
" Tuan saya antar ke kamar Tuan ya!'
Enzio mengangguk, Enzio memang sudah mulai mabuk sampai di ranjang Enzio, Viona membantu pasiennya membaringkan tubuh Enzio pada ranjang tidur. Viona menyelimuti Enzio dan mematikan lampu kamar.
" Tidur lah di kamar ku!"
" Baik saya tidur sofa menjaga Tuan."
" Tidak di sofa..tidurlah bersama ku."
" Eugh?"
Apalagi ini? bathin Viona, Enzio meminta untuk tidur bersamanya.
" Aku tidak akan menyentuh mu, Viona!'
" Tidak Tuan..biar saya tidur sofa."
Viona ingin melangkah menuju sofa untuk tidur. lagi lagi Enzio menahannya.
" Tidur lah bersama ku, please!"
Viona semakin gelisah, dengan permintaan Enzio. Viona gugup terlihat oleh Enzio.
" Please Viona."
Tubuh Viona gemetar ia takut bila tidur bersama Enzio, Enzio akan berbuat macam macam.
" Aku janji tidak akan menyentuh mu."
Viona akhirnya tidak menolak ia memejam kan mata sesaat.
" Baiklah." Viona menjawab dengan kesulitan menelan Saliva nya
Viona mulai merebahkan tubuhnya di samping Enzio. ia menahan nafas dadanya degdegan. Setelah Viona terbaring. Lalu tangan Enzio tiba tiba langsung melingkar di pinggang Viona.
" Tuan."
" Sst..diamlah! aku tidak akan berbuat macam macam pada mu, aku hanya ingin memeluk mu sampai aku tertidur."
__ADS_1
Enzio mengeratkan pelukan nya ke tubuh Viona yang memunggungi Enzio.
" Tidurlah sayang, kau pun sudah lelah."
Viona mencoba memejamkan mata, Enzio memeluk Viona ada rasa ketenangan di hatinya, bagi Enzio Viona memang selalu membuat hati nya tenang saat Enzio demam tinggi sewaktu ia dirawat sentuhan punggung dan telapak tangan Viona menyentuh kening dan pipinya membuat diri nya tenang, suara lembut Viona selalu membantu dirinya untuk sembuh.
Enzio tertidur terdengar oleh Viona dengkuran halus Enzio, Viona pun mulai tertidur.
๐๐๐
Pukul 5 pagi Viona sudah bangun, ia merasakan tubuhnya terasa kaku dirinya tak dapat tidur dengan baik karena posisi tidur nya harus miring, Viona merasa pegal terutama pada pinggangnya yang di bebani tangan kekar Enzio. Tangan Viona mengangkat perlahan tangan kanan Enzio yang masih melingkar di pinggangnya, jangan sampai Enzio terbangun.
Setelah Viona terbebas dari pelukan tangan Enzio, Viona membersihkan dirinya mandi di kamar nya. Viona sudah memakai seragam perawat nya, ia akan mengantarkan sarapan untuk Tuan Enzio. Viona juga sudah memberikan menu makanan khusus Enzio makanan membantu proses kesembuhan tulangnya pada pelayan di rumah.
Setelah rapih, Viona membawa makanan sarapan untuk Enzio di kamar.
" Pagi Tuan."
" Hem.." Enzio mengangguk.
" Tuan ingin mandi?"
" Baik Tuan."
Viona sudah membantu Enzio berpakaian, Viona memasang dasi Enzio lalu memakaikan jas susudah itu Viona memberikan sarapan untuk Enzio.
" Suapi aku Viona."
Viona sudah jengah rasa nya, Enzio makin ngelunjak dan makin hari makin manja.
" Kau tidak mau menyuapi ku?"
" Baiklah Tuan."
Viona menurut daripada masih pagi pasiennya rusak mood nya lalu membentaknya. Viona mulai menyuapi makan Enzio tiap sendok nya Viona lap dengan tisu, Enzio hanya memainkam ponsel nya.
" Sudah Tuan sudah habis."
Enzio mengangguk saja.
__ADS_1
" Kapan jadwal ku fisioterapi Viona?"
" Besok Tuan jam 10."
Enzio mengangguk
" Saya menunggu sekrtaris saya."
" Baik Tuan."
TOK TOK
Viona bergegas membukakan pintu kamar Enzio.
" Selamat pagi Tuan, Tuan Erick sudah datang." ucap pelayan.
" Baik..Ayo Viona!"
Viona lalu mendorong kursi roda Enzio sampai lift, setelah lift membawa Enzio dan Viona ke lantai dasar pintu lift terbuka Viona kembali mendorong kursi roda Enzio nampak 2 orang kepercayaan Enzio telah menunggu Boss mereka.
" Selamat pagi Tuan Enzio."
" Pagi Erick Pagi Sam."
" Tuan sudah siap."
Enzio mengangguk, mereka sudah masuk dalam mobil mereka masing masing. Sekretaris Enzio beda mobil dengan Enzio, Enzio bersama Viona Erick dan Sam.
Dalam mobil Erick dan Sam bergosip๐
" Rick.. bagaimana menurut mu dengan perawat itu."
" Cantik namanya Viona."
" Sayang sekali..."
" Siapa yang mau maksud?"
" Caroline tentunya kenapa meninggalkan Zio?"
__ADS_1
" Hanya Tuhan dan Hantu yang tahu, Sam."