenarnya Nyonya di rumah ini siapa?"
Viona merasa kikuk dengan keberadaan nya di kamar Enzio apalagi kedatangan istri Tuannya.
" Siapa nama mu?" Caroline bertanya pada Viona.
" Saya Viona Nyonya."
" Bisa kau tinggalkan kami berdua Viona, saya ingin bicara dengan suami saya."
Viona mengangguk, namun Viona sempat melirik pada Enzio saat melangkah meninggalkan kamar Enzio, tapi yang di lirik nya Enzio malah menatap Caroline.
Viona setelah keluar dari kamar Enzio langsung menuju ke kamarnya.
" Zio..kenapa kau sampai saat ini kau belum menanda tangani surat cerai itu?"
" Apa yang kau renacanakan, Zio?"
Enzio masih diam.
" Aku telah meninggalkan mu, aku telah menyakiti mu, Zio..apa yang memberatkan mu? apa kau belum mau menceraikan ku?"
" Jawab Zio..?"
Enzio belum menjawab.
" Baik..kau tidak bisa menjawab nya, aku ambil keputusan...aku kembali kerumah ini dan kembali pada mu."
,
,
,
,
Deg.
😍😍😍😍
__ADS_1
Mendengar keputusan Caroline, Enzio memikirkan bagaimana dengan Viona. Dirinya sudah mencintai Viona.
" Caroline..untuk apa kembali kerumah ini dan kembali pada ku?"
" Itu karena kau belum bisa melepas ku, Zio."
" Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Caroline."
" Aku tahu kau masih mencintai ku, Zio."
" Aku akan menceraikan mu sampai aku sembuh, kau sabar saja Carol."
" Kalau begitu aku tinggal di rumah ini Sampai kau sembuh dan kembali pada Nicholas."
Enzio mengangguk.
" Kau boleh tinggal di rumah ini, tapi tidak di kamar ini..selangkah pun tidak ku ijinkan kau masuk di kamar ku."
,
,
,
,
Deg.
Caroline merasa kenapa permintaan Enzio membuat diri nya sakit, apa dia benar benar sudah membenci dirinya.
Esok pagi nya, Enzio membutuhkan Viona untuk masuk ke kamar nya, ia menelpon Viona namun telpon di nakas ranjang Viona tidak sama sekali di angkat Viona.
" Kemana Viona, kenapa lama sekali tidak di jawab?"
Akirnya Enzio mencari Viona, namun saat Enzio ingin menemui Viona di kamar nya, pelayan datang menemui Tuannya.
" Selamat pagi Tuan, Tuan mencari Viona?"
" Iya saya ada rapat pagi ini, kenapa dia belum masuk ke kamar saya?"
__ADS_1
Baru saja pelayan rumah itu ingin menjelaskan pada Tuannya kemana Viona, Caroline menghampiri Enzio. Pelayan itu langsung undur diri.