
Enzio sudah datang kembali kerumah sakit dengan membawa bouquet bunga mawar untuk Viona, ia akan menemui Viona sekaligus menemani Viona sampai pagi. Enzio melangkah kan kakinya agak cepat karena dirinya sudah tidak sabar ingin cepat cepat sampai ke kamar inap Viona.
TOK TOK
Enzio mengetuk pintu dahulu lalu membuka pintu kamar matanya tertuju pada Viona yang sedang duduk di ranjang tempat tidur sambil di temani oleh Dr. Josh Dr. Luis dan Zuster Mia. Mereka sedang berbincang bincang, tapi mata Enzio tetap tidak suka melihat keberadaan Josh yang berdiri tepat di sisi dekat ranjang Viona. Josh merasa tatapan Enzio sangat dingin pada diri Josh, Josh hanya tersenyum calon Viona itu cemburu pada diri Josh.
Perbincangan mereka terhenti karena kedatangan calon suami Viona. Enzio memang tidak banyak bicara pada orang orang yang tidak terlalu dekat dengan nya ia hanya banyak bicara dan bertanya cukup pada Dokter Smith saja. Wajah dingin dan angkuh itu bila tidak mengenal dirinya dianggap sombong. Bagi dirinya orang yang tidak berhubungan dengan nya tidak lah penting untuknya.
Namun dengan kedatangan Enzio, Josh berniat menyapa Enzio.
" Apa kabar Enzio?"
" Baik." singkat saja jawabannya tanpa menatap pada Josh. Matanya hanya melihat Viona.
Luis dan Mia hanya menahan senyum melihat Josh dan Enzio seperti sedang perang dingin.
Lalu Luis memberi kode pada Josh untuk keluar dari kamar inap Viona. Josh mengangguk.
Mia Luis dan Josh undur diri dan pamit pada Viona.
" Viona kita mau lanjutkan tugas dulu ya."
" Iya Mia."
__ADS_1
" Kami permisi dulu Tuan Enzio." lanjut Luis.
Enzio hanya mengangguk matanya tetap tidak menoleh pada mereka hanya melihat Viona saja. Ketiga nya langsung keluar.
Di luar kamar mereka mengucap serapah pada sosok Enzio yang sangat terlihat arogan dan angkuh.
" Sangat sombong..menyesal aku menyapa nya." ucap Josh.
" Aku juga tidak tahu..tapi Viona bisa menahlukkan Enzio yang angkuh dan dingin itu." balas Mia.
" Untung saja dia ganteng." lanjut Luis.
Ketiga nya melangkah sambil terkekeh.
Didalam kamar inap Enzio memberi bouquet bunga pada Viona.
Viona yang menanggapinya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu menerima bunga itu hidungnya menciumi harum bunga itu.
" Terimakasih Zio sayang."
" Sehari saja tidak bertemu..aku sangat rindu berat pada mu, Viona."
Viona mendengar nya merasa Enzio sedang ngegombal. Viona lalu menatap wajah Enzio.
__ADS_1
" Ada apa, kenapa menatap ku?"
" Kau sedang ngegombal?"
Enzio tersenyum lalu bokong nya di turunkan ia duduk di ranjang Viona badan nya menghadap Viona.
" Aku tidak tahu tahu caranya ngegombal sayang..aku hanya bisa merayu mu saat kau mau bercinta dengan ku." sambil menatap Viona.
Viona tersenyum Enzio memang pintar bicara.
" Sama saja." balas Viona.
" Kapan penyangga leher ini boleh di lepas?" ucap Enzio.
" Dokter yang memutuskan..aku pun sudah tidak betah rasanya."
" Aku ingin mencium leher mu sayang."
Viona tidak tahu lagi setiap dekat dengan Enzio membuat diri nya bisa pasrah di pelukannya.
" Zio..apa memang seperti ini laki laki kalau bicara dengan wanita nya selalu mesum?"
Enzio tertawa lebar Viona memang hanya kontak fisik dengan diri nya saja.
__ADS_1
" Aku bicara pada laki laki tentang bisnis saja, tapi kalau bicara dengan wanita ku ini, yang di hadapan ku ini selalu membuat ku bergairah."
Viona mengangguk, lalu tangan kanannya membelai pipi Enzio. Enzio menyambut belaian tangan Viona ia menggenggam dan mengecupnya.