
Selama Devan di rumah, Viona semakin dekat dengan Devan. Viona sudah beberapa kali ini bila di saat liburnya Devan mengajak jalan Viona. Namun kedekatan mereka tidak lebih hanya sebatas teman saja.
Devan dan Nyonya Elsa baru saja tiba dari butiq, Devan sengaja membelikan sebuah gaun untuk Viona karena Devan ingin Viona ikut bersama menghadiri undangan makan malam bersama relasi dari keluarga Alexander.
" Viona kau pakai gaun ini, nanti malam kau ikut kami."
" Kemana Devan?"
" Undangan makan malam bersama relasi dari Daddy ku."
" Baiklah Devan."
" Semoga cocok gaun ini kau pakai nanti."
" Terimakasih Devan."
Malam ini keluarga Alexander sudah siap untuk berangkat menghadiri undangan makan malam di sebuah restoran. Relasi dari keluarga Alexander tentunya mengundang beberapa relasi lainnya, termasuk Enzio.
Viona pun sudah memakai gaun yang di belikan oleh Devan, sangat pas sekali gaun pilihan Devan. Gaun itu sangat membentuk lekuk tubuh Viona, wajah nya juga sudah di rias dengan make up flawless kini nampak semakin tegas kecantikan Viona.
Sebelum nya Viona masuk kedalam kamar Tuan Alexander tentu nya membantu pasien nya dulu bersama Nyonya Elsa untuk duduk di kursi roda.
Devan sudah menunggu Ayah dan Ibunya juga Viona di bawah, Devan sendiri mengunakan jas suit double breast dengan dasi tuxedo sangat pas di tubuh liatnya. Saat mereka sudah sampai di bawah turun dari lift, tatapan Devan langsung terpaku pada penampilan Viona, Devan tersenyum ia sangat kagum pada perawat Ayah nya yang cantik dan anggun.
" Wow..kau sungguh cantik, Viona."
Viona tersenyum, dengan kekaguman Devan pada nya.
" Terimakasih Devan, pilihan mu sangat bagus dengan gaun yang kau pilihkan untukku, kau bisa tahu ukuran gaun ini."
__ADS_1
" Aku hanya mengira ngira saja, Viona." balas Devan.
" Devan Ayo kita berangkat!"
" Iya Mom."
Sampailah kini keluarga Alexander di sebuah restoran, Devan yang mendorong kursi roda Ayah nya sedang kan Viona disebelah kanan Devan. Nyonya Elsa berada di samping kursi roda Alexander mereka melangkah sudah memasuki restoran itu, Viona entah tiba tiba saja hati nya gelisah seperti akan ada sesuatu yang akan di hadapinya.
Di meja jamuan itu sudah hadir oleh beberapa relasi, ada Enzio bersama Erick. Mereka sedang berbincang bincang dengan para relasi lainnya di sebelah kanan kiri mereka.
Keluarga Alexander sudah tiba dimeja panjang jamuan itu.
" Selamat malam semua." Sapa Alexander.
Seketika tatapan mereka langsung menoleh pada keluarga Alexander, begitupun juga Enzio langsung menatap pada Viona.
Sedangkan Viona yang tidak tahu kalau ada Enzio ikut hadir pada jamuan makan malam di meja itu. Seketika dada Viona langsung berdegup kencang ia kaget bola matanya menangkap Enzio yang saat itu juga sedang menatapnya
" Tuan Enzio, dia ada disini juga?" ucap Viona dalam hati.
Viona gugup ia langsung memutuskan tatapan dingin Enzio, wajah nya berpaling ke lain arah ia tidak mau melihat Enzio, Viona tahu Enzio masih terus menatapi nya. Namun Viona sebisa mungkin memasang wajah biasa saja, Ia harus tetap tenang.
Devan yang melihat Enzio langsung mendekat pada Enzio sambil menggandeng Viona untuk menyapa Enzio dan bersalaman dengan Enzio. Enzio langsung berdiri untuk bersalaman dengan Devan juga Viona.
" Halo Zio apa kabar?"
" Baik Devan, kebetulan kita bertemu di sini."
Kemudian mata nya beralih pada Viona.
__ADS_1
" Apa kabar Viona?" Enzio mengulurkan tangan untuk salaman pada Viona
" Baik." balas Viona singkat.
Tangan Viona menerima salaman dengan Enzio, Enzio masih menatap Viona, Enzio merasakan telapak tangan Viona sangat dingin, Enzio masih memegang tangan Viona dan genggaman Enzio semakin di eratkan. Viona ingin melepaskan genggaman tangan Enzio.
" Maaf Tuan tolong lepaskan tangan saya." ucapnya pelan.
Enzio mengangguk lalu melepaskan genggaman tangan nya pada Viona.
Kemudian pelayan menarik kursi untuk mempersilahkan duduk Devan dan Viona,
Viona duduk tepat berhadapan dengan Enzio. lagi lagi Viona tak mau menatap Enzio karena Enzio masih terus menatapnya, pasien yang pernah di rawat nya ini memang tidak berubah selalu menatap sampai membuat Viona jengkel.
Makan malam mereka sangat tenang, hanya Viona yang nampak tidak tenang, Viona dan Enzio tidak bicara. Viona hanya sesekali bicara pada Devan yang mengajak Viona bicara.
Enzio terus di abaikan oleh Viona, Enzio sangat geram pada Viona, tidak tahukah gadisnya itu kalau dirinya sangat merindukannya? Enzio sudah menemukan Viona kembali, rupanya Viona selama ini bertugas merawat Ayah Devan. Enzio akan menahan Viona setelah ini.
Lalu Enzio memanggil pelayan ia meminta air botol mineral, tak lama pelayan memberikan sebotol air mineral untuk Enzio. Enzio sudah meminum air itu setengah.
Enzio tidak mau Viona terus mengabaikan dirinya, apalagi di tambah Enzio sudah sangat cemburu pada temannya, Devan, yang sudah menggandeng tangan Viona. Enzio akan melempar Viona dengan botol air mineral dari kolong meja.
DHUKK
Lemparan botol mineral Enzio, kena tepat dengkul Viona, Viona kaget ketika sedang bicara dengan Devan kaki nya seperti terkena sebuah benda, Viona melihat ke bawah ada botol air mineral tepat di kaki nya, lalu langsung menoleh pada Enzio, Viona langsung cemberut pada Enzio, Viona melihat sorot mata Enzio sangat dingin.
" Tuan." ucap Viona pelan.
" Apa?" balas Enzio pelan.
__ADS_1