
Bagaimana Enzio tidak ingin marah pada Viona, ia menggangu pekerjaan yang bernilai milyaran itu. Enzio sedang bekerja keras saat Viona masih tertidur.
" Tuan tolong lepasin! saya sudah pegal."
Enzio makin menjadi tangan kanannya malah menyingkap gaun baju tidur Viona sampai pinggang. Nampak kini bulatan bokong Viona, Viona semakin histeris. Tak tanggung tanggung Enzio meremas bokong Viona dan menampar bokong Viona.
PAKK..
" Aghkk Tuan..." Viona terisak.
" Heum?"
" Aku mohon lepasin!"
" Itu hukuman, kau sudah berani menggangu bisnis ku, VIONA."
PAKK PAAKK
__ADS_1
Enzio semakin keras menampar bokong Viona
Ahhkkggh..ampun." Viona mendongak
" Kau berani padaku, Viona..kau kurang ajar rupanya untuk itu aku memukul bokong mu ini seperti yang biasa di lakukan seorang ibu terhadap anak nya, agar kau dengar ucapan ku...MENGERTI!"
" I- iya Tuan..." Viona mengangguk anggukan kepala.
Enzio melepaskan kedua tangannya, Viona berusaha berdiri dengan menumpu pada kedua tangan nya. Saat wajah nya tepat di hadapan wajah Enzio tangan Enzio menahan leher Viona, wajah Viona dia hadapkan ke wajah Enzio Viona memegang bahu kiri Enzio menahan tubuhnya. Tiba tiba tangan kanan Enzio membelai wajah Viona menyingkap rambut Viona yang menutupi wajah Viona. tangan kiri Enzio menahan bahu Viona.
Viona dan Enzio jadi saling menatap tangan kanan Enzio membelai wajah Viona lekat lekat. Viona seperti ketarik sengatan listrik dengan tatapan Enzio, Viona terdiam wajah Enzio menunduk mencium bibir Viona. Viona kembali matanya terpejam tangan kanan Viona memegang lengan Enzio erat erat. Jadi melonggar karena Viona sudah terbuai dengan ciuman Viona, Enzio tersenyum ia semakin memperdalam ciuman bibir nya para bibir Viona dan memagutnya lembut.
Viona kembali sadar, ia dengan keras melawan Enzio sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Enzio, Viona langsung berdiri dan bergegas menjauhi ranjang Enzio lalu kembali ke sofa itu.
Enzio tersenyum, kedua kali Enzio mencium bibir manis Viona. Enzio sudah paham Viona pagi harinya akan cemberut pada nya, Enzio akhirnya membaringkan tubuhnya dan mulai tertidur, ia akan menunda pekerjaan nya esok pagi.
Hari ke 11.
__ADS_1
Saat Enzio bangun matanya nya langsung mengedar mencari Viona, waktu menunjukan pukul 7 pagi. Ia melihat sarapan sudah tersedia untuk nya. Namun Enzio akan memakan sarapan nya menunggu Viona, Ia tidak berselera makan bila tidak Viona bersama nya.
Viona belum datang sudah 2 jam Enzio menunggu Viona, harusnya Viona menjaga 24 jam. Ia mulai kesal pada Viona karena menunggu Viona terlalu lama.
Jam 9 pagi Viona masuk, ia sudah memakai seragam perawatnya.
" Pagi Tuan.'
" Darimana saja kau, dungu?"
" Saya habis membantu perawat lain yang sedang menangani pasien korban kecelakaan Tuan.*
Enzio mendengar alasan Viona tidak jadi untuk memarahi Viona. Enzio mengangguk.
" Aku ingin sarapan, tolong kau suapi ."
" Tapi bukan kah seharusnya Tuan sudah bisa sarapan sendiri tanpa bantuan saya. Tuan."
__ADS_1